Rentan Terjebak Doomscrolling, Pakar Psikologi Unmuh Jember Soroti Kesehatan Mental Lansia

M Adhi Surya • Dipublikasikan Senin, 19 Oktober 2026 | 11:00 WIB
WASPADA: Maulana Arif Muhibbin, dosen Psikologi Unmuh Jember, memberi penjelasan tentang banyaknya kesehatan mental lansia akibat hoaks. (UNMUH JEMBER)
WASPADA: Maulana Arif Muhibbin, dosen Psikologi Unmuh Jember, memberi penjelasan tentang banyaknya kesehatan mental lansia akibat hoaks. (UNMUH JEMBER)

Radar Jember – Derasnya arus informasi di media sosial menyimpan risiko bagi kelompok lanjut usia (lansia).

Kabar bohong yang memicu ketakutan dan kecemasan dapat memengaruhi kondisi psikologis, terlebih bagi lansia yang belum terbiasa memilah informasi digital, situasi ini perlu menjadi perhatian keluarga agar penggunaan gawai tidak justru menjadi sumber keresahan.

Dosen Psikologi Unmuh Jember, Maulana Arif Muhibbin menjelaskan, sebagian lansia lebih rentan menerima hoaks karena keterbatasan kemampuan dalam memahami dan memverifikasi informasi.

Baca Juga: Berkat Medsos, Kakek Penderita Ulkus Pedis di Jember Akhirnya Diobati setelah 15 Tahun Tahan Nyeri

Ketika kabar yang diterima berkaitan dengan ancaman atau peristiwa buruk, reaksi emosional dapat muncul meskipun kebenaran informasi tersebut belum dipastikan.

Paparan berita negatif secara berulang juga dapat memicu kebiasaan doomscrolling, yakni terus menggulir media sosial untuk membaca informasi tanpa kendali.

Seseorang bisa terjebak mengikuti kabar demi kabar hingga menghabiskan waktu lebih lama di depan layar.

Bagi lansia, kebiasaan tersebut berpotensi memperpanjang rasa khawatir, terutama ketika informasi yang dikonsumsi terus berkaitan dengan bahaya dan ketidakpastian.

 “Doomscrolling itu artinya kita mencari informasi dengan cara membabi buta, tidak difilter,” jelasnya.

Baca Juga: Di Tengah Antrean BBM Mengular, Kebiasaan Ngontel ke Sekolah di Jember Kembali Dilirik

Ia menerangkan, kebiasaan mengonsumsi informasi tanpa penyaringan dapat membuat seseorang terbawa suasana hingga menghabiskan waktu dan mengabaikan aktivitas lain. Dampak psikologis juga dapat berkaitan dengan pola istirahat.

Lansia yang terus mengikuti berita mengkhawatirkan hingga menjelang tidur berpotensi kesulitan menenangkan pikiran. Maulana mengingatkan bahwa paparan informasi buruk dapat membuat seseorang terus berada dalam kondisi waspada.

“Ketika itu terstimulasi, orang itu (lansia,reas) ketika melihat berita buruk akan selalu siap-siaga dan was-was,” ungkapnya.

Kondisi tersebut perlu diantisipasi melalui pendampingan keluarga. Anak maupun kerabat dapat membantu lansia memeriksa sumber informasi, membandingkan kabar dengan pemberitaan dari sumber tepercaya, serta menjelaskan informasi yang meragukan menggunakan bahasa sederhana.

Langkah ini bukan untuk membatasi akses lansia terhadap teknologi, melainkan membantu mereka menggunakannya secara lebih aman.

Keluarga juga perlu mengajak lansia mengatur waktu penggunaan gawai dan tidak terus-menerus mengikuti berita yang memicu kecemasan.

Baca Juga: Dari Kalisat Hingga Kaliwates, Antrean Panjang Pertalite Masih Kepung SPBU di Jember

Interaksi langsung, aktivitas fisik sesuai kemampuan, kegiatan bersama keluarga, serta waktu tidur yang cukup tetap perlu dijaga. Dengan begitu, lansia memiliki kegiatan lain yang membantu mengalihkan perhatian dari arus informasi digital yang berlebihan.

Apabila kecemasan berlangsung terus-menerus, tidur terganggu, atau perubahan perilaku mulai menghambat aktivitas sehari-hari, keluarga sebaiknya mempertimbangkan konsultasi dengan tenaga profesional.

Kemampuan memilah informasi dan dukungan lingkungan menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan mental lansia, sehingga teknologi tetap bermanfaat sebagai sumber pengetahuan dan sarana komunikasi, bukan justru menambah beban pikiran. (dhi/nur)

Editor : Imron Hidayatullahh
Kesehatan Mental Jember Unmuh Jember hoaks Lansia