Hanung Bramantyo Ajak Generasi Muda Jember Melek Sejarah Lewat Film 'Lobang Buaya'

Sidkin • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 08:00 WIB
SAPA PENONTON: Hanung Bramantyo, Sutradara film Lobang Buaya saat roadshow di Jember, beberapa hari lalu. (Dok. Film Lobang Buaya)
SAPA PENONTON: Hanung Bramantyo, Sutradara film Lobang Buaya saat roadshow di Jember, beberapa hari lalu. (Dok. Film Lobang Buaya)

Radar Jember - Ada alasan mengapa Hanung Bramantyo tidak langsung membawa penonton ke malam 30 September 1965. Ia justru mundur 309 hari, ke sebuah masa ketika ketegangan sosial, kekuasaan, korupsi, dan ketakutan tumbuh perlahan di tengah masyarakat.

Dari rentang waktu itulah lahir Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah, film yang mencoba menuturkan sejarah dari pintu yang berbeda.

Judulnya memang segera membawa ingatan penonton kepada peristiwa G30S dan segala cerita yang mengikutinya. Namun Hanung sengaja tidak membuat film yang sekadar mengulang peristiwa tersebut.

Baca Juga: Film ODUA Antar UIN KHAS Jember ke Podium PORSI Jawara II

Ia membangun cerita fiksi berbalut drama misteri investigasi, lalu membungkusnya dengan ketegangan yang selama ini lebih mudah ditemukan dalam film horor. Pemilihan istilah itu bukan tanpa alasan bagi Hanung.

"Saya lebih suka menyebutnya drama misteri investigasi, karena buat saya itu lebih pas daripada sekadar horor. Takutnya kalau ini disebut film horor, itu diasumsikan sebagai setan. Padahal hantu di sini adalah sebuah kondisi teror yang diakibatkan para koruptor yang tergabung dalam tujuh setan desa," katanya.

Di situlah cara Hanung memandang film ini menjadi menarik untuk ditelusuri lebih jauh. Horor, baginya, tidak berhenti pada sosok hantu yang muncul tiba-tiba atau suara-suara dari ruang gelap seperti jumpscare.

Horor bisa berupa keadaan ketika orang kehilangan rasa aman, ketika seorang teman mendadak menjadi musuh, atau ketika seseorang bisa dituding hanya karena identitas dan keyakinan politik yang dilekatkan kepadanya.

Karena itu, ketakutan dalam Lobang Buaya tidak hanya dibangun lewat suasana mistis, tetapi juga lewat situasi sosial yang membuat manusia saling curiga satu sama lain.

Baca Juga: Djed Spence Perkenalkan Diri di Inter Milan: Jika Jadi Tokoh Film, Ia Memilih Spider-Man

Gagasan itu sengaja dibawa Hanung untuk mendekati penonton muda, sebab ia melihat ada jarak cukup lebar antara generasi muda dan film-film berlatar sejarah.

Film tentang kehidupan anak muda justru lebih mudah memenuhi bioskop, sementara film sejarah kerap kesulitan menarik penonton dalam jumlah besar.

Bukan berarti sejarah kehilangan arti, tetapi menurutnya, cara menyampaikannya perlu dicari ulang agar tidak sekadar sebagai pelajaran dari kehidupan sehari-hari. Apalagi dalam tiga tahun terakhir ini banyak film yang mengangkat keadaan anak muda.

"Itu mengangkat bagaimana mereka hidup dan berinteraksi, dan film itu box office. Berbanding terbalik ketika kita bicara tentang film sejarah, film-film sejarah selalu penontonnya sedikit," ujarnya.

Karena itulah Lobang Buaya tidak dirancang untuk memberikan semua jawaban sejak awal cerita bergulir. Penonton justru diajak mengikuti penyelidikan dan terus menebak ke mana arah cerita akan bergerak selanjutnya.

Beberapa plot twist sengaja dihadirkan lebih dari satu, terinspirasi dari pola penceritaan film-film Korea yang menurut Hanung berani mengubah arah cerita berkali-kali tanpa kehilangan benang merahnya.

Dengan cara itu, sejarah menjadi latar yang membungkus sebuah misteri, sementara penonton diberi ruang untuk membaca sendiri setiap petunjuk yang muncul di layar.

Baca Juga: Belum Nonton Spider-Man: Brand New Day, Wajib Maraton Film MCU? Ternyata Cukup Tonton Film Ini Dulu!

Cerita film ini berlatar 1964, setahun sebelum pecahnya tragedi 1965 yang mengubah wajah bangsa. Tokoh utamanya adalah Letnan Soegeng yang diperankan Baskara Mahendra, seorang perwira yang harus menyelidiki rangkaian pembunuhan misterius terhadap tokoh-tokoh desa.

Ia berdampingan dengan Carissa Perusset sebagai Arum Wangi, serta Khiva Iskak, Anya Zen, dan Mathias Muchus yang turut mengisi jajaran pemeran.

Dari sana, misteri berkembang lebih lebar, mulai dari rentetan pembunuhan, ketakutan warga, dugaan mengenai sosok "Hantu Bolong", hingga persoalan sosial yang jauh lebih besar daripada sekadar mencari siapa pelaku pembunuhan.

Pilihan sudut pandang itu juga berkaitan dengan keinginan Hanung agar generasi muda tidak menerima sejarah hanya dari satu pintu saja. Ia mendorong penonton untuk membaca, mencari sumber lain, dan membandingkan berbagai cerita yang pernah muncul tentang tragedi tersebut.

Baginya, film hanya salah satu medium untuk membuka percakapan, bukan tempat untuk menghentikan pencarian jawaban atas apa yang sesungguhnya terjadi.

"Kita sebagai anak-anak bangsa harus melek literasi. Sudah banyak sekali tayangan-tayangan tentang atau buku-buku yang mengubah tentang peristiwa 1965 dari sisi yang berbeda. Jadi tolong dikonsumsi, dibaca, dipelajari sehingga kita sebagai bangsa ini tidak terjebak pada luka lama," tutur Hanung.

Gagasan itu pula yang dibawa Hanung hingga ke Jember, jauh dari hiruk-pikuk industri film di kota besar.

Bekerja sama dengan Universitas Jember, ia tidak hanya menghadirkan pemutaran khusus di Kota Cinema Mall, tetapi juga berdialog langsung dengan mahasiswa mengenai proses kreatif di balik film, mulai dari penulisan skenario hingga dramaturgi. 

Film selesai diputar, tetapi percakapannya justru baru dimulai di ruang diskusi setelahnya. Bagi Hanung, ruang percakapan semacam itu penting, sebab film yang menyentuh sejarah dan persoalan sosial hampir selalu membawa pertanyaan yang jauh lebih panjang daripada durasi tayangnya sendiri.

Ia mengaku sejak awal kariernya, film-film yang ia buat memang kerap menyentuh persoalan sosial, keagamaan, hingga politik tanpa ragu. Dalam Lobang Buaya, dua hal itu kembali bertemu, yakni tragedi nasional 1965 dan kritik terhadap persoalan sosial yang ia gambarkan lewat "tujuh setan desa".

"Film itu adalah medium kita untuk speak up. Speak up atas kegelisahan saya," kata Hanung, menutup alasan di balik keberaniannya mengangkat tema ini.

Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 1 Oktober 2026, disutradarai Hanung Bramantyo dan dibintangi Baskara Mahendra, Carissa Perusset, Khiva Iskak, Anya Zen, serta Mathias Muchus.

Dan mungkin justru di situlah Hanung ingin film ini berhenti, bukan pada jawaban siapa yang paling benar dalam sejarah kelam itu. Ia lebih ingin film ini berhenti pada keberanian penonton untuk bertanya lebih jauh, melampaui apa yang selama ini mereka percayai.

Sebab 309 hari sebelum sebuah tragedi besar, selalu ada cerita tentang manusia yang menjalani hari-harinya seperti biasa, tertawa, bekerja, dan saling curiga tanpa mereka sadari. Tanpa tahu bahwa sejarah sedang berjalan pelan-pelan menuju sebuah titik yang kelak mengubah begitu banyak kehidupan. (kin/dwi)

Editor : Imron Hidayatullahh
film Lobang Buaya G30S/PKI film horor hanung bramantyo