Punya Insting Sensitif, Kuda Wisata Bisa Deteksi Rasa Takut dan Grogi Penunggang

Yulio Faruq Akhmadi • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 09:00 WIB
SIAP MENUNGGANG: Pengunjung Jember Mini Zoo mencoba wahana menunggangi kuda, beberapa waktu lalu. (YULIO FA/RADAR JEMBER)
SIAP MENUNGGANG: Pengunjung Jember Mini Zoo mencoba wahana menunggangi kuda, beberapa waktu lalu. (YULIO FA/RADAR JEMBER)

Radar Jember – Tren wisata berkuda belakangan kian digandrungi. Bukan sekadar menawarkan pengalaman baru, menunggangi kuda juga kerap menjadi aktivitas menarik untuk dibagikan di media sosial.

Baik kaum hawa maupun adam, sama-sama bisa menjajal sensasi menunggangi hewan berukuran besar tersebut.

Namun, tak semua orang memiliki ketenangan saat pertama kali mencoba menunggangi kuda. Rasa takut atau grogi justru dapat memengaruhi kuda yang ditunggangi. Jika tidak tenang, pengalaman berkuda yang seharusnya menyenangkan bisa berujung sebaliknya.

Baca Juga: HKTI Jember Perkuat Jaringan hingga Tingkat Desa, Kawal Akses Pupuk Petani

Zoo Keeper Divisi Kuda Jember Mini Zoo, Rosi Saputra, mengatakan kuda merupakan hewan yang memiliki insting kuat dan sensitif terhadap kondisi penunggang. Kuda dapat merasakan ketika orang yang hendak menungganginya dalam kondisi ragu atau takut.

“Yang pertama kita enggak boleh ragu, harus rileks. Karena kuda itu instingnya kuat sekali. Ketika kita mendekati kuda atau mau naik kuda dengan keadaan ragu, dia juga akan merasakannya,” jelas Rosi.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat membuat kuda ikut takut. Karena itu, penunggang pemula perlu tetap santai ketika mendekati maupun saat menaiki kuda. Sikap penunggang akan turut memengaruhi respons kuda.

Lebih jauh, karakter setiap kuda berbeda-beda. Ada kuda yang tidak mudah menerima orang asing sehingga lebih gampang kaget atau takut.

Ada pula yang memiliki karakter agresif, seperti menggigit atau menendang. Namun, ada juga kuda yang jinak dan mudah akrab dengan manusia. “Jadi tidak semua kuda bisa jadi kuda wisata,” katanya.

Baca Juga: Bertemu di Final, SMAN Rambipuji Vs SMAN Balung dalam Turnamen Bahlil Mini Soccer Zona 10 Jember

Untuk wisata, jenis kuda yang digunakan antara lain Sandel dan Poni. Rosi menyebut kedua jenis tersebut memiliki karakter yang lebih tenang serta ukuran yang sesuai untuk aktivitas wisata.

Sementara kuda untuk atlet umumnya menggunakan jenis Thoroughbred atau Warmblood.

Kemampuan kuda membawa penunggang juga perlu disesuaikan dengan kondisi dan usia kuda. Kuda Sandel dengan berat sekitar 350 kilogram, misalnya, dapat membawa penunggang dengan berat sekitar 70 kilogram.

Untuk kuda muda berusia sekitar 5 hingga 10 tahun, kemampuan membawa beban bisa mencapai sekitar 80 kilogram.

Sedangkan kuda yang sudah memasuki usia 20 hingga 25 tahun perlu dikurangi beban tunggangannya.

Untuk aktivitas wisata dengan berjalan santai, kuda dapat ditunggangi sekitar satu hingga dua jam. Dalam sehari, jarak tempuhnya disebut bisa mencapai sekitar 30 kilometer.

Baca Juga: Wakil Jember Melaju ke Bahlil Mini Soccer Jatim

Dari sisi perawatan, kuda wisata dan kuda atlet pada dasarnya mendapat perawatan yang hampir sama. Pakan kuda didominasi hijauan sekitar 70 persen, ditambah konsentrat dan pelet.

Bedanya, perawatan kuda atlet biasanya lebih ekstra, termasuk memandikan menggunakan air hangat.

Harga kuda juga tidak hanya ditentukan oleh jenis maupun biaya perawatannya. Menurut Rosi, karakter menjadi salah satu faktor yang turut menentukan nilai seekor kuda.

Semakin jinak dan mudah beradaptasi dengan manusia, semakin sulit proses pembentukan karakternya.

“Jadi kuda itu mahal karena membentuk karakternya susah, jadi yang dijual ilmu membentuk karakter kuda,” pungkasnya. (yul/dwi)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
Jember jember mini zoo kuda mini zoo