Radar Jember - Mahasiswa Universitas Jember, terutama yang kost di sekitar Jalan Jawa, mulai tak menempatkan deretan lesehan di kawasan tersebut sebagai pilihan utama untuk mencari menu sarapan hingga makan malam.
Alasannya beragam. Mulai dari pengalaman soal kualitas makanan yang dianggap kurang memuaskan, kekhawatiran mengenai kebersihan, bahkan ada mahasiswa yang mengaku trauma setelah beberapa kali mendapatkan makanan yang dinilai kurang fresh.
Salah satunya diceritakan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unej, Selly Azizatul Imaniyah.
Baca Juga: Bangun Budaya Literasi Sejak Dini, Kegiatan Mendongeng Perkuat Literasi Anak TK B Star Jember
Mahasiswa yang kini kost di Perumahan Mastrip itu mengaku, saat menjadi mahasiswa baru, lesehan Jalan Jawa menjadi pilihan pertama karena lokasinya mudah dijangkau dan harganya relatif terjangkau.
“Saya inget banget, pas pertama kali masuk kuliah belinya daerah sana,” kata perempuan asal Wuluhan itu.
Namun, pengalaman yang didapatnya saat membeli makanan di kawasan tersebut justru membuatnya mulai mencari pilihan lain. Menurut Selly, beberapa menu yang dibelinya terkadang tidak fresh, bahkan ada yang terasa tengik.
Kondisi itu membuatnya kapok untuk terlalu sering membeli makanan di sana. “Karena saya nggak tahu mau beli di mana lagi, jadi beli di situ. Tapi sering kali nggak enak. Kadang ayam krispinya keras, selain itu kadang ada yang kayak beberapa kali dipanaskan, jadi kurang fresh. Jadi saya mulai cari tempat lain,” terangnya.
Penelusuran Jawa Pos Radar Jember, sebagian mahasiswa kini lebih tertarik membeli makan siang di kantin kampus. Kondisi itu jauh berbeda dengan perkuliahan awal tahun 2000–2015, kala itu kantin kampus kurang representatif. Baik menu makanannya maupun lokasinya.
Baca Juga: Minim Regenerasi, Pordasi Jember Bakal Sosialisasi Olahraga Berkuda ke Sekolah-Sekolah
Sejak Unej melakukan rehabilitasi gedung di hampir fakultas, kini setiap fakultas memiliki kantin yang menyediakan berbagai pilihan makanan. Lokasinya juga dianggap lebih praktis karena mahasiswa tidak perlu keluar dari lingkungan kampus.
Seperti disampaikan mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Unej, Evelyn Ramadhani Wibowo. Ketika aktivitas kuliah cukup padat, dia lebih memilih membeli makanan di sejumlah kantin yang berada di dalam kampus.
“Pilihan menu beragam, tempatnya nyaman, nggak perlu repot-repot cari di luar kampus,” kata mahasiswa semester 5 tersebut.
Saat ditanya mengenai lesehan Jalan Jawa, Evelyn mengaku enggan menjadikan kawasan itu sebagai tujuan mencari makanan. Salah satu pertimbangannya adalah informasi yang pernah didengarnya mengenai kebersihan makanan di kawasan tersebut.
Selain itu, Evelyn mengaku cukup selektif memilih tempat makan dan terbiasa melihat ulasan di media sosial sebelum menentukan pilihan. “Di sana sepi, sedangkan saya biasanya cari yang ramai dan yang banyak review positifnya,” jelasnya.
Menurut Evelyn, kondisi tersebut membuat lesehan Jalan Jawa tak lagi terlalu menarik di mata sebagian mahasiswa. Jika tidak makan di kantin kampus, maka ada pilihan go food hingga mencari mencari warung di kawasan perumahan. “Nggak apa-apa sedikit lebih jauh, tapi makanannya worth it,” katanya.
Baca Juga: Hanung Bramantyo Ajak Generasi Muda Jember Melek Sejarah Lewat Film 'Lobang Buaya'
Lebih jauh, Evelyn menilai mahasiswa saat ini sudah jarang menjadikan kawasan Jalan Jawa sebagai tujuan utama mencari makanan. Meski demikian, bukan berarti kawasan tersebut benar-benar kehilangan pembeli.
Dia masih melihat sejumlah orang datang, terutama mereka yang usianya beberapa tahun lebih tua. Menurutnya, lesehan Jalan Jawa tetap memiliki pelanggan setia karena faktor kenangan dan nostalgia.
“Biasanya yang ke sana banyak yang bukan mahasiswa, mungkin sudah favoritnya di sana atau ingin bernostalgia,” tutupnya. (yul/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh