Malam Pertama Penertiban Pasar Tanjung, Madas Sedarah dan Laskar Jahanam Berjaga

M Adhi Surya • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 20:38 WIB
Pikap sayur membawa rombongan pedagang sayur menjemput bahan dagangan. (M. ADHI SURYA/RADAR JEMBER)
Pikap sayur membawa rombongan pedagang sayur menjemput bahan dagangan. (M. ADHI SURYA/RADAR JEMBER)

Radar Jember – Penertiban kawasan Pasar Tanjung pada malam pertama belum membuat arus lalu lintas lebih lancar. 

Ruas Jalan Samanhudi yang diberlakukan satu arah dari selatan menuju utara justru terlihat semakin padat. 

Di tengah kepadatan kendaraan, dua organisasi kemasyarakatan (ormas) juga terlihat berjaga di sisi berbeda kawasan pasar.

Baca Juga: Hari Kedua Uji Coba Pengalihan Arus di Jember, Jalan Trunojoyo Macet Parah

Di sisi selatan, sejumlah anggota Madas Sedarah berada di sekitar pedagang dan warga lokal. 

Sementara di sisi utara, Laskar Jahanam terlihat berada di sekitar pedagang sayur yang menggunakan mobil pikap. 

Tidak terjadi bentrokan, tetapi penjagaan di dua sisi tersebut membuat situasi malam pertama penertiban Pasar Tanjung terasa lebih tegang.

Baca Juga: Komisi A DPRD Jember Usut Dugaan Indisipliner ASN Bakesbangpol Berinisial HWA

Ahmad Zainal Anam, salah seorang tengkulak sayur asal Jenggawah, mengatakan kepadatan pada malam pertama penertiban justru lebih parah dibandingkan malam sebelumnya. 

Kendaraan pedagang yang bergerak dalam satu jalur harus berdesakan dengan aktivitas perdagangan di kawasan pasar. 

"Ini malam malah lebih padat dari sebelumnya," tuturnya.

Menurut Anam, ketegangan yang muncul berkaitan dengan pedagang sayur pikap dan warga lokal yang sama-sama beraktivitas di kawasan Pasar Tanjung. 

Namun, dia menilai persoalan utamanya lebih berkaitan dengan pengaturan waktu berjualan. 

Ada pedagang yang berada di bagian atas dan ada pula yang berjualan di bagian bawah dengan menempati bahu jalan.

Anam juga menyayangkan keterlibatan dua ormas dalam persoalan tersebut. 

Menurut dia, keberadaan dua kelompok di sisi berbeda kawasan pasar justru membuat batas antara pedagang dan warga semakin terlihat. 

Meski begitu, hingga larut malam situasi tetap kondusif dan tidak terjadi bentrokan.

Sementara itu, Ketua Umum Laskar Jahanam Jember Dwi Agus Budiyanto mengatakan pihaknya diminta langsung oleh paguyuban pedagang sayur yang berjualan di sepanjang Jalan Samanhudi. 

Pedagang tersebut terdiri atas pengguna mobil pikap maupun pedagang blenjo alias motor. 

"Kami diminta langsung oleh teman-teman paguyuban pedagang sayur, baik yang menggunakan pikap maupun blenjo alias motor, yang berjualan di sepanjang Jalan Samanhudi," katanya.

Dwi Agus mengatakan kebijakan pengosongan pedagang di sepanjang Jalan Samanhudi cukup merugikan karena lapak mereka harus ditutup. 

Menurut dia, kondisi tersebut berdampak langsung terhadap pedagang yang selama ini mengandalkan lokasi tersebut untuk mencari nafkah. 

"Artinya ada upaya mematikan lahan jualan mereka untuk mencari nafkah," tuturnya.

Selain persoalan lapak, Dwi Agus menilai para pedagang tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan, terutama untuk mencari solusi yang tidak merugikan semua pihak. 

"Pada dasarnya kami menghormati bilamana kebijakan tersebut ditujukan agar pedagang yang ada di dalam juga memiliki hak yang sama, namun caranya bukan berarti mematikan lapak pedagang lainnya," ujarnya.

Laskar Jahanam, lanjut Dwi, telah bersurat kepada pemerintah setempat untuk meminta hearing atau penyerapan aspirasi dari paguyuban pedagang di sepanjang Jalan Samanhudi. 

Namun, hingga malam pertama penertiban Pasar Tanjung, permintaan tersebut belum mendapat tindak lanjut.

Sementara itu, Sekjen Madas Sedarah Jember Moh Taufiqurrahman mengatakan kehadiran pihaknya di kawasan Pasar Tanjung berdasarkan kuasa dari warga lokal dan pedagang resmi yang meminta pendampingan. 

Menurut dia, para pedagang tersebut merasa sudah lama mengalami persoalan dalam aktivitas berjualan di kawasan Pasar Tanjung.

"Kami teman-teman dari Madas Sedarah ini menerima kuasa dari warga lokal sama pedagang yang resmi untuk mendampingi karena mereka merasa sudah 10 tahun tertindas. Jadi kami ini dengan panggilan hati menerima kuasa dari mereka," katanya.

Taufiqurrahman menegaskan Madas Sedarah tidak datang untuk melakukan aksi ataupun mencari benturan. 

Penjagaan dilakukan untuk menjaga kondisi tetap kondusif, terutama setelah muncul informasi mengenai rencana pemblokiran Jalan Samanhudi berkaitan dengan perubahan arus lalu lintas. 

"Kami hadir untuk tetap menjaga kondusivitas supaya apa yang direncanakan atau yang penataan dari pemerintah atau dari pasar setempat itu berjalan dengan lancar," ujarnya.

Dia berharap penataan Pasar Tanjung tetap berjalan sesuai komitmen pemerintah. Taufiqurrahman menyebut pemerintah telah menyediakan lokasi bagi pedagang yang berjualan di pinggir jalan, termasuk tempat di Pasar Gebang. 

"Harapannya Pasar Tanjung ini semuanya damai, berjalan dengan lancar. Penataannya dari Bupati itu berjalan dengan lancar dan semoga solusi dari pemerintah dapat diterima baik oleh kalangan teman-teman pedagang," pungkasnya. (jum/dhi)

Editor : M ADHI SURYA
madas sedarah jahanam Jember pasar tanjung