Radar Jember - Dunia pertanian tidak sedang baik-baik saja.
Harga sejumlah komoditas pertanian mengalami penurunan tak wajar.
Khususnya tomat.
Per kilogramnya hanya dihargai seribu rupiah di tingkat petani.
Sementara di pasar harganya berkisar antara Rp 5 ribu hingga Rp 6 ribu.
Kondisi itu membuat para petani tomat merugi.
Sebab, biaya produksi tidak sebanding dengan hasil panen.
Sebagian besar petani memang memanen untuk konsumsi sendiri dan dibagikan ke tetangga.
Sebagian lain membiarkan tomat busuk di pohonnya.
Bahkan, ada pula tomat yang diambil untuk pakan kambing.
Salah seorang petani hortikultura, Dodik Romahsnyah, mengatakan, dirinya mengalami kerugian cukup besar.
Dari seratus meter persegi lahan yang ditanami tomat, panen dilakukan hanya sekitar dua kali.
Padahal, biasanya panen atau petik tomat itu bisa dilakukan sekira lima hingga enam kali.
Pria asal Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari, itu menjelaskan, tanam pertama pada Mei lalu.
Sementara perawatannya harusnya berlangsung sekitar tiga bulan.
Namun menjelang masa panen, harga tomat makin tak menentu.
"Awalnya Rp 10 ribu. Saya masih bisa panen sedikit tidak sampai 50 kilogram. Tapi harga langsung turun drastis. Dari Rp 10 ribu turun ke Rp 4 ribu per kilogram," ungkapnya.
Harga itu bertahan hitungan hari.
Dalam waktu singkat, harga tomat kembali turun.
"Sudah tiga pekan ini harganya seribu rupiah per kilogram. Kalau amannya sebenarnya di harga Rp 4 ribu per kilogram," tambahnya.
Hal itu membuatnya memilih membiarkan tomat membusuk di pohon.
Dirinya enggan memang tomat itu.
Bahkan, tomat itu diberikan ke kambing tetangga sebagai pakan selain rumput hijau.
Itu saking tak ada yang mau membeli tomat.
"Itu pun kalau diberikan ke tetangga untuk konsumsi, juga banyak yang tidak mau. Sedangkan jika dijual langsung ke pasar, sulit. Bisa merusak harga lainnya," imbuh pria 42 tahun tersebut.
Dia berharap, pemerintah memperhatikan nasib petani.
Minimal, kata dia, ada kepastian maupun stabilitas harga.
"Supaya kami tidak terus merugi. Karena ongkos operasional lebih besar dibandingkan hasil yang didapat," terangnya.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Petani Pangan Indonesia (APPI) Jawa Timur Ishak Subagio menjelaskan, kondisi itu tak hanya terjadi di Jember.
Melainkan hampir seluruh kabupaten/kota di Jatim.
Salah satu penyebabnya adalah tidak adanya standard operating procedure (SOP) atau aturan yang jelas terkait pola tanam, perawatan, dan panen dalam pertanian.
Menurutnya, aturan itu bisa dibuat oleh dinas pertanian, tanaman pangan, atau hortikultura.
Termasuk Dinas Perdagangan mengenai distribusi bahan dan harga di pasaran.
"Ketika ada aturan turunan itu di tingkat daerah, maka akan ada kebijakan dan perhatian. Luas lahan berapa, kebutuhan tanaman apa saja dan berapa banyak, lalu kapan waktu yang tepat menanam hingga panen," katanya.
Ketika itu tak ada, lanjut Ishak, beragam masalah akan timbul.
Mulai dari gagal panen, penurunan produktivitas, peningkatan risiko serangan hama dan penyakit, hingga penurunan pendapatan petani.
"Seperti yang terjadi saat ini. Banyak petani menanam tomat, tapi di lapangan, harganya hanya seribu hingga Rp 1.500. Itu terjadi di semua daerah di Jatim," jelasnya.
Oleh karena itu, perlindungan petani harus menjadi tugas segenap stakeholder yang ada.
Sehingga terwujud stabilitas harga pertanian dan akses pasar yang lebih mudah. (kin/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh