BACA JUGA : Deteksi Dini Gangguan Pendengaran pada Anak
Hal itu karena keterbatasan armada truk pengangkut sampah. Jumlah truk sampah di Jember sebanyak 34 unit. Tiap truk dapat mengangkut sekitar 10 ton lebih dalam sehari. Jumlah tersebut masih sangat kurang untuk mengangkut semua sampah masyarakat Jember. "Idealnya, agar terangkut semua itu harus punya 200 truk," jelas Sigit Boedi, Kepala Bidang Pengelolaan Sampah DLH Jember.
Masih menurut Sigit, sementara ini satu truk sampah di Jember bisa melayani hingga empat wilayah kecamatan. Sebab, DLH Jember hanya berkonsentrasi pada kawasan kota, seperti di Kaliwates yang memiliki sebelas truk, Sumbersari tujuh truk, dan Patrang tujuh truk.
Sisanya truk sampah berkonsentrasi di luar area kota. Satu truk melayani di Rambipuji, Sukrambi, dan Panti. Satu truk lagi menangani Tanggul, Sumberbaru, dan Bangsalsari. Jenggawah, Ajung, dan Wuluhan juga hanya dilayani satu truk sampah. Sementara untuk sampah-sampah yang tidak terangkut oleh truk, kata Sigit, hal itu dilakukan berbagai cara. Mulai dari bekerja sama dengan pihak swasta untuk pengangkutan sampah di lingkungan permukiman warga.
Karena itu, jika dilihat memang masih banyak sekali kekurangan. Sebelumnya, DLH Jember sudah pernah mengajukan penambahan truk sampah kepada Pemerintah Kabupaten Jember. Namun, penambahan truk sampah juga harus diimbangi dengan jumlah tempat pembuangan sementara (TPS) dan jumlah sumber daya manusia (SDM).
Lebih lanjut, Sigit menambahkan, jumlah sampah yang masuk ke TPA di Jember bukannya menurun, tapi justru meningkat. Hal itu karena lemahnya pengelolaan sampah di hulu dan sarana prasarana DLH yang belum mencukupi. “Lebih parah lagi kesadaran masyarakat yang masih kurang,” ungkapnya.
Sampai saat ini, DLH Jember masih mengoptimalkan pengelolaan sampah dengan fasilitas yang ada. Meski begitu, pihaknya akan tetap mengupayakan untuk melakukan penambahan jumlah truk sampah.
“Karena, sebaran pelayanan truk sampah di setiap kecamatan di Jember sangat kurang. Oleh karena itu, kami sangat terbantu dengan tenaga masyarakat yang rela mengumpulkan sampah menggunakan gerobak,” pungkasnya. (mg6/c2/bud) Editor : Safitri