Pendangkalan Muara Puger Jember Makin Parah, Nelayan Harus Bergantian Lintasi Plawangan

Jumai RJ • Dipublikasikan Jumat, 9 Oktober 2026 | 08:00 WIB
HARUS GANTIAN: Perahu dan jukung speed nelayan harus bergantian saat melintas di muara Puger, Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger. Kondisi muara yang menyempit dan dangkal membuat nelayan rawan kandas, terutama saat air laut surut. (JUMAI/RADAR JEMBER)
HARUS GANTIAN: Perahu dan jukung speed nelayan harus bergantian saat melintas di muara Puger, Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger. Kondisi muara yang menyempit dan dangkal membuat nelayan rawan kandas, terutama saat air laut surut. (JUMAI/RADAR JEMBER)

Radar Jember – Nelayan Puger harus ekstra hati-hati saat berangkat maupun pulang melaut. Pasalnya, kondisi muara sungai semakin menyempit akibat pendangkalan dan penumpukan pasir.

Kondisi tersebut membuat perahu, jukung, hingga speedboat nelayan tidak bisa melintas secara bersamaan, terutama ketika air laut sedang surut. Nelayan terpaksa bergantian saat melewati plawangan agar tidak kandas.

“Kalau perahu dan kapal sekoci yang lewat harus bergantian. Kalau bersamaan bisa kandas karena muaranya dangkal. Jukung saja juga harus gantian kalau lewat muara,” kata Catur, warga Puger Wetan, Kecamatan Puger.

Baca Juga: Rencana Parkir Berlangganan di Jember, DPRD Minta Penataan Jukir Diperketat

Menurut Catur, kondisi muara paling menyulitkan nelayan saat pagi hari ketika banyak nelayan pulang melaut.

Saat air surut dan ombak cukup besar, perahu terkadang kesulitan melewati plawangan. Akibatnya, sejumlah perahu harus menunggu hingga kondisi memungkinkan.

“Biasanya kalau pagi saat pulang ada yang kandas, apalagi kalau ombak besar dan ingin cepat melewati plawangan. Sehingga sering menumpuk di muara sungai,” ujarnya.

Persoalan tersebut tidak hanya dirasakan saat nelayan hendak berangkat, tetapi juga ketika kembali membawa hasil tangkapan. Nelayan tentu ingin segera masuk ke dermaga untuk membongkar dan menjual ikan.

Namun, kondisi muara yang dangkal membuat mereka harus mengurangi kecepatan dan menunggu giliran. “Kalau berangkat masih terlihat. Ketika ada ombak, nelayan bisa memilih diam dulu. Tetapi kalau pulang, kadang ingin segera lolos di plawangan,” katanya.

Baca Juga: Putus Rantai Kemiskinan, Pemkab Jember Perkuat Program Sekolah Rakyat dan Beasiswa

Menurut dia, jika beberapa perahu memaksakan masuk secara bersamaan, risiko kandas semakin besar. Kondisi tersebut terjadi karena muara semakin sempit dan dangkal akibat tertutup pasir.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, sejumlah perahu nelayan yang hendak masuk setelah melewati plawangan terlihat menunggu di sekitar muara.

Beberapa nakhoda memilih mengurangi laju perahu untuk memberi kesempatan kepada perahu lain melintas lebih dahulu.

Kondisi itu dilakukan untuk menghindari perahu saling berpapasan di titik muara yang dangkal. Nelayan pun harus bersabar dan bergantian agar dapat masuk maupun keluar dengan aman. (jum/dwi)

 

 

Editor : Imron Hidayatullahh
pendangkalan sungai muara sungai Jember puger plawangan puger