Radar Jember – Serapan gabah Bulog Jember sudah mencapai 193 ribu ton hingga awal Oktober. Jumlah itu menempatkan Jember sebagai salah satu penyumbang besar pengadaan gabah di Jawa Timur. Capaian tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga stok beras nasional.
Penyerapan gabah di Jember melibatkan sejumlah pihak, mulai dari Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan hingga Kodim 0824 Jember.
Dalam pelaksanaannya, Tim Jemput Pangan yang terdiri dari petugas Bulog, Babinsa, dan penyuluh pertanian lapangan (PPL) mendatangi petani untuk menindaklanjuti hasil panen yang siap dijual.
Baca Juga: Sumur Warga Mengering dan Berbau, BPBD Jember Pasok Air Bersih ke Rambipuji
Keterlibatan mereka menjadi bagian dari proses pengadaan gabah untuk memenuhi kebutuhan cadangan pangan pemerintah (CPP).
Pimpinan Cabang Bulog Jember M Ade Saputra mengatakan, capaian serapan di Jember menjadi bagian dari kontribusi Jawa Timur terhadap pengadaan gabah nasional.
Secara nasional, pengadaan gabah Bulog telah mencapai sekitar 4 juta ton, dengan Jawa Timur menjadi salah satu penopang utama capaian tersebut.
“Per tanggal 7 Oktober kemarin, serapan gabah di Bulog Jember itu sebesar 193 ribu ton atau setara berasnya 98 ribu ton,” katanya, kemarin (9/10).
Baca Juga: Cegah Rabun Jauh pada Anak, Dokter RSU Unmuh Jember Ingatkan Ortu Batasi Screen Time
Jumlah itu sudah melampaui target tahunan Jember, yakni sebesar 165 ribu ton gabah kering panen (GKP) atau setara 84.500 ton beras.
Tingginya hasil serapan gabah tersebut juga ditunjang rendemen yang tergolong baik. Dari gabah yang diserap, rata-rata rendemen beras di Bulog Jember mencapai 55,6 persen.
Angka ini menunjukkan besarnya potensi hasil panen petani Jember dalam mendukung ketersediaan beras, sekaligus memperkuat posisi daerah dalam rantai pasok pangan nasional.
Meski capaian pengadaan nasional telah menyentuh 4 juta ton, Bulog Jember masih akan melanjutkan penyerapan gabah selama harga yang ditetapkan dapat diterima petani.
Pemerintah menetapkan harga pembelian gabah sebesar Rp 6.500 per kilogram sebagai upaya menjaga nilai hasil panen dan memberikan kepastian pasar bagi petani.
“Tujuan kami untuk menyejahterakan petani. Setiap hasil kerja keras petani harus kami hargai,” tegas Ade. (kin/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh