Radar Jember - Setiap tanggal 2 Oktober, parade busana batik membanjiri ruang publik. Dari perkantoran pemerintah, institusi pendidikan, hingga pusat perbelanjaan. Ragam motif batik dikenakan dengan penuh kebanggaan.
Namun, di balik seremonial tahunan hari batik nasional tersebut, muncul pertanyaan krusial mengenai dampak riil momentum ini terhadap kesejahteraan para perajin. Apakah geliat permintaan batik benar-benar dirasakan hingga ke ceruk-ceruk desa, atau sekadar menjadi perayaan gaya hidup sesaat?
Di Jember, tantangan memajukan industri kreatif ini ditanggapi dengan merombak strategi dari hulu ke hilir. Eksistensi batik tidak lagi dipandang semata sebagai warisan adiluhung, tapi sebagai motor penggerak ekonomi riil yang bertumpu pada pemerataan kawasan.
Baca Juga: HKTI Jember Perkuat Jaringan hingga Tingkat Desa, Kawal Akses Pupuk Petani
Upaya menggeser sentrum ekonomi kreatif keluar dari pusat kota salah satunya diwujudkan di Desa Pringgondani, Kecamatan Sumberjambe, Jember, belum lama ini. Desa yang hampir berbatasan langsung dengan Kabupaten Bondowoso ini diproyeksikan menjadi salah satu sentra baru produksi batik Jember.
"Hampir setiap kesempatan kami selalu mengenakan batik, termasuk melalui Dekranasda, mendorong pelatihan untuk para perempuan menjadi pembatik. Kami juga mendorong untuk branding dan marketnya," kata Wakil Sekretaris Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Jember, Puspita Yuandini, Minggu (4/10).
Dini, mengemukakan bahwa Dekranasda Jember sempat membidik kawasan pelosok itu mendapat suntikan alokasi anggaran hingga Rp 300 juta dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Bantuan yang diklaim sebagai salah satu alokasi terbesar untuk sektor pelatihan wirausaha ini dialokasikan untuk menggembleng 50 anak muda berusia 17–24 tahun yang mayoritas perempuan milenial selama 50 hari, terhitung mulai akhir Juni kemarin, (29/6).
Menurut Dini, penekanan program batik ini terletak pada keberlanjutan usaha. Kurikulum pelatihan didesain tidak hanya terbatas pada teknik memegang canting dan pewarnaan kain. Tetapi juga mencakup aspek legalitas usaha melalui pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB) serta strategi pemasaran digital.
Baca Juga: Bertemu di Final, SMAN Rambipuji Vs SMAN Balung dalam Turnamen Bahlil Mini Soccer Zona 10 Jember
"Kami tidak ingin pelatihan ini hanya jadi seremonial, habis pelatihan selesai, tidak seperti itu. Jadi, goal-nya jelas, temen-temen itu nanti harus mandiri secara ekonomi," kata Dini.
Ia menambahkan, penempatan program di wilayah pelosok merupakan bagian dari arahan kebijakan pembangunan daerah agar pertumbuhan ekonomi tidak berkutat di kawasan perkotaan semata.
Terpisah, Ketua Dekranasda Jember, Ghyta Eka Puspita, menggarisbawahi bahwa pengembangan batik di Sumberjambe dirancang untuk memiliki daya saing ganda.
Selain menghasilkan produk fisik, kawasan ini diproyeksikan menjadi destinasi wisata berbasis pengalaman. Yaitu wisatawan dapat belajar membatik secara langsung.
"Membatik bukan hanya tentang membuat kain menjadi indah. Tetapi juga tentang menjaga warisan budaya sekaligus membuka peluang bagi masyarakat untuk terus berkarya dan berkembang," kata Ning Ghyta.
Ning Ghyta, sapaan dia, menilai integrasi antara nilai seni, potensi wisata, dan pemanfaatan platform digital menjadi kunci agar batik buatan perajin lokal mampu bersaing dan menjangkau pasar di luar daerah.
Baca Juga: Wakil Jember Melaju ke Bahlil Mini Soccer Jatim
"Jadi peserta harus terus mengembangkan keterampilan ini hingga memiliki nilai jual tinggi," tambah perempuan yang juga Ketua TPP PKK Jember itu.
Di sisi hilir, kepastian pasar menjadi faktor penentu agar produksi batik lokal dapat terserap secara konsisten. Guna menopang ekosistem UMKM, pemerintah daerah menerapkan kebijakan afirmatif melalui Surat Edaran (SE) Bupati. (mau/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh