Waspadai Efek Domino Inflasi, Pemkab dan BPS Jember Perkuat Intervensi Pasar Murah

Maulana RJ • Dipublikasikan Kamis, 22 Oktober 2026 | 10:00 WIB
INTERVENSI PASAR: Gerakan pasar murah yang diyakini menjadi salah satu intervensi pemerintah daerah untuk pengendalian inflasi. (MAULANA/RADAR JEMBER)
INTERVENSI PASAR: Gerakan pasar murah yang diyakini menjadi salah satu intervensi pemerintah daerah untuk pengendalian inflasi. (MAULANA/RADAR JEMBER)

Radar Jember - Pergerakan inflasi terus menjadi variabel krusial yang membayangi kesejahteraan masyarakat Jember.

Badan Pusat Statistik (BPS) Jember mengingatkan pentingnya menjaga laju inflasi agar tidak menggerogoti daya beli warga, yang berisiko memicu lonjakan angka kemiskinan.

Kepala BPS Kabupaten Jember, Peni Dwi Wahyu Winarsih, menyatakan bahwa kenaikan harga barang dan jasa yang tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan akan langsung berdampak negatif pada kondisi ekonomi rumah tangga.

Baca Juga: Thunder Dibatasi, Pengecer di Jember Tak kehabisan Akal, Pilih Pakai Megapro dan Vixion

"Ketika inflasi naik, jika tidak diimbangi dengan kenaikan pendapatan, secara otomatis daya beli masyarakat akan turun. Nah, itu semakin meningkatkan kemiskinan," kata Peni, usai audiensi mengenai indikator pembangunan dan kemiskinan di Pendapa Wahyawibawagraha Jember, Selasa (20/10).

Peni menjelaskan, perhitungan kemiskinan makro yang dilakukan BPS sangat bergantung pada hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang memotret pengeluaran makanan dan non-makanan dari ratusan sampel responden di daerah.

Lonjakan harga kebutuhan pokok akibat inflasi, lanjut dia, berpotensi menggeser posisi warga miskin maupun warga yang berada di rentan miskin jatuh ke bawah garis kemiskinan.

Oleh karena itu, ia menyarankan menjaga ritme inflasi dan memperkuat daya beli menjadi instrumen wajib bagi pemerintah daerah.

"Jadi memang harus dijaga supaya inflasi juga turun, atau peningkatan daya beli masyarakat ditingkatkan dengan pendapatan masyarakat yang dinaikkan," tegasnya.

Baca Juga: Pasutri Asal Jember Diduga Eksploitasi 7 Anak, Kasus Terbongkar Setelah Korban Kabur ke Terminal?

Meskipun angka kemiskinan di Jember tercatat mengalami penurunan—dari sebelumnya 216 ribu jiwa menjadi sekitar 200,7 ribu jiwa pada data periode Maret 2026—pemerintah daerah dan BPS sepakat bahwa kewaspadaan terhadap gejolak inflasi tidak boleh kendor.

Stabilitas harga tetap menjadi bantalan utama agar tren penurunan kemiskinan tidak berbalik arah.

Pemkab Jember mengakui bahwa stabilitas harga pangan dan pasokan merupakan kunci utama penanganan kemiskinan. Bupati Jember Muhammad Fawait mengungkapkan sejumlah intervensi telah dan sedang dijalankan untuk mengendalikan gejolak inflasi.

Di antaranya melalui pelaksanaan operasi pasar, pasar murah, pembagian bantuan sembako dalam program penanganan daerah. Pemkab Jember juga berkolaborasi dengan Bulog untuk menyalurkan bantuan pangan langsung ke rumah-rumah warga.

"Pengendalian inflasi ini kunci. Paket sembako dan bantuan pangan itu salah satu yang bisa mengendalikan inflasi sekaligus menekan kemiskinan," imbuh Gus Fawait, sapaan dia. (mau/nur)

Editor : Imron Hidayatullahh
Jember pasar murah daya beli Inflasi BPS Jember