Radar Jember - Saat fajar menyingsing di Kampus Tegalboto, aktivitas Prof Drs Bambang Kuswandi MSc PhD sudah melaju kencang. Pukul lima pagi, ketika deretan ruang kuliah masih hening, ia telah duduk tegak di depan layarnya.
Tangannya lincah meneliti naskah ilmiah, mengurasi data laboratorium, dan berdiskusi via Zoom dengan para mahasiswa bimbingannya. "Saya ini ibarat dirigen," tutur akademisi yang akrab disapa Prof. BK itu seraya terkekeh.
"Tugas saya mengarahkan. Setelah jam tujuh pagi, anak-anak yang eksekusi. Jabatan Wakil Rektor IV memang ada jam kerjanya dari jam delapan pagi sampai lima sore, tapi riset? Riset itu jalan 24 jam!" sambungnya.
Baca Juga: Melalui Jember Cinta Kesehatan, Pemkab Buka Pengobatan Gratis Pasien Luar Daerah
Kerja sunyi nan tekun itu membuahkan hasil monumental. Stanford University bersama lembaga penerbit Elsevier BV kembali merilis daftar World's Top 2% Scientists—panggung elite global yang memetakan para peneliti dengan sitasi dan dampak karya ilmiah paling berpengaruh di dunia.
Nama Prof BK sapaan akrabnya kembali bertengger di sana, melanjutkan rekor impresif yang ia jaga tanpa terputus sejak tahun 2020.
Istimewanya, tahun ini ia tak lagi melangkah sendirian. Nama ilmuwan asal Sumenep, Madura, itu bersanding dengan Dr Ir Mochamad Asrofi ST IPM ASEAN Eng, akademisi muda dari Fakultas Teknik UNEJ yang juga merupakan yuniornya.
Bagi Prof BK, pengakuan internasional ini bukanlah trofi kebanggaan personal belaka, melainkan sebuah amanah seumur hidup (lifetime achievement). Saat ditanya rahasia bertahan di jajaran ilmuwan elite dunia selama bertahun-tahun, jawabannya justru lugas dan sarat filosofi.
"Pesan saya untuk kolega dan peneliti muda: pertama, jangan jadi peneliti model kutu loncat. Kedua, carilah satu lubang dan gali yang dalam," ungkap lulusan doktor dari University of Manchester Institute of Science and Technology (UMIST), Inggris tersebut.
Filosofi itu tercermin dari jejak rekamnya sendiri. Selama lebih dari 20 tahun, Prof BK setia memfokuskan energinya pada satu bidang. Sensor kimia dan biosensor.
Baca Juga: Kuota Haji Jember 2027 Naik Jadi 3.221 Orang, Kantor Kemenhah Lakukan Verifikasi Tahap Dua
Dari satu titik fokus itu, risetnya mekar secara sistematis menuju intelligent packaging (kemasan pintar), active packaging, hingga kini merambah encapsulated bioactives.
"Dunia hanya ingat pada orang yang konsisten. Ketika riset dilakukan secara mendalam, data yang dihasilkan akan saling menyambung. Itulah yang membuat penulisan naskah ilmiah bermutu tinggi menjadi lebih mudah dan berujung pada publikasi bereputasi," tambahnya.
Dari Limpahan Limbah Pisang ke Jurnal Dunia
Konsistensi akademik Prof BK tidak berhenti di atas kertas ilmiah. Bersama Mochamad Asrofi, ia menerjemahkan keahliannya untuk menjawab persoalan riil di kawasan lokal.
Keduanya merancang riset bertajuk "Banana By-Product-Based Encapsulated Systems for Active Food Packaging", yang kini menembus jurnal internasional bereputasi Q1, Applied Food Research Journal.
Gagasan ini berakar dari potensi bumi Jember dan Lumajang yang sanggup memanen hingga 120 ribu ton pisang per tahun. Namun, kejayaan panen itu menyisakan 40 persen kulit dan 25 persen bonggol pisang yang kerap membusuk menjadi limbah.
Padahal, kulit pisang melimpah akan pektin, sementara bonggolnya kaya akan selulosa nanokristal serta senyawa antioksidan polifenol.
Baca Juga: Rentan Terjebak Doomscrolling, Pakar Psikologi Unmuh Jember Soroti Kesehatan Mental Lansia
"Zat aktif dari limbah pisang ini gampang rusak kalau dibiarkan terbuka. Maka kami 'bungkus' terlebih dahulu melalui proses enkapsulasi menggunakan pektin dan selulosa dari limbah pisang itu sendiri," terang Prof BK. Hasil akhirnya diubah menjadi materi pelapis organik (coating) yang aman bagi pangan dan lingkungan.
Inovasi ini membawa keajaiban kecil di meja makan. Buah stroberi yang diolesi pelapis ini mampu bertahan segar hingga 12 hari. Jauh melampaui usia simpan normal yang hanya 5 hari. Begitu pula dengan daging fillet ayam, yang masa simpannya melonjak dari 3 hari menjadi 7 hari berkat pelepasan antioksidan yang terukur. Satu ton kulit pisang yang diolah kini bernilai jutaan rupiah sekaligus menekan sampah plastik.
Keberhasilan Bambang Kuswandi dipupuk lewat ekosistem yang solid di Laboratorium Sensor Kimia dan Biosensor Cerdas Fakultas Farmasi Unej. Langkah dua ilmuwan ini mendapat apresiasi hangat dari Rektor UNEJ, Iwan Taruna.
Baca Juga: Deteksi Dini Narkoba, Polres Jember Sisir Rumah Karaoke dan Tempat Hiburan Malam
Kampus Tegalboto kini menyiapkan empat langkah strategis: insentif Rp25 juta untuk publikasi Q1, workshop penulisan artikel Scopus, kebijakan Research Day bebas mengajar, hingga kewajiban kolaborasi riset internasional antara Guru Besar dan dosen Lektor.
Melalui racikan kebijakan ini, Universitas Jember memancangkan target optimistis: menambah 3 hingga 5 ilmuwan baru ke dalam daftar World's Top 2% Scientists pada tahun 2028.
Menutup perbincangan, Bambang Kuswandi yang juga sebagai Ketua ICMI Jember ini menekankan bahwa menulis karya ilmiah adalah soal kebiasaan alokasi 500 kata per hari, bukan sekadar bakat.
"Menjadi ilmuwan kelas dunia bukan berarti meninggalkan akar lokalitas. Kekuatan kita justru ada pada potensi lokal Jember. Pisang, kopi, kakao, hingga edamame. Tugas kita adalah membawa Jember ke jurnal dunia, bukan sekadar membawa jurnal dunia ke Jember," pungkasnya. (dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh