Radar Jember - Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menjelaskan bahwa antrean dapat terjadi karena masyarakat dan pengecer sama-sama membeli BBM di SPBU.
Pengecer yang dimaksud merupakan penjual di luar lembaga penyalur resmi yang memperoleh BBM dari SPBU. Kondisi itu membuat jumlah kendaraan yang mengantre bertambah dan waktu tunggu masyarakat semakin panjang.
“Kalau barang di level pengecer masih ada, berarti secara umum kondisi tidak langka, barang tersedia. Hanya memang antrean terjadi karena pengecer dan pembeli, mengantre sama-sama di SPBU,” jelasnya.
Baca Juga: SPBU Diserbu Pedagang Eceran, Antrean Panjang BBM di Jember Kapan Berakhir?
Menurut Ahad, antrean dapat menjadi salah satu tanda bahwa BBM masih tersedia di SPBU yang melayani pembelian. Namun, kondisi stok di setiap lokasi bisa berbeda sehingga masyarakat tetap perlu memperhatikan informasi ketersediaan di tempat masing-masing.
Di sisi lain, Pertamina mengingatkan adanya potensi pengecer memanfaatkan kekhawatiran masyarakat. Ketika warga enggan mengantre di SPBU, mereka bisa beralih membeli BBM di tingkat pengecer dengan harga yang lebih tinggi.
Ahad menilai situasi psikologis masyarakat yang khawatir kehabisan BBM dapat membuka peluang bagi pihak tertentu untuk menaikkan harga demi memperoleh margin lebih besar.
Karena itu, masyarakat diimbau tetap mempertimbangkan harga dan memilih saluran pembelian yang tepat.
Pertamina menyarankan masyarakat membeli BBM langsung di SPBU agar mendapatkan harga sesuai ketentuan. Warga juga diminta lebih cermat menyikapi informasi yang beredar di media sosial.
“Masyarakat tetap bijak menyikapi informasi yang beredar, terutama dari media sosial maupun grup-grup WhatsApp. Kami khawatir informasi yang tidak terverifikasi justru memicu kekhawatiran yang lebih besar,” kata Ahad.
Baca Juga: Antrean SPBU di Jember Tetap Mengular, Pertamina Sebut Ada Penyesuaian Pola Distribusi BBM
Selain menghindari kabar yang belum jelas kebenarannya, masyarakat diminta membeli BBM sesuai kebutuhan dan tidak melakukan pembelian berlebihan.
Pembelian di luar kewajaran justru berpotensi membuat pengguna lain semakin kesulitan memperoleh bahan bakar.
Pihaknya juga memastikan pemantauan pasokan tetap dilakukan, mulai dari pengiriman melalui kapal tanker hingga mobil tangki yang menyalurkan BBM dari terminal ke SPBU.
“Kami terus memantau ketersediaan suplai di SPBU dan perkembangan pengiriman. Kami pastikan kebutuhan masyarakat bisa dipenuhi, dan kami juga mengimbau agar BBM digunakan secara bijak,” pungkas Ahad. (kin/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh