Masjid keong, begitulah banyak orang menyebut Masjid Jami’ Al-Baitul Amien. Hal itu karena desain arsitektur berbentuk setengah lingkaran, mulai dari tepi bangunan hingga ke bagian atap. Bahkan, melihat masjid ikonik di Jember tersebut bentuknya mirip Gedung DPR MPR RI yang sama-sama berbentuk setengah lingkaran.
“Bentuk masjidnya seperti keong, mirip dengan Gedung DPR MPR RI di Jakarta,” terang Aji Masaji. Pria asal Medan, saat pertama kali menginjakan kaki di Alun-alun Jember 2013 lalu, sempat mengira Masjid Jami’ Al-Baitul Amien adalah Gedung DPRD Jember. “Soalnya bentuknya mirip Gedung DPR MPR RI di Jakarta. Orang luar kota datang ke Alun-alun Jember.
Ketua Yayasan Masjid Jami' Al-Baitul Amien, Muhammad Hasi'ien mengatakan, pembangunan masjid tersebut sesuai dengan permintaan Bupati Jember Abdul Hadi waktu itu dan meminta kepada kontraktor untuk membuat masjid yang berbeda di dunia. Namun untuk desainya bukan, sesuai keinginan bupati pada waktu itu, namun dibuat sayembara. “Dilakukanlah sayembara dengan menemukan 13 desain bangunan masjid,” ungkapnya.
Tiga belas desain sayembara tersebut, dipamerkan pada saat hari angkatan bersenjata atau sekarang disebut HUT TNI. “Waktu itu ada semacam polling. 13 desain itu dipamerkan dan dipilih oleh masyarakat yang hadir,” katanya.
Masyarakat, banyak memilih desain masjid berbentuk setengah setengah lingkaran. “Ketika polling itu selesai, kemudian dipilih bentuk masjid ini (setengah lingkaran, red) dan justru kontraktornya orang non muslim dari Surabaya," ungkapnya.
Filosofi dari bangunan masjid ini, lanjutnya, dengan bentuk bulat yaitu menggambarkan meluasnya kebutuhan seluruh umat manusia tanpa dibatasi dengan sudut-sudut tertentu yang akhirnya diaplikasikan pada bentuk kubah masjid. Kemudian jumlah kubah, yakni sebanyak tujuh kubah ternyata menyimpan filosofinya sendiri. “Angka tujuh merupakan simbol dari kemantapan,” terangnya.
Sementara itu jumlah tiang penyangga kubah utama berjumlah 17. Jumlah itu rupanya sebagai pengingat untuk umat Islam pada tanggal kemerdekaan Indonesia. “Serta jumlah rakaat solat wajib yakni 17," tutur Husein
Keunikan lainnya terlihat dari mihrab dan mimbarnya. Bangunan mihrab akan terkait dengan mimbar, terdiri dari tiga buah lengkungan yang melukiskan trilogi risalah Islam, yaitu iman, Islam, dan ihsan. "Dalam lengkungan mihrab, Al Mukarom KH Achmad Shiddiq menfatwakan agar dituliskan ayat Alquran Surat Thaha ayat 14, sedangkan pada mihrab kanan dan kirinya terpampang lafadz Allah dan Muhammad, serta sekeliling kubah dituliskan surat An Nur dimaksudkan agar sebagai petunjuk bagi jamaah masjid itu,” tuturnya.
Sementara itu, pada bagian lantai sembahyang utama ditutup dengan marmer Carrara. “Marmernya itu didatangkan khusus dari Italia,” ucapnya. Perlu diketahui marmer Carrara, ini berada Provinsi Massa-Carrara, Italy. Bahkan, juga termasuk marmer kuno dan karena diketahui telah digunakan pada masa Romawi kuno.
Selain itu, pada trap lingkar di halaman digunakan batu bata berongga dari keramik. Sehingga tampak kokoh. Setiap hari Masjid Jami' Al Baitul Amien Jember tidak pernah sepi dari masyarakat yang menunaikan sholat wajib maupun sunah atau amalan lainnya. Terlebih lagi saat bulan Ramadan seperti ini, masjid tersebut menjadi pilihan favorit untuk melaksanakan salat tarawih,” pungkasnya.
Jurnalis: mg6
Fotografer: ACHMAD FAIZ/RADAR JEMBER
Editor: Dwi Siswanto, Nur Hariri Editor : Maulana Ijal