Radar Jember – Sirene meraung, kentongan dipukul terus-menerus, dan warga bergegas meninggalkan rumah.
Bukan karena gempa dan tsunami benar-benar terjadi, melainkan karena Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas, sedang menguji seberapa siap warganya menghadapi bencana yang sewaktu-waktu bisa datang.
Ratusan warga berlari menuju Balai Desa Kepanjen yang ditetapkan sebagai titik kumpul aman dalam latihan evakuasi mandiri, akhir pekan kemarin.
Baca Juga: Tembus Kecepatan 55 Km/Jam! Atlet Downhill Jember Adam Muhamad Akbar Sabet Emas di Banyuwangi
Anak-anak sekolah, guru, hingga warga dari sejumlah dusun mengikuti simulasi evakuasi yang dibuat menyerupai kondisi darurat.
Begitu tanda peringatan dibunyikan, warga diarahkan mengikuti jalur yang telah ditentukan sembari mengutamakan keselamatan kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, anak-anak, dan penyandang disabilitas.
Latihan tersebut digelar Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat) Desa Kepanjen dengan pendampingan Palang Merah Indonesia (PMI) Jember untuk membiasakan warga tidak bingung ketika harus menyelamatkan diri.
Kesiapan dan kesigapan warga terlihat ketika sebagian memilih menggunakan sepeda motor untuk menjemput anggota keluarga yang membutuhkan bantuan.
Namun, tidak semua bergerak dengan kecepatan yang sama karena sebagian warga masih menganggap kegiatan tersebut sebatas simulasi.
Baca Juga: Bikin Panik Pengendara! SPBU Sabtuan Jember Jadi Satu-Satunya Titik yang Langganan Antrean Panjang
Akan tetapi, kondisi tersebut menjadi bagian penting dari latihan karena respons warga perlu diketahui sebelum menghadapi keadaan sebenarnya.
Selain menguji kecepatan evakuasi, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mengenalkan kembali jalur menuju titik aman, pola komunikasi saat peringatan bencana muncul, serta cara membantu warga yang memiliki keterbatasan.
Proses evakuasi dipantau langsung Ketua PMI Jember Zainollah bersama Kepala Desa Kepanjen Sukhamid.
Babinsa, Bhabinkamtibmas, BPBD, dan sejumlah relawan juga ikut mengarahkan warga selama latihan berlangsung, sehingga jalur evakuasi dapat berjalan sesuai skenario.
Setelah kegiatan, hasil latihan akan dievaluasi untuk melihat titik-titik yang masih perlu diperbaiki, termasuk pola pergerakan warga menuju lokasi aman.
Ketua Sibat Desa Kepanjen Muklas mengatakan latihan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan warga agar mengetahui apa yang harus dilakukan ketika gempa dan tsunami benar-benar terjadi.
Evaluasi dari latihan kali ini akan digunakan sebagai bahan persiapan simulasi yang lebih besar dengan melibatkan ribuan warga pada Desember 2026 atau Januari 2027.
“Latihan hari ini akan kami evaluasi secara menyeluruh sebagai persiapan menghadapi simulasi skala besar,” kata Muklas. (kin/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh