Gagal Bisnis F&B hingga Pimpin Jember Mini Zoo, Ini Profil Arief Febriyanto

M Adhi Surya • Dipublikasikan Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:00 WIB
INSPIRATIF : Berbagi pengalaman, Arief Febriyanto berdialog bersama host podcast Obrol Sana Sini Jawa Pos Radar Jember. (YULIO FA/RADAR JEMBER)
INSPIRATIF : Berbagi pengalaman, Arief Febriyanto berdialog bersama host podcast Obrol Sana Sini Jawa Pos Radar Jember. (YULIO FA/RADAR JEMBER)

Radar Jember - Mengenakan kemeja hitam berlengan panjang, Arief Febriyanto tampak ceria saat berdialog dalam Podcast Obrol Sana Sini Jawa Pos Radar Jember. Senyum lebar kerap terlihat di wajah General Manager (GM) Jember Mini Zoo tersebut, terutama ketika menceritakan perjalanan kariernya.

Ia mengawali langkah sebagai mahasiswa teknologi informasi (IT), meniti karier di perbankan, bisnis hingga akhirnya terjun ke dunia wisata satwa. Jalan yang ditempuh tak selalu mulus, termasuk saat bisnis pertamanya gagal dalam waktu tiga bulan.

Arief mengakui, kuliah di jurusan IT bukan pilihan yang benar-benar sesuai dengan minatnya. Dunia pemrograman dan coding yang dipelajari semasa kuliah ternyata bukan bidang yang ingin ia tekuni. Meski demikian, ia tetap menyelesaikan pendidikan tepat waktu.

Baca Juga: Banyak Aduan Soal MBG di Jember, Gus Fawait Bawa Masalah SPPG ke BGN

Baginya, pilihan yang sudah diambil harus dituntaskan dengan penuh tanggung jawab. “Saya percaya Tuhan tidak menaruh kita di tempat ini kalau tidak ada maksud dan tujuan,” ujarnya.

Selepas kuliah, Arief memulai karier di salah satu bank besar di Indonesia. Tantangan pertama yang dihadapi justru berkaitan dengan kepribadiannya sendiri. Ia mengaku sebagai sosok introvert dan pemalu, bahkan sempat takut ketika harus berhadapan dengan nasabah.

Perlahan, ia belajar dengan mengamati cara rekan kerja memberikan pelayanan, kemudian menerapkannya dengan pendekatan sendiri. Usahanya membuahkan hasil. Dalam setahun, ia mampu meraih prestasi terbaik, mulai dari tingkat regional hingga nasional.

Di tengah karier yang terus berkembang, Arief memutuskan keluar dari perbankan pada 2020 untuk mencoba peruntungan sebagai pengusaha. Ia merintis bisnis makanan dan minuman atau food and beverage (F&B).

Namun, perjalanan tersebut tidak sesuai harapan, bisnisnya gagal hanya dalam tiga bulan. Arief tak menampik kegagalan itu menjadi pengalaman berat. Meski begitu, ia memilih kembali bangkit dan mencari pekerjaan.

Baca Juga: Hindari Antrean SPBU di Jember, Warga Pasrah Beli Pertalite Eceran Rp 13 Ribu per Liter

Ia kemudian dipercaya menjadi manajer digital marketing di Times Indonesia sebelum melanjutkan perjalanan karier ke Jember Mini Zoo. Bekerja di destinasi wisata satwa sempat menjadi pengalaman baru bagi Arief.

Ia mengaku, sebelumnya tidak terlalu tertarik dengan dunia satwa. Namun, seiring berjalannya waktu, ia justru menemukan ruang untuk mengembangkan kemampuan kreatif dan kepemimpinannya.

Selama sekitar lima tahun berkarier di Jember Mini Zoo, ia turut menyaksikan perkembangan jumlah karyawan, dari semula sekitar 25 orang menjadi 150 orang. Pengalaman tersebut juga mengubah cara pandangnya dalam memimpin sebuah perusahaan.

“Kalau dulu di perbankan saya lebih fokus untuk diri sendiri, bagaimana caranya menjadi yang terbaik. Tapi di Jember Mini Zoo, saya belajar bahwa memanusiakan manusia itu penting,” tutur Arief.

Menurut dia, keberhasilan bisnis tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya pendapatan. Hubungan dengan karyawan, penghargaan terhadap kontribusi mereka, serta kemampuan memahami perbedaan karakter menjadi bagian penting dalam menjaga perusahaan tetap berkembang.

Proses menjadi pemimpin pun tidak selalu berjalan mulus. Arief bercerita, pada tahun-tahun awal memimpin, ia kerap memilih diam ketika sedang marah atau kecewa. Sikap yang dikenal sebagai silent treatment itu ternyata membuat karyawan kebingungan karena tidak memahami persoalan yang sedang dihadapi.

Dari masukan tim, ia mulai memperbaiki cara berkomunikasi. Kini, ia membiasakan rapat koordinasi, evaluasi, dan diskusi terbuka agar setiap anggota tim memiliki kesempatan menyampaikan gagasan maupun kritik.

Kemampuan mengembangkan ide juga menjadi bagian penting dari pekerjaannya. Arief kerap melakukan benchmarking dengan mengunjungi berbagai destinasi wisata, termasuk kebun binatang di dalam dan luar negeri.

Baca Juga: SPBU Diserbu Pedagang Eceran, Antrean Panjang BBM di Jember Kapan Berakhir?

Dari kunjungan tersebut, ia mencatat konsep menarik yang dapat disesuaikan dengan karakter pengunjung Jember Mini Zoo. Salah satu gagasan yang dikembangkan ialah Piknik Ramadan.

Ketika kunjungan wisata cenderung melambat selama bulan puasa, ia melihat peluang menghadirkan pengalaman berbuka dengan konsep piknik, suasana estetik, pemandangan, satwa, dan hiburan musik. Program itu kemudian berkembang dengan kegiatan santunan anak yatim.

Bagi Arief, kreativitas tidak cukup berhenti sebagai gagasan. Sebelum mengeksekusi ide, ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yakni masalah yang ingin diselesaikan, nilai yang ditawarkan, dan kejelasan target pasar. Setelah dijalankan, hasilnya juga harus dievaluasi agar kekurangan dapat diperbaiki. “Sebagus apapun idemu, sekreatif apapun, kalau tidak dieksekusi sama saja dengan nol,” tegasnya.

Selain mengelola Jember Mini Zoo, ia juga mengembangkan usaha di bidang creative agency. Baginya, terus belajar, beradaptasi, dan memberi manfaat bagi orang lain merupakan bekal penting untuk bertumbuh, apapun bidang yang akhirnya dipilih. (dhi/dwi)

Editor : Imron Hidayatullahh
Jember karir Bisnis jember mini zoo profil