Kisah Dua Lansia di Kaki Gunung Argopuro Jember, Hidup dari Bantuan, Ogah Rumah Direhab

Maulana RJ • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 06:00 WIB
TABAH: Dua nenek bersaudara, Misti dan Buya, yang merajut hari dalam keterbatasan fisik dan tinggal di Desa Sucopangepok, Kecamatan Jelbuk. (DOKUMENTASI RIBI)
TABAH: Dua nenek bersaudara, Misti dan Buya, yang merajut hari dalam keterbatasan fisik dan tinggal di Desa Sucopangepok, Kecamatan Jelbuk. (DOKUMENTASI RIBI)

Radar Jember - Di salah satu sudut Desa Sucopangepok, Kecamatan Jelbuk, denyut nadi kehidupan berjalan lirih. Tanpa kemewahan, dua lansia bersaudara masih setia berkawan dengan takdirnya. Lantas bagaimana mereka bertahan hidup dalam keterbatasan?

Di atas sebuah gumuk terpencil di Desa Sucopangepok, Kecamatan Jelbuk, angin lereng Pegunungan Argopuro berembus menyusup celah-celah dinding anyaman bambu.

Di dalam rumah gubuk yang 90 persen bahannya terbuat dari anyaman bambu dan beratap sederhana itu, waktu seolah berjalan lebih lambat. Di sanalah Misti dan Buya, dua nenek bersaudara berusia sekitar 76 tahun, menghabiskan hari-harinya dalam kesunyian yang panjang.

Baca Juga: Tiga Petinju Jember Siap Wakili Jawa Timur di Ajang Kejurnas Tinju 2026 di Jakarta

Keduanya hidup sebatang kara dan belum pernah berkeluarga. Keterbatasan fisik telah mengikat kehidupan mereka sejak masih balita.

Nenek Misti tidak dapat melihat (disabilitas netra), sementara Nenek Buya tidak dapat mendengar maupun berbicara (disabilitas rungu). Namun, takdir yang tampak pahit itu justru mereka rajut menjadi keharmonisan yang menyentuh.

Di tengah keterbatasan, mereka saling melengkapi secara intuitif. Penglihatan Nenek Buya menjadi 'mata' bagi Nenek Misti saat menyalakan tungku dan memasak dapur.

Sebaliknya, kepekaan Nenek Misti menjadi penunjuk jalan dan pengisi 'dunia sunyi' Nenek Buya saat bahu-membahu mengurus rumah sederhana mereka. Nenek Buya yang lebih banyak memasak, sementara Nenek Misti menyapu lantai tanah dan pelataran rumah.

"Tak tao, engko' lebat tuwah (Tidak tahu pasti umurnya, sudah kelewat tua. Red)," tutur Nenek Misti dengan bahasa Madura yang lugas saat mengenang perjalanan hidupnya, saat ditemui, Minggu (4/10).

Baca Juga: Bawa Gagasan Masyarakat Adat, Mahasiswi Unmuh Jember Sabet Juara Esai ASEAN

Ketika ditanya mengenai pemenuhan kebutuhan harian dan bantuan untuk menyambung hidup, ia menyahut pelan. "Olle, cong. Keng rang-rang. Beras olle (Dapat bantuan, nak. Tapi jarang-jarang. Kalau beras dapat. Red)," akunya, dengan nada terbata-bata.

Untuk menyambung hidup, kedua lansia ini mengandalkan uluran tangan dari kerabat, tetangga, serta bantuan sosial dari pemerintah.

Bahkan tanah dan bilik bambu yang mereka tempati merupakan lahan numpang milik saudaranya. Sambungan listrik pun dialiri dari rumah kerabat mereka yang berjarak sekitar 30 meter.

Kondisi terisolasi di medan ekstrem ini membuat kedua nenek tersebut bertahun-tahun kesulitan mengakses fasilitas kesehatan jika fisik renta mereka mulai melemah.

Namun, kesunyian di atas gumuk itu mendadak hangat pada Minggu (4/10). Rombongan Bupati Jember, Muhammad Fawait, tiba di kediaman mereka. Untuk sampai ke lokasi, orang nomor satu di Pemkab Jember yang akrab disapa Gus Fawait itu harus menanggalkan mobil dinasnya di SDN 2 Sucopangepok. 

Bersama rombongan Kepala OPD, dan tim tenaga kesehatan (nakes) Puskesmas Jelbuk, Gus Fawait mengendarai sepeda motor roda dua menembus jalanan desa yang bergelombang, lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang terjal.

Bupati mengaku sengaja turun memantau langsung pelaksanaan Homecare di sekitar wilayah tersebut.

"Melalui Homecare, kami terus berupaya mendekatkan pelayanan kesehatan kepada warga, terutama yang kesulitan datang ke fasilitas kesehatan. Kami ingin setiap warga yang membutuhkan bisa mendapatkan perawatan dan pendampingan dengan baik," katanya.

Baca Juga: Jalur Gumitir Jember–Banyuwangi Retak Lagi, Warga Khawatirkan Ancaman Longsor

Melihat kondisi hunian yang memprihatinkan, Bupati Gus Fawait sempat menawarkan program perbaikan rumah agar dindingnya diganti dengan bangunan tembok yang kokoh. Namun, penawaran tersebut ditolak secara halus oleh Nenek Misti.

Lansia itu mengaku lebih nyaman tinggal di rumah berbilik bambu tempat berkas cahaya matahari pagi masih bisa menerobos celah anyaman. Mendengar ketulusan alasan itu, Gus Fawait memilih menghormati keinginan Nenek Misti dan mengalihkan bantuan pada pembenahan lantai rumah yang masih berupa tanah liat.

"Kalo begitu saya berencana membenahi lantai nenek supaya tidak lagi dingin tapak kaki Nenek Misti dan Nenek Buya saat beraktivitas sehari-hari," kata Gus Fawait.

Ia menambahkan bahwa program jemput bola ini menjadi bukti nyata hadirnya negara di tengah masyarakat terpencil. "Ini adalah ikhtiar kita, mungkin tidak bisa menyelesaikan masalah, tapi paling tidak pemerintah hadir," pungkasnya. (dwi)

Editor : Imron Hidayatullahh
homecare Jember Gunung Argopuro Lansia Gus Fawait