Super El Nino Terkuat Terjadi, BMKG Imbau Warga Jember Hemat Air dan Waspada Karhutla

Yulio Faruq Akhmadi • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 09:00 WIB
PANAS MENYENGAT: Dampak fenomena super El Nino, siang hari di Jember terasa jauh lebih panas dari biasanya. (YULIO FARUQ/RADAR JEMBER)
PANAS MENYENGAT: Dampak fenomena super El Nino, siang hari di Jember terasa jauh lebih panas dari biasanya. (YULIO FARUQ/RADAR JEMBER)

Radar Jember – Fenomena El Nino yang terjadi tahun ini bukan sekadar El Nino biasa. Kondisinya sudah masuk kategori super El Nino karena anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik naik sekitar 2,6 derajat Celsius dari suhu rata-ratanya.

Fenomena tersebut disebut sebagai salah satu El Nino dengan level anomali tertinggi dalam 100–150 tahun terakhir.

Prakirawan Pos Meteorologi Bandara Notohadinegoro BMKG Banyuwangi, Hukama Nur Akmal, menjelaskan istilah super El Nino digunakan ketika anomali suhu permukaan laut Pasifik naik melebihi 2 derajat Celsius diatas suhu rata-rata. “Sekarang sudah naik sekitar 2,6 derajat Celsius,” jelasnya.

Baca Juga: Bikin Geram! Depan SDN Puger Kulon 01 Jember Jadi TPS Liar, Bau Busuk Resahkan Siswa dan Guru

Kondisi tersebut turut berdampak terhadap pola musim di Jember. Hukama menyebut anomali El Nino tahun ini ternyata lebih tinggi dibandingkan perkiraan pada awal tahun. Akibatnya, periode kemarau menjadi lebih panjang dan peralihan menuju musim berikutnya ikut bergeser.

“Waktu awal tahun BMKG memprediksi Fenomena El Nino ada dalam kategori sedang, namun ternyata cukup tinggi, sehingga musim kemarau juga akan lebih lama dari yang diperkirakan di awal tahun,” ungkapnya.

Meski demikian, kondisi panas yang dirasakan masyarakat tidak semata-mata disebabkan oleh suhu udara yang lebih tinggi. Suhu maksimum saat kemarau umumnya berada di kisaran 34–35 derajat Celsius.

Rasa panas yang lebih menyengat juga dipengaruhi oleh kelembapan udara. “Kalau panasnya sebenarnya gak terlalu, karena kalau musim pancaroba bisa lebih panas. Panasnya lebih terasa karena faktor kelembapan juga,” tambahnya.

Akmal melanjutkan, kini puncak El Nino diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September. Setelah itu, kondisinya berangsur menurun hingga awal tahun.

Baca Juga: Update Penerima Bansos Jember, Cek Data Terbaru Lewat Layanan Dinsos

Sementara awal musim hujan atau pancaroba diperkirakan mengalami kemunduran sekitar 20 hari, dengan perkiraan memasuki akhir Oktober.

BMKG mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada mengantisipasi dampak super El-Nino. Salah satunya dengan menghemat penggunaan air karena kemarau yang lebih panjang dapat meningkatkan kebutuhan sekaligus mengurangi ketersediaan air.

“Mengingat perkiraan pancaroba masih akhir Oktober,” tandasnya.

Akmal juga menghimbau agar warga mewaspadai aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, termasuk pembakaran sampah.

Selain itu, perubahan suhu dan kondisi panas ekstrem dapat memengaruhi kesehatan sehingga masyarakat perlu menjaga kondisi tubuh dan terus memantau perkembangan cuaca serta perubahan iklim.

Baca Juga: Bukan Voting Senat, Panitia Pastikan Penentuan Akhir Rektor UIN KHAS Jember Hak Prerogatif Menag

“Apalagi sekarang di Jember sudah beberapa kali terjadi Karhutla, harus lebih waspada,” tutupnya. (yul)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
panas ekstrem Jember el nino BMKG cuaca ekstrem