Radar Jember - Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) berkolaborasi BI, LPPI, hingga OJK telah membuka kompetisi PIDI DIGDAYA x Hackathon 2026, sebuah ajang inovasi digital yang mendorong lahirnya solusi teknologi dengan dampak bagi perekonomian Indonesia.
Rangkaian kompetisi itu sudah selesai digelar 24 September lalu. Namun, ada satu nama dari Jember, dia adalah Ahmad Fatikhul Hasan. Apa inovasinya?
Di tengah riuhnya Jakarta International Convention Center (JICC), Kamis, 24 September, sebuah nama dari Jember disebut dalam panggung penghargaan PIDI DIGDAYA x Hackathon 2026. Nama itu adalah Ahmad Fatikhul Hasan, atau Fatih.
Baca Juga: Respons Kode Maju Pilgub Jatim, Gus Fawait: Keputusan di Jakarta, Tugas Saya Tuntaskan Jember
Ia bukan bagian dari tim besar dengan banyak anggota. Ia datang membawa gagasan yang dibangun hampir seorang diri melalui Hamparan Institute, lembaga di bawah naungan PT Hamparan Berkah Teknologi. Fatih akhirnya membawa pulang Juara III kategori profesional.
Sejak sekitar April 2026, Fatih mengikuti program tersebut dengan membawa sebuah platform bernama Hamparan Risk Ledger (HRL).
“Gagasan itu lahir dari kegelisahan yang sederhana: bagaimana menelusuri rekam jejak seseorang ketika informasi yang dibutuhkan sebenarnya tersedia, tetapi tersebar di begitu banyak tempat,” terangnya.
Dalam pekerjaannya sebagai analis risiko dan kepatuhan di lembaga keuangan global, Fatih terbiasa berhadapan dengan proses pemeriksaan calon nasabah, debitur, maupun mitra bisnis. Rekam jejak hukum, eksposur politik hingga pemberitaan negatif menjadi bagian dari informasi yang harus ditelusuri.
Namun ketika melihat kondisi di Indonesia, ia menemukan persoalan lain. Data publik tersedia dalam jumlah besar, tetapi belum terintegrasi secara sistematis.
Baca Juga: Delapan Guru Besar Lolos Administrasi Bakal Calon Rektor UIN KHAS Jember 2026-2030
“Riwayat perkara pengadilan di Indonesia sebenarnya terbuka untuk umum, tetapi informasinya tersebar di ratusan situs pengadilan negeri yang berdiri sendiri-sendiri tanpa indeks nasional,” jelas Fatih.
Dari persoalan itulah HRL dibangun. Platform tersebut mencoba mengubah data publik yang tersebar menjadi informasi intelijen risiko yang lebih mudah ditelusuri. Sumbernya beragam, mulai dari data perkara pengadilan, daftar sanksi, informasi pejabat publik dan Politically Exposed Persons (PEP), hingga pemberitaan media.
Hingga 27 September 2026, HRL telah mengindeks lebih dari 303 ribu perkara dari 205 pengadilan negeri, 538 nama dalam daftar sanksi nasional, 2.412 mandat pejabat publik dan PEP dari 112 surat keputusan KPU, serta 124.626 judul berita berisiko dari 635 portal media terverifikasi Dewan Pers.
Angka-angka tersebut menggambarkan skala pekerjaan yang tidak kecil bagi sebuah platform yang dibangun dari Jember. Namun bagi Fatih, membangun teknologi bukan sekadar persoalan membuat sistem bekerja. Ada persoalan yang lebih penting: memastikan data yang digunakan benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
Produk HRL diuji langsung kepada dua praktisi dengan menggunakan protokol tertulis. Bahkan hasil pengujian, termasuk kritik dan penilaian rendah, dipublikasikan secara terbuka. Bagi Fatih, mengakui keterbatasan justru menjadi bagian dari membangun kepercayaan. Salah satu contohnya adalah fitur penelusuran data kepailitan yang hingga kini belum tersedia dalam platform tersebut.
Kompetisi yang digelar melalui kolaborasi Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI), Asosiasi FinTech Indonesia (AFTECH), Asosiasi Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing Indonesia (APUVINDO), dan Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) itu menerima 2.094 proposal dari seluruh Indonesia.
Peserta kemudian melewati berbagai tahapan. Mulai dari Essential Training yang diikuti 800 peserta, Practitioner Training dengan 480 peserta, Capstone Project yang menyaring 80 tim, hingga akhirnya tersisa 20 finalis.
Proses penjurian berlangsung di Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Jalan Kemang Raya Nomor 35, Jakarta. Di kategori profesional, Hamparan Institute akhirnya berada di posisi ketiga. Juara pertama diraih ADAKarir dari PT ADACareer, Riau, sedangkan juara kedua diraih Kayu Rambat Labs dari Telkomsel, Banten.
“Tujuan besarnya bukan sekadar membuat sebuah software, tetapi ikut membangun kemandirian infrastruktur intelijen risiko dan memperkuat kedaulatan data Indonesia,” ujarnya.
Kemenangan tersebut kemudian membawa Fatih pada satu harapan lain. HRL diharapkan tidak hanya berguna bagi perusahaan besar. Ia ingin teknologi tersebut dapat dimanfaatkan lembaga keuangan kecil dan daerah, seperti BPR maupun BMT, yang menghadapi tuntutan kepatuhan tetapi memiliki keterbatasan anggaran untuk menggunakan layanan penyedia data global.
“Menurut saya, inovasi yang baik bukan selalu tentang menciptakan sesuatu yang paling canggih, tetapi tentang seberapa baik kita memahami masalah dan seberapa tepat solusi yang kita bangun untuk menjawabnya,” kata Fatih.
Sementara, Yoga Satria Pj. Ketum HIPMI Jember, menambahkan terbentuknya hamparan institute di Jember akan membawa wajah baru dan menjadi satu satunya lembaga penelitian Independen di Jember yang akan mendukung infrastruktur data primer. Mulai dari pangan, perbankan, energi, dan ilmu makro. (adwi)
Editor : Imron Hidayatullahh