Lesehan Jalan Jawa Jember Tak Lagi Seksi, PKL Pilih Bertahan meski Sepi Pembeli

M Adhi Surya • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 06:00 WIB
Salah satu lapak pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Jawa, Jember. (M ADHI SURYA/RADAR JEMBER)
Salah satu lapak pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Jawa, Jember. (M ADHI SURYA/RADAR JEMBER)

Radar Jember - Di saat fasilitas pejalan kaki di perkotaan modern digadang-gadang sebagai ruang publik yang ramah dan inklusif.

Di jantung Kota Jember justru memperlihatkan ironi telak: trotoar Jalan Jawa, tepat bersebelahan dengan institusi pendidikan tinggi terkemuka.

Lapak semi permanen beratap terpal kusam kini tak begitu ramai. Bahkan, ada yang tutup dan tinggal gerobak terparkir. 

Baca Juga: Bangun Budaya Literasi Sejak Dini, Kegiatan Mendongeng Perkuat Literasi Anak TK B Star Jember  

Dulu, kawasan ini adalah medan perebutan paling sengit. Para Pedagang Kaki Lima (PKL) rela merogoh kocek hingga jutaan rupiah demi secuil ruang untuk menggelar lapak lesehan di trotoar depan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) serta Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jember (Unej).

Namun, roda zaman berputar; kini lapak-lapak tersebut tampak sepi dan lengang, sebagian bahkan ditinggal tutup tanpa aktivitas.

Kendati demikian, para pedagang tetap bergeming untuk pindah, sementara pemerintah daerah terkesan tutup mata dan membiarkan kawasan strategis ini terjebak dalam pusaran kekumuhan berkepanjangan.

“Kalau dulu awal tahun 2000an lesehan jalan jawa tidak seperti sekarang. Saya dulu jualan sandal serba Rp 5.000 an saat sore hari saja. Tidak membayar juga, tapi tergeser dan lama-lam terusir oleh pedagang lalapan. Katanya sudah membeli lokasi itu,” ungkap Faiz alumnus Fakultas Ekonomi Unej.

Lapak-lapak itu berdiri dengan tiang bambu dan terpal. Bahkan, ada yang memakai besi galvanis. Penyangga besi itu tidak juga memakai badan jalan.

Baca Juga: Minim Regenerasi, Pordasi Jember Bakal Sosialisasi Olahraga Berkuda ke Sekolah-Sekolah

Lesehan Jalan Jawa itu menyimpan cerita panjang tentang karut-marut tata ruang. Siang hari di kawasan ini menyajikan kontras yang tajam.

Di seberang jalan, arus kendaraan bermotor melaju padat. Sementara mahasiswa yang berjalan kaki harus berhimpitan dengan kendaraan bermotor. Karena trotoar tidak lagi pada fungsinya.

Sumarto, salah satu pedagang yang telah berjualan sejak penghujung kepemimpinan Presiden Soeharto, tak menampik realitas pahit tersebut. Menurutnya, masa-masa kejayaan saat lapak disesaki pembeli kini telah lewat.

"Sekarang ya cuma ngopeni pelanggan tetap, kalau pengunjung umum berhenti jarang," ucap Sumarto lirih, menggambarkan betapa area lesehan miliknya lebih sering kosong ketimbang terisi pengunjung.

Bagi Sumarto dan segelintir pedagang lain yang bertahan dan pindah bukan perkara mudah. Memulai dari nol di tempat baru berarti harus merelakan basis pelanggan setia yang telah dibangun selama puluhan tahun.

Meski demikian, alasan psikologis pedagang ini tidak serta-merta menggugurkan fakta substantif bahwa trotoar telah beralih fungsi secara permanen.

Baca Juga: Demi Dongkrak IPM Jember, Pemkab Gandeng Majelis Taklim Integrasikan Program Kejar Paket

Sumarto mengaku, ada beberapa pedagang lainnya tidak berjualan. Tapi alasan jelasnya tidak mengetahui. “Kalau yang tutup itu tidak tahu, tutup berapa hari dan jualan kembali hari apa,” terangnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, pada siang hari jumlah lapak lesehan Jalan Jawa yang tidak tutup ada tujuh pedagang. Jumlah itu bisa bertambah atau berkurang pada malam hari.

Persoalan di Jalan Jawa bukan lagi sekadar urusan sepi atau ramainya dagangan, melainkan bentuk pembiaran struktural terhadap pelanggaran fungsi ruang publik.

Trotoar, secara normatif dan yuridis, diciptakan demi keselamatan serta kenyamanan pejalan kaki. Namun, ketika gerobak dan terpal semi permanen bercokol menahun, hak dasar warga pejalan kaki terampas secara paksa. Pejalan kaki dipaksa mengalah, turun ke badan jalan raya. (dhi/dwi)

Jumlah Pedagang Lesehatan Jalan Jawa 
(Khusus yang berjualan di trotoar samping FEB – FIB Unej)

Total : 30      Nb : Pantauan pada siang hari

Editor : Imron Hidayatullahh
PKL Jalan Jawa Jember PKL pedagang kaki lima