Dari Sampah Jadi Sedekah, Inovasi SMPN 1 Balung Hasilkan Cuan Tiap Pekan

Jumai RJ • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 17:41 WIB
DIPILAH: Sejumlah siswa SMPN 1 Balung memilah sampah untuk menentukan sampah yang bisa didaur ulang dan dikirim ke bank induk sampah di desa setempat. (JUMAI/RADAR JEMBER)
DIPILAH: Sejumlah siswa SMPN 1 Balung memilah sampah untuk menentukan sampah yang bisa didaur ulang dan dikirim ke bank induk sampah di desa setempat. (JUMAI/RADAR JEMBER)

Radar Jember - Kesadaran menjaga lingkungan dari sampah belakangan terus tumbuh dari berbagai elemen masyarakat. 

Salah satunya dari pelajar putih biru dongker ini. Melalui kesadaran kolektif ini, sampah yang biasanya berakhir di TPA, kini berubah menjadi berkah.

Dulu, pemandangan tumpukan sampah plastik hingga sisa makanan yang berakhir di tempat penampungan dan mengalir ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), seolah menjadi persoalan klasik yang tak kunjung usai. 

Sebagian kecil masyarakat memang mulai memilahnya untuk dikirim ke bank sampah mandiri terdekat.

Baca Juga: Tiga Petinju Jember Siap Wakili Jawa Timur di Ajang Kejurnas Tinju 2026 di Jakarta

Namun, di sebuah lingkungan sekolah di Jember selatan, pengelolaan limbah tak lagi sekadar rutinitas membuang pada tempatnya, tapi menjadi budaya, kesadaran kolektif, dan sumber berkah yang berdaya guna.

​Suasana asri dan hijau langsung menyapa siapa saja yang melangkah ke area sekolah ini, SMP Negeri 1 Balung, Jember.

Tidak ada gunungan bungkus plastik ataupun bekas jajan murid yang tercecer di sudut halaman.

Baca Juga: HUT ke-81 TNI di Makodim 0824 Jember, Gus Fawait Apresiasi Sinergi Ketahanan Pangan

Budaya ini lahir dari komitmen panjang yang dimotori oleh pihak sekolah untuk membentuk karakter kepedulian lingkungan para siswanya.

Model pengelolaan sampah di sekolah ini terbagi dalam beberapa segmen yang terstruktur rapi melalui kelompok kerja (Pokja).

​Untuk sampah daun kering, sekolah memanfaatkan teknologi sederhana berbasis lingkungan.

Daun-daun kering itu digunakan untuk pupuk kompos melalui program komposter dan dimasukkan ke dalam biopori berupa lubang kecil di tanah.

“Jadi itu dibikin pupuk kompos, jika ada sampah organik, dimasukkan ke situ, dan dalam tiga bulan bisa kita panen," kata Kepala SMP Negeri 1 Balung, Mohammad Rokhim, kepada Jawa Pos Radar Jember.

​Tak hanya daun kering, sisa-sisa makanan dari kantin serta program Makanan Bergizi Gratis (MBG) juga tak dibiarkan membusuk sia-sia.

Baca Juga: Tawarkan Lebih dari 5.000 Aset, Gebyar Lelang Serentak Nusantara BRI 2026 Hadir di Seluruh Indonesia

Sampah organik jenis ini diolah oleh Pokja Pemupukan menjadi Pupuk Organik Cair (POC) dan eco-enzyme. ​

"Hasil POC kami manfaatkan kembali untuk memupuk bermacam tanaman dan bunga yang ada di sekolah. Sementara eco-enzyme-nya bisa dimanfaatkan sebagai campuran pembuatan sabun mandi hingga shampo," kata Rokhim, merinci hasil olahan bernilai tambah tersebut.

​Satu hal yang paling mencolok dari rekayasa budaya lingkungan di sekolah ini adalah keberhasilan menekan volume limbah plastik.

Baca Juga: Jelang Pilkades Serentak 2027, Bakesbangpol Jember Petakan Kerawanan di Gumukmas

Lewat program unggulan bertajuk Si Cantik (Sekolah Indah Tanpa Sampah Plastik), sekolah secara tegas menerapkan aturan bebas plastik.

Para siswa dilarang membawa makanan atau minuman berbungkus plastik sekali pakai dari luar.

Kebijakan serupa wajib dipatuhi oleh para pengelola kantin dan warung sekolah. Hasilnya, volume sampah plastik di sekolah ini kini hampir mendekati nol.

​Sukses menolkan sampah plastik di area sekolah tak lantas membuat gerakan ini berhenti di dalam pagar.

Langkah edukasi diteruskan hingga ke hunian para murid lewat program Si Sesa (Aksi Sedekah Sampah).

Lewat program ini, para siswa diajari cara memilah dan memilih sampah sejak dari dapur rumah masing-masing.

Sampah organik diolah sendiri di rumah, sedangkan sampah residu baru dibuang ke tempat penampungan.

Baca Juga: Batuk dan Demam Mewabah, RS Bina Sehat Jember Imbau Warga Waspadai Penyakit ISPA

​Menariknya, untuk sampah anorganik rumah tangga yang masih bernilai ekonomis, para murid dianjurkan untuk membawanya ke sekolah sebagai bentuk sedekah.

Sampah-sampah anorganik bernilai jual tersebut kemudian dikumpulkan dan disetorkan ke Bank Sampah Induk (BSI) setiap hari Jumat.

​Siapa sangka, dari gerakan sedekah sampah ini, mengalir dana segar yang tidak sedikit.

"Setiap minggunya, dari penimbangan sampah yang dibawa ke BSI, bisa menghasilkan uang sekitar Rp 75.000 hingga Rp 100 ribu. (nur)

Editor : M ADHI SURYA
Jember SMPN 1 Balung TPA Sampah