Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Jangka Panjang Dapat Sebabkan Kematian

Radar Digital • Sabtu, 27 Maret 2021 | 16:30 WIB
MEJA HIJAU: Suasana sidang putusan terdakwa Bima Waleed Hussain Enad, WNA asal Irak, di PN Jember, kemarin (25/1). Waleed diputus 1 tahun 3 bulan dalam kasus curas di lokasi Jalan Trunojoyo, akhir Agustus tahun lalu.
MEJA HIJAU: Suasana sidang putusan terdakwa Bima Waleed Hussain Enad, WNA asal Irak, di PN Jember, kemarin (25/1). Waleed diputus 1 tahun 3 bulan dalam kasus curas di lokasi Jalan Trunojoyo, akhir Agustus tahun lalu.
JEMBER, RADARJEMBER.ID – Fenomena manusia silver di Jember rupanya sudah mulai menyebar hingga di kecamatan pinggiran. Sebab, manusia silver bernama Yono, yang biasanya mangkal di lampu merah SMP Negeri 2 Jember, ternyata bukanlah satu-satunya. Di Kecamatan Mayang, keberadaan manusia silver dapat ditemui di pasar. Biasanya, mereka mulai mangkal dan mengais donasi dari pengunjung sejak pagi, sekitar pukul 07.00. Lantas, apakah penggunaan cat silver pada tubuh itu berbahaya bagi kesehatan?

Kepada Jawa Pos Radar Jember, Yono mengaku, sebelum menjadi manusia silver, dia mengecat seluruh tubuhnya dengan warna hijau dicampur dengan minyak tanah. Kala itu, tubuhnya menyerupai karakter Hulk. Namun, hal ini tidak bertahan lama. Sebab, Yono mengalami iritasi kulit berupa benjolan kecil berwarna merah di bagian tubuhnya. Selain itu, cat yang dipakainya juga sulit dibersihkan.

Ia pun berganti menggunakan cat silver. Bahan yang digunakan adalah cat untuk sablon yang kemudian dilumuri dengan minyak goreng. Menurutnya, dengan menggunakan bahan ini, cara menghapusnya lebih gampang. Iritasi kulit yang ditimbulkan dirasanya juga minim. “Ya, kalau gatal-gatal ada. Tapi, tidak seperti dulu waktu jadi Hulk,” ungkapnya.

Rupanya, pemakaian cat silver di tubuh seperti yang dipakai Yono dan pengamen lain, tetap membahayakan kesehatan. Bahkan, dalam jangka panjang, berpotensi merusak organ dalam hingga menimbulkan kematian.

Menurut dr Anselma Dyah Kartikahadi SpKK, selama bahan dari cat tersebut tidak menimbulkan bahaya, maka tidak akan memiliki dampak khusus pada penyakit kulit. “Namun kebanyakan, bahan- bahan seperti itu dicampur dengan bahan yang dapat menimbulkan penyakit kulit. Yaitu dermatitis kontak alergi dan dermatitis kontak iritan,” ungkapnya, Jumat (26/3).

Lebih lanjut, dermatitis kontak alergi dan dermatitis kontak iritan merupakan penyakit iritasi pada kulit. Umumnya, dermatitis kontak iritan memiliki gejala perih dan menyengat, serta gatal- gatal. Sementara, dermatitis kontak alergi dapat menyebabkan gatal dan menjadi sakit.

Selanjutnya, dokter spesialis penyakit kulit dan kelamin itu mengungkapkan, bahan-bahan yang digunakan menjadi perhatian khusus. Menurutnya, penggunaan minyak kelapa masih aman. Sebab, minyak kelapa merupakan salah satu bahan yang dikonsumsi. Karena itu, jika digunakan pada kulit, masih relatif aman. Kecuali, orang tersebut mengalami alergi pada minyak kelapa. “Permasalahannya, jika bahan-bahan tersebut digunakan untuk orang-orang yang alergi, maka itu yang tidak aman,” sambungnya.

Sementara itu, cat sablon yang digunakan menurutnya berbahaya untuk kesehatan kulit. Sebab, sejatinya cat sablon merupakan bahan yang tidak untuk dikonsumsi. Melainkan bahan-bahan untuk tahan panas. Maka, jika dioleskan dengan komposisi terlalu banyak, akan menyebabkan kulit terasa terbakar, hingga iritasi kulit yang menyebabkan kulit berwarna kemerahan. “Itu efeknya nanti bisa panjang jika tidak segera diobati dan mendapat perawatan,” jelas Dyah.

Alergi yang ditimbulkan, dia menambahkan, dapat dirasakan setelah enam bulan. Tidak secara langsung. Bahkan, dalam jangka panjang dapat mengancam organ dalam. “Bisa meninggal jika menyerang organ-organ penting. Kalau sampai komorbid (penyakit kronis sebelumnya, Red), justru dapat mempercepat penyakit itu. Semuanya harus dilakukan pemeriksaan dan diagnosis,” pungkasnya.

 

 

 

Jurnalis : Dian Cahyani
Fotografer : Dian Cahyani
Redaktur : Mahrus Sholih Editor : Radar Digital