Radar Jember — Jalur penghubung utama antara Kabupaten Jember dan Banyuwangi, tepatnya di kawasan Gumitir, Dusun Curahdamar, Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, kembali mengalami keretakan.
Titik retakan baru ini terpantau berada di badan jalan tikungan tajam setelah area pemancar TVRI jika dari arah Jember.
Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Jember di lapangan, retakan aspal yang berada tepat di pinggir jurang tersebut tampak cukup panjang dan jelas. Sebelumnya, titik di sekitar lokasi ini memang sempat menjadi perhatian serius.
Baca Juga: Pemkab Jember Bentuk Satgas Khusus Penegak Aturan Penataan Pasar Tanjung
Keretakan mulanya muncul akibat terjangan air hujan pada musim penghujan tahun-tahun sebelumnya, bahkan sebelum proyek perbaikan besar digulirkan di tikungan Mbah Singo tahun 2025 lalu. Kondisi tersebut diperparah dengan struktur bawah jurang yang terus menggerus bagian bibir jalan.
Sebagai penanganan darurat kala itu, warga bersama pihak terkait sempat memasukkan karung-karung berisi tanah untuk menahan laju air agar tidak masuk ke celah retakan, serta menutup celah tersebut dengan cairan semen.
"Di bawah pagar besi pengaman jalan sebenarnya sudah ambrol, tetapi sempat ditopang pakai karung pengaman. Sekarang retakan muncul lagi dan semakin panjang. Posisinya berada di tikungan setelah pemancar TVRI dari arah Jember," ujar Pak Santy, salah seorang warga Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo.
Baca Juga: Jalan Panjang Batik Jember, Dari Euforia Seragam ASN hingga Asa Pembatik Pinggiran
Bayang-Bayang Kerusakan Pasca-Penutupan 2025
Kemunculan kembali retakan ini memantik kekhawatiran mendalam bagi para pengguna jalan dan warga sekitar.
Pasalnya, jalur vital ini sebelumnya pernah mengalami kerusakan parah hingga memaksa pemerintah memberlakukan penutupan total Jalur Gumitir selama dua bulan penuh pada 24 Juli hingga 24 September 2025 lalu guna keperluan preservasi jalan dan penanganan longsoran.
Kendati perbaikan besar telah dilakukan pada tahun tersebut, hantaman cuaca ekstrem serta beban mobilitas yang tinggi kembali menguji ketahanan struktur tanah di jalur lereng gunung ini.
Selain faktor cuaca, keberadaan pohon beringin berukuran besar yang tumbuh tepat di bibir jurang dekat titik retakan turut memperbesar risiko. Warga menilai, hempasan angin kencang pada pohon tersebut dapat menambah beban mekanis pada tanah di pinggir jalan.
Belum lagi getaran konstan dari lalu-lalang truk-truk besar bermuatan berat yang setiap hari melintasi jalur logistik utama Jawa-Bali ini.
"Sekarang retaknya jalan semakin panjang. Kalau pas musim hujan nanti akan semakin parah karena bagian bawah sudah longsor duluan sejak musim penghujan lalu," ungkap Pak Santy memperingatkan.
Warga berharap instansi terkait dapat segera mengambil langkah penanganan konkret, seperti memangkas pohon beringin besar guna mengurangi beban angin, serta memperbaiki struktur penahan tanah.
Baca Juga: Sentuhan Motif Lokal Batik Karimata Jember Tarik Minat Wisatawan Mancanegara
"Jangan menunggu ambrol baru ada penanganan. Kalau dibiarkan, jalan penghubung dua kabupaten ini akan terancam terputus," pungkasnya. (jum/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh