Susu Kedelai Dituding Biang Keracunan di Jember, BGN: Sule Tak Boleh Masuk Menu MBG!

Maulana RJ • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 06:01 WIB
INSPEKSI: Tim Koordinator Pengawas SPPG Regional Jawa Timur dan Muspika setempat melakukan inspeksi di SPPG Gumukmas 02, dapur SPPG yang dikelola Yayasan Berkah Sugih Rezeki, belum lama ini, (23/9). (TAHRIR)
INSPEKSI: Tim Koordinator Pengawas SPPG Regional Jawa Timur dan Muspika setempat melakukan inspeksi di SPPG Gumukmas 02, dapur SPPG yang dikelola Yayasan Berkah Sugih Rezeki, belum lama ini, (23/9). (TAHRIR)

Radar Jember - Badan Gizi Nasional (BGN) akhirnya angkat bicara merespons petaka keracunan massal yang menimpa 28 siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Islah di Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember.

BGN secara tegas melarang penggunaan minuman kemasan sari kedelai atau yang populer disebut sule dalam menu program Makan Bergizi Gratis (MBG).  

​Penegasan tersebut disampaikan oleh Koordinator Pengawas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Regional Jawa Timur, Teguh Bayu Wibowo, bersama jajaran, dan Muspika setempat, saat menggelar inspeksi di SPPG Gumukmas 02, belum lama ini, (23/9).

Baca Juga: Ada Celah 9.815 Kuota Bansos Tak Terserap, Pemkab Jember Minta Kemensos Isi Serentak

​Teguh menyatakan bahwa secara teknis, produk kedelai sama sekali tidak memenuhi kualifikasi sebagai produk susu dalam standar BGN.

"Kami melarang penggunaan sari kedelai atau susu kedelai karena sudah ada aturannya. Penggunaan istilah 'susu kedelai' itu keliru, itu sari kedelai, bukan produk susu," katanya, saat ditemui usai inspeksi.  

Menurut dia,​ aturan BGN menetapkan bahwa komponen susu dalam program MBG wajib menggunakan susu murni (sapi/kambing).

Produk yang diperbolehkan hanyalah susu steril full cream plain (tanpa rasa) dengan kandungan susu minimal 20 persen, atau susu pasteurisasi dari peternak lokal di sekitar SPPG.  

​"Tidak boleh ada varian rasa seperti cokelat atau stroberi. Untuk susu kedelai memang dilarang. SPPG di Jember semuanya jangan memakai kembali susu kedelai," katanya, menyoroti penyimpangan yang terjadi di lapangan.  

Baca Juga: Kasus ISPA di Jember Melonjak Jadi 369 Kasus, Balita Jadi Kelompok Paling Rentan

​Ia juga menekankan bahwa rantai pasok pengadaan susu harus melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta menyerap hasil peternak sapi perah lokal yang memenuhi standar higiene BPOM dan sertifikasi halal, bukan membeli secara asal-asalan.  

​Atas insiden tumbangnya puluhan anak usai mengonsumsi menu MBG tersebut, BGN melalui Koordinator Pengawas Regional Jatim, meminta maaf terbuka. "Hal seperti ini musibah. Kami mohon maaf terhadap korban dan keluarga korban," imbuh Teguh.  

​Pernyataan BGN ini menjadi penegas atas borok tata kelola dan pengawasan di tingkat tapak. Petaka di MI Al-Islah pada Selasa (22/9) itu bermula ketika dapur SPPG Jatiagung yang dikelola Yayasan Berkah Sugih Rezeki mendistribusikan paket MBG berisi nasi, telur, tumis capjay, dan buah kelengkeng.  

​Namun, pengiriman minuman sari kedelai pasokan UD ZAM Bagorejo mengalami keterlambatan dan baru tiba di sekolah pukul 09.30. Sejam kemudian, sekitar pukul 10.30, suasana sekolah berubah mencekam. Sebanyak 28 siswa mendadak mual, pusing, hingga muntah hebat.  

​Kapolsek Gumukmas, AKP Edi Santoso, membenarkan kejadian tersebut. Sebanyak 12 anak harus dilarikan ke Puskesmas Gumukmas untuk perawatan intensif, sementara 16 siswa lainnya dirawat darurat di ruang kelas.  

​Investigasi awal Korcam BGN Gumukmas langsung mengamankan sampel makanan untuk diuji di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jember.

Korcam BGN juga telah menyodorkan dua rekomendasi krusial ke BGN Pusat: menghentikan total operasional (suspen) SPPG Jatiagung dan mencopot pimpinan dapur penyedia tersebut.  

​Sebelumnya, Pj. Sekda sekaligus Ketua Satgas MBG Jember, Achmad Imam Fauzi, menegaskan pihak Pemkab tidak akan pasang badan untuk pengelola yang sembrono.

Baca Juga: Bocah 8 Tahun di Puger Jember Terperosok ke Sumur di Sawah, Evakuasi Dramatis Pakai Ekskavator

Jika hasil uji laboratorium membuktikan adanya kelalaian prosedur sanitasi dan bahan berbahaya, maka Pemkab sangat memungkinkan merekomendasikan pemutusan kontrak secara permanen.

"Jangan asal bikin perut anak-anak kita kenyang, ini ada urusan nyawa. Kami pastikan pemerintah daerah tidak tinggal diam," pungkas Fauzi. (mau/dwi)

 SUSU KEDELAI/SARI KEDELAI

MASA PENYIMPANAN

Suhu ruang

Kulkas (≤4°C)

CIRI-CIRI MULAI BASI/RUSAK

Jika ragu: JANGAN DICICIPI. Buang.

BISA MENYEBABKAN KERACUNAN

Sari kedelai yang disimpan atau ditangani dengan tidak tepat dapat terkontaminasi mikroorganisme penyebab penyakit.

Gejala keracunan makanan dapat berupa:

Editor : Imron Hidayatullahh
Jember SPPG keracunan mbg BGN Makan Bergisi Gratis