Radar Jember - Langkah kaki Dedi Setiaji hari itu terasa jauh lebih ringan. Di usianya yang baru menginjak 21 tahun berjalan, tatapan matanya memancarkan keteguhan yang matang.
Pemuda asal Kecamatan Gumukmas, Jember, ini tidak sedang memimpikan hal yang muluk-muluk.
Ia hanya ingin meretas jalan hidupnya sendiri, membangun karir dari titik paling nol, dan membahagiakan orang-orang terkasih di tanah kelahirannya.
Baca Juga: Pemkab Jember Hadirkan One Stop Service Pensiun ASN, Urus Administrasi Cukup Satu Tempat
Niat itu kini makin dekat dengan kenyataan. Destinasi impiannya sudah terkunci: Negeri Sakura, Jepang.
"Saya sudah mantap ingin ke Jepang," akunya, saat ditemui, beberapa pekan lalu, tengah mengurus berkas administrasi di Mal Pelayanan Publik (MPP) Kaliwates, Jember.
Bagi anak muda seperti Dedi, mengadu nasib ke negeri asing bukan sekadar soal mencari penghidupan. Ini adalah panggung pembuktian.
Di tengah persaingan global yang kian ketat, Jepang diyakininya menjadi tempat untuk menempa kedisiplinan, mempelajari etos kerja berkelas dunia, sekaligus menabung modal untuk masa depan.
Baca Juga: Belok Mendadak di Jalan Dr Soebandi Patrang Jember, Shogun Tertabrak Toyota Calya
"Saya ingin punya penghasilan, dengan menata karir dari bawah," kata Dedi.
Namun, perjalanan menuju Negeri Sakura tak pernah berdiri sendiri tanpa kerikil administrasi.
Dulu, bayangan rumitnya mengurus berkas sering kali menjadi tembok besar bagi para calon pekerja migran Indonesia (PMI) asal daerah. Hal itu diakui Dedi sempat mengusik impiannya meniti karir.
Bukan tanpa alasan, pengurusan dokumen menjadi calon PMI cukup kompleks. Jika dulu, untuk melengkapi satu-dua lembar dokumen legalitas, para pemuda daerah harus rela bolak-balik menempuh perjalanan jauh ke Banyuwangi atau Surabaya.
Waktu habis di jalan, ongkos pun terkuras sebelum sempat melangkah lebih jauh.
Beruntung, angin segar berembus di Jember. Kemudahan layanan administrasi kini benar-benar berpihak pada keberanian anak-anak muda seperti Dedi.
Pengurusan dokumen yang dulunya memakan jarak ratusan kilometer kini bisa dirampungkan di tanah kelahiran sendiri.
"Dulu kalau ngurus harus ke Surabaya atau Banyuwangi. Sekarang alhamdulillah sudah ada di Jember. Jadi tidak jauh-jauh lagi," ungkapnya dengan lega, mengisahkan kenalannya saat menjadi calon PMI, sebelum dilayani di MPP tersebut.
Baca Juga: Pemkab Jember Dapat Jatah Anggaran Rp 174 Miliar dari Pusat untuk Revitalisasi 258 Sekolah
Bukan cuma soal jarak yang tak lagi memangkas tenaga, tetapi juga kepastian waktu. Dedi menceritakan bagaimana proses penerbitan e-PMI yang ia jalani berlangsung begitu responsif dan transparan.
Selama semua persyaratan dokumen disiapkan dengan disiplin, birokrasi tak lagi terasa menakutkan. "Syaratnya mudah kalau berkasnya lengkap. Pengurusan e-PMI ini bahkan tidak sampai sehari, hitungan jam saja sudah selesai. Sangat-sangat membantu," tambah dia.
Dalam rencananya sebelum berangkat ke Jepang, Dedi dijadwalkan mengikuti pelatihan pembekalan skil yang dibutuhkan sesuai dengan negara tujuan di bidang industri manufaktur, selama sekitar 3-6 bulan. Ia tidak sendiri, namun bersama sejumlah calon PMI lain yang difasilitasi oleh salah satu penyedia.
Baca Juga: Bupati Jember Janjikan Promosi Jabatan Camat dan Lurah yang Sukses Capai Target Pajak
Bagi Dedi dan ratusan anak muda lainnya di Jember, keberadaan layanan yang cepat dan efisien ini adalah peluang. Meski hanya menamatkan jenjang SMA, ia mengemukakan impian sederhananya: menjadi mandiri, lebih-lebih bisa membantu perekonomian keluarga di rumah.
"Yah semoga ke depan bisa diberikan kemudahan, punya karir dan penghasilan yang bagus, namanya sedang berusaha," katanya, disusul tawa renyah. (mau/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh