Kasus ISPA di Jember Melonjak Jadi 369 Kasus, Balita Jadi Kelompok Paling Rentan

Sidkin • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 06:00 WIB
"Hingga kini ada 369 kasus. Penyebaran ini bisa menjangkiti seluruh lapisan masyarakat dari beragam usia. Namun, anak balita sejauh ini menjadi kelompok terbanyak yang mengalami penularan." dr. RITA WAHYUNINGSIH, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes PPKB Jember. (SIDKIN ALI/RADAR JEMBER)
"Hingga kini ada 369 kasus. Penyebaran ini bisa menjangkiti seluruh lapisan masyarakat dari beragam usia. Namun, anak balita sejauh ini menjadi kelompok terbanyak yang mengalami penularan." dr. RITA WAHYUNINGSIH, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes PPKB Jember. (SIDKIN ALI/RADAR JEMBER)

Radar Jember - Yang semula dianggap sebagai keluhan kesehatan biasa, kini mulai menunjukkan pola yang perlu diwaspadai. Dalam beberapa pekan terakhir, penyakit saluran pernapasan seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan influenza semakin banyak ditemukan di berbagai wilayah.

Anak-anak, khususnya balita menjadi kelompok yang paling banyak terlaporkan mengalami penularan. Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Jember mencatat 348 kasus ISPA dan 21 kasus influenza selama pemantauan empat pekan terakhir. 

Kenaikan kasus terpantau di berbagai kecamatan sejak pertengahan Agustus hingga pertengahan September 2026. Laporan terbanyak muncul dalam dua pekan terakhir, menandakan penularan masih berlangsung.

Baca Juga: Kasus ISPA Anak di Jember Naik 348 Penderita, Dinkes Pastikan Belum Temukan Influenza Tipe A

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes PPKB Jember dr Rita Wahyuningsih mengatakan, ISPA dan influenza pada dasarnya dapat menyerang masyarakat dari berbagai kelompok usia.

Namun, dari pemantauan yang dilakukan, anak usia di bawah lima tahun menjadi kelompok yang paling banyak ditemukan mengalami penularan. Sehingga membutuhkan perhatian lebih dari keluarga maupun lingkungan sekitarnya.

“Hingga kini ada 369 kasus. Penyebaran ini bisa menjangkiti seluruh lapisan masyarakat dari beragam usia. Namun, anak balita sejauh ini menjadi kelompok terbanyak yang mengalami penularan,” ujar dr Rita kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin.

Dominannya kasus pada balita perlu dilihat dari karakter kelompok usia tersebut yang masih berada dalam tahap perkembangan sistem pertahanan tubuh.

Baca Juga: Awas Penularan di Faskes! Rawat Inap karena Diare, Balita di Tegalbesar Jember Justru Tertular Bapil

Ketika penularan berlangsung di lingkungan rumah, sekolah, tempat bermain maupun ruang publik, anak-anak dapat lebih mudah terpapar saat berada dekat dengan orang yang sedang mengalami gejala.

Karena itu, peningkatan kasus tidak hanya menjadi persoalan layanan pengobatan, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya pencegahan sejak lingkungan terkecil, terutama keluarga.

Dari sisi penularan, ISPA dan influenza, lanjut Rita, dapat menyebar melalui droplet yang keluar ketika seseorang yang terinfeksi batuk atau bersin.

Risiko penularan dapat meningkat ketika orang yang sedang sakit tetap beraktivitas di ruang bersama tanpa menerapkan etika batuk maupun menggunakan masker.

Karena percikan tersebut dapat mengenai orang di sekitarnya atau berpindah melalui tangan dan permukaan yang kemudian disentuh.

“Penularan utamanya dipicu oleh lontaran cipratan air liur (droplet) ketika pasien yang terinfeksi sedang bersin atau batuk tanpa proteksi,” jelasnya.

Melihat pola tersebut, Dinkes PPKB Jember tidak hanya berfokus pada penanganan pasien yang sudah sakit, tetapi juga berupaya menahan laju penularan dari hulu.

Baca Juga: Belum Ada Kasus di Bondowoso, Dinkes Minta Warga Waspada Penyebaran Influenza A Tanpa Panik

Sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), peningkatan kewaspadaan terhadap influenza, serta penguatan kesiapan layanan kesehatan menjadi bagian dari langkah yang dilakukan. Sementara seluruh fasilitas kesehatan disiapkan untuk merespons apabila jumlah pasien meningkat.

“Sementara dari sisi penanganan medis, kesiapan dan kapasitas layanan di tingkat Puskesmas hingga Rumah Sakit terus ditingkatkan untuk menampung pasien,” pungkasnya.

Di sisi lain, pemantauan kasus dilakukan secara digital agar perubahan jumlah penderita dapat diketahui lebih cepat. Sistem pelaporan harian tersebut menjadi penting karena perkembangan penyakit menular tidak selalu bergerak dengan pola yang sama di setiap wilayah, sehingga data yang diperbarui dapat membantu menentukan respons di lapangan secara lebih tepat.

Baca Juga: Bisa Picu Sesak dan Kejang, Ketua IDI Jember Paparkan Tanda Bahaya Influenza A Anak

Masyarakat juga diminta mengambil bagian dalam memutus rantai penularan dengan mencuci tangan secara rutin, menerapkan etika batuk dan bersin, serta menggunakan masker ketika sedang tidak sehat, terutama saat harus berada di tengah banyak orang.

“Kami terus memantau dinamika pergerakan jumlah kasus harian melalui sistem aplikasi pelaporan khusus agar langkah antisipasi di lapangan bisa berjalan cepat dan tepat,” pungkasnya. (kin/dwi)

Editor : Imron Hidayatullahh
influenza ISPA meningkat Jember Dinkes Jember