Radar Jember – Sebanyak 142 kepala keluarga (KK) di Lingkungan Plalangan, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Patrang, masih membutuhkan bantuan air bersih akibat dampak kekeringan.
Untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember kembali menyalurkan 5.000 liter air bersih pada Senin (12/10).
Penyaluran tersebut merupakan distribusi air bersih ke-18 di wilayah terdampak. Bantuan diberikan untuk membantu warga memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah keterbatasan akses air bersih selama musim kemarau.
Baca Juga: Banyak Aduan Soal MBG di Jember, Gus Fawait Bawa Masalah SPPG ke BGN
Berdasarkan data BPBD Kabupaten Jember, sebanyak 142 KK terdampak kekeringan di Lingkungan Plalangan, yang tersebar di RT 01 RW 11 sebanyak 110 KK dan RT 03 RW 10 sebanyak 32 KK.
Perwakilan TRC BPBD Kabupaten Jember, Didi Teguh Dwi Santoso, menjelaskan bahwa penyaluran air bersih merupakan salah satu upaya penanganan darurat untuk membantu masyarakat yang terdampak kekeringan.
“Penyaluran air bersih ini dilakukan untuk membantu warga yang terdampak kekeringan. Kami juga berkoordinasi dengan pengurus RT dan RW agar distribusi dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan,” ujar Didi.
Hingga 12 Oktober 2026, total bantuan air bersih yang telah disalurkan ke wilayah tersebut mencapai 90.000 liter. BPBD Jember, tambah dia, juga telah menyediakan empat unit tandon berkapasitas masing-masing 1.200 liter untuk mendukung penampungan air bagi warga.
“Langkah ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat selama kondisi kekeringan masih berlangsung,” paparnya.
Baca Juga: Hindari Antrean SPBU di Jember, Warga Pasrah Beli Pertalite Eceran Rp 13 Ribu per Liter
Di tengah upaya pemenuhan kebutuhan air bersih, masyarakat juga menantikan datangnya musim hujan. Berdasarkan prakiraan awal musim hujan 2026/2027 yang dirilis Stasiun Klimatologi Jawa Timur, awal musim hujan di Jember diperkirakan berlangsung secara bertahap, bergantung pada wilayahnya.
Untuk wilayah Jember bagian tengah, awal musim hujan diprakirakan sekitar dasarian III Oktober 2026 atau periode 21–31 Oktober.
Sementara itu, sejumlah wilayah lain di Jember diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada waktu berbeda, termasuk sebagian wilayah selatan yang diprakirakan mengalaminya pada November.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa awal musim hujan tidak terjadi secara serentak di seluruh Kabupaten Jember.
“Warga di wilayah terdampak kekeringan diimbau tetap menghemat penggunaan air bersih dan memanfaatkan bantuan secara bijak hingga ketersediaan air kembali mencukupi,” ucap Didi. (kin/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh