Bahkan ada juga perahu yang berputar arah dan berjalan mundur akibat dihantam ombak besar. Puluhan nelayan yang menjadi anak buah kapal (ABK), tampak bersiap-siap mengambil bambu yang sudah ada di atas perahu. Lonjoran bambu itu dipakai untuk menahan perahu agar tak sampai berputar haluan.
BACA JUGA: Perahu Nelayan Puger Jember Terbalik di Plawangan, Satu Orang Meninggal
Kekompakan para nelayan berhasil menyelamatkan perahu. Meski awalnya posisi perahu berjalan mundur hingga muara sungai, namun akhirnya bisa berjalan normal kembali. Menurut nelayan, ketinggian ombak bisa mencapai tiga meteran. Ombak besar biasanya terjadi sejak malam hingga keesokan paginya.
Kasat Polair Polres Jember di Puger AKP M Na’i mengatakan, pihaknya sudah memberi imbauan agar nelayan yang berangkat melaut lebih berhati-hati. “Kami juga menyampaikan agar nelayan yang berangkat mencari ikan menggunakan pelampung atau pengaman lainnya,” ujarnya.
Menurutnya, hampir sepekan belakangan ombak di pantai selatan Jember mulai membesar. Diperkirakan, kondisi ini berlangsung selama Agustus. Berdasarkan perkiraan Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG), ombak besar bakal terjadi sepanjang bulan ini di Samudra Hindia, khususnya wilayah Puger. “Kalau cuaca memburuk atau ombak besar, nelayan diminta agar tidak melaut terlebih dulu hingga cuaca membaik,” tutur M Na’i.
Pantauan Jawa Pos Radar Jember, sejak ombak membesar banyak keluarga nelayan yang memadati jalur Plawangan. Mereka menunggu di area batu pemecah ombak sambil berharap-harap cemas ketika menyaksikan keluarga berangkat atau pulang melaut.
Jika perahu suami atau keluarganya belum terlihat melintas di jalur yang terkenal ganas tersebut, mereka enggan pulang. Baru setelah perahu lepas dari jalur Plawangan, mereka segera kembali ke rumah masing-masing. (*)
Reporter: Jumai
Foto : Jumai
Editor : Mahrus Sholih Editor : Maulana Ijal