Bawa Gagasan Masyarakat Adat, Mahasiswi Unmuh Jember Sabet Juara Esai ASEAN

M Adhi Surya • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 08:00 WIB
KEREN: Tulisan Faizatul Khoiriyah, Mahasiswi Unmuh Jember sabet juara esai dunia. (UNMUH JEMBER)
KEREN: Tulisan Faizatul Khoiriyah, Mahasiswi Unmuh Jember sabet juara esai dunia. (UNMUH JEMBER)

Radar Jember - Keresahan terhadap krisis lingkungan membawa Faizatul Khoiriyah menelusuri pengetahuan masyarakat adat, hingga melahirkan gagasan tentang masa depan berkelanjutan ASEAN dan mengantarkannya meraih juara internasional.

Ada yang terasa janggal bagi Faizatul Khoiriyah ketika dunia sibuk mencari teknologi untuk menyelamatkan lingkungan.

Di tengah pembicaraan tentang kecerdasan buatan, energi bersih, dan inovasi hijau, justru ada pengetahuan yang sudah lama hidup di tengah masyarakat tetapi kerap berada di pinggir pembahasan, yaitu cara masyarakat adat menjaga alam.

Kegelisahan itu tidak berhenti sebagai pertanyaan di kepala. Faizatul mulai menelusuri berbagai literatur tentang masyarakat adat dan lingkungan di kawasan Asia Tenggara atau ASEAN.

Baca Juga: Pemkab Jember Bentuk Satgas Khusus Penegak Aturan Penataan Pasar Tanjung

Ia ingin melihat lebih jauh bagaimana pengetahuan yang diwariskan antar generasi tersebut bisa ditempatkan dalam upaya menghadapi krisis iklim dan membangun masa depan kawasan yang lebih berkelanjutan.

Dari penelusuran itu, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unmuh Jember tersebut menemukan banyak praktik lokal yang menarik.

Muyong di Filipina, Subak di Bali, hingga Sasi di Maluku menjadi contoh bahwa masyarakat memiliki cara sendiri dalam mengatur hubungan dengan alam.

Pengetahuan tersebut lahir dari pengalaman panjang, bukan sekadar teori yang tersimpan di buku. “Menurut saya, pengetahuan masyarakat adat tidak seharusnya hanya dilihat sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan untuk menghadapi persoalan lingkungan,” kata Faizatul.

Dari pemikiran itu, ia mencoba mempertemukan dua dunia yang selama ini kerap berjalan sendiri-sendiri, pengetahuan lokal dengan riset akademis dan teknologi modern. Perjalanan menemukan gagasan itu tidak sederhana.

Baca Juga: Pemkab Jember Temui BP Taskin di Jakarta, Perkuat Kolaborasi Pengentasan Kemiskinan

Faizatul harus memilah berbagai sumber, membaca literatur, menyusun hubungan antara satu pengetahuan dengan lainnya, hingga mencari bentuk gagasan yang bisa diterapkan dalam skala kawasan.

Tantangan bertambah ketika seluruh pemikiran tersebut harus dituangkan dalam bahasa Inggris agar dapat dibaca dan dinilai dalam kompetisi tingkat ASEAN.

Hasil penelusuran itu kemudian dituangkan dalam esai berjudul “Epistemological Pluralism and Epistemic Resilience: Reimagining ASEAN’s Sustainable Future Through Indigenous Knowledge Systems and Regional Governance”.

Ia tidak sekadar membahas pentingnya pengetahuan masyarakat adat, tetapi menawarkan AIKERP atau ASEAN Indigenous Knowledge and Ecological Resilience Platform sebagai ruang yang mempertemukan masyarakat adat, akademisi, dan generasi muda.

Melalui platform tersebut, Faizatul membayangkan pengetahuan lokal tidak berhenti menjadi dokumentasi budaya. Pengetahuan tentang cara menjaga hutan, mengelola air, maupun membatasi pemanfaatan sumber daya bisa dikaji bersama, dipertukarkan lintas negara, kemudian dipadukan dengan penelitian dan teknologi.

Dengan begitu, budaya tidak hanya menjadi identitas, tetapi juga modal untuk membangun kolaborasi ASEAN menghadapi persoalan lingkungan. Gagasan tersebut akhirnya dibawa Faizatul dalam 3rd ASEAN FUSION 2026 yang diselenggarakan Ifugao State University (IFSU), Filipina.

Awalnya, ia mengikuti kompetisi bertema Navigating Our Future, Together itu tanpa memasang target juara. Dorongan Kaprodi menjadi pemantik keberaniannya untuk mencoba. “Yang penting berani mencoba dan ambil pengalaman dulu,” ujarnya.

Kabar bahwa dirinya meraih Juara 1 Essay Writing justru datang setelah proses panjang tersebut selesai. Bagi Faizatul, penghargaan itu bukan sekadar hasil dari sebuah kompetisi, melainkan pengalaman menemukan bahwa gagasan yang berangkat dari pengetahuan lokal bisa dibawa ke panggung regional.

“Jangan pernah minder atau ragu dengan potensi diri sendiri. Sering kali musuh terbesar kita bukanlah persaingan yang ketat, melainkan rasa ragu sebelum mencoba,” pungkasnya. (dwi)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
Jember Unmuh Jember Lomba esai ASEAN masyarakat adat