Radar Jember - Mendatangkan investor ke daerah tidak semata-mata bertujuan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan membuka lapangan pekerjaan. Investasi juga diharapkan mampu menghadirkan pemerataan akses masyarakat terhadap kebutuhan dasar, termasuk energi.
Salah satu investasi yang kini didorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember adalah pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Bahkan, Bupati Jember Muhammad Fawait berharap investasi tersebut dapat dilakukan oleh pengusaha atau pemilik modal asal Jember.
Dorongan itu bukan tanpa alasan. Kabupaten Jember memiliki sekitar 2,6 juta penduduk yang tersebar di 31 kecamatan. Namun, belum seluruh kecamatan memiliki SPBU.
Baca Juga: Rencana Batalyon Teritorial Pembangunan Silo Ditolak Warga: Bupati Jember Janji Tak Lepas Tangan
Karena itu, Gus Fawait, sapaan Muhammad Fawait, membuka pintu selebar-lebarnya bagi investor untuk membangun SPBU baru di Jember. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat ketersediaan BBM sekaligus mengurangi risiko krisis BBM yang berulang.
“Berdasarkan informasi yang baru saya terima, ternyata belum semua kecamatan di Jember memiliki SPBU,” beber dia.
Menurutnya, Pemkab Jember akan memberikan kemudahan dalam proses investasi tersebut. Selain memperkuat ketersediaan BBM, pembangunan SPBU baru juga dinilai berpotensi menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
“Kami akan mendorong para pengusaha dan pemilik modal untuk membangun SPBU baru. Selain menjamin ketersediaan BBM, ini juga akan membuka lapangan pekerjaan baru,” tambah dia.
Dorongan pembangunan SPBU tersebut tidak lepas dari persoalan distribusi BBM yang selama ini masih menjadi tantangan di Jember.
Baca Juga: Konflik Lahan Silo Bergejolak Lagi: Warga dan Mahasiswa Gugat Rencana Batalyon TP - Radar Jember
Krisis BBM yang sempat menerjang Kabupaten Jember beberapa waktu lalu memang berangsur-angsur pulih. Antrean kendaraan di sejumlah SPBU mulai normal. Namun, persoalan distribusi BBM dinilai belum sepenuhnya terurai.
Selama ini, mayoritas SPBU di Jember mendapatkan pasokan BBM dari Terminal Tanjungwangi atau Depo Banyuwangi. Ketergantungan tersebut membuat distribusi BBM ke Jember sangat bergantung pada jalur Jember-Banyuwangi, khususnya kawasan Gumitir.
Jalur tersebut menjadi salah satu akses utama penghubung Jember dan Banyuwangi. Ketika terjadi gangguan, baik akibat kemacetan, perbaikan jalan maupun persoalan lainnya, distribusi BBM ke Jember ikut terdampak.
Kondisi tersebut membuat Pemkab Jember harus mencari solusi agar persoalan serupa tidak terus berulang.
Dalam sebuah kesempatan, Bupati Muhammad Fawait mengakui krisis BBM di Jember telah terjadi hingga tiga kali dengan pola persoalan yang hampir sama, yakni ketergantungan terhadap jalur distribusi dari Banyuwangi.
“Setiap ada gangguan distribusi di jalan, BBM kita pasti berkendala dan terjadi antrean panjang,” kata Gus Fawait saat melakukan inspeksi ke SPBU Gajah Mada dan SPBU di Gebang, 8 September lalu.
Saat itu, Gus Fawait turun langsung ke sejumlah SPBU menyusul antrean panjang kendaraan yang kembali terjadi di sejumlah titik pengisian BBM.
Baca Juga: Gol Tak Sengaja Tim Sepak Bola Putri Porprov Jember Bawa Menang Tipis atas Banyuwangi
Untuk mengurangi mobilitas masyarakat di tengah kondisi tersebut, Pemkab Jember sempat mengeluarkan surat edaran Work From Home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN). Pemerintah juga menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau pembelajaran daring bagi sekolah-sekolah.
Dalam jangka pendek, Pemkab Jember mendesak PT Pertamina untuk menambah pasokan BBM ke Jember. Namun, pemerintah daerah juga mendorong solusi jangka panjang dengan meminta Pertamina menyiapkan alternatif jalur distribusi selain melalui Tanjungwangi.
Salah satu opsi yang mengemuka adalah pasokan BBM dari Surabaya atau Malang. Skema tersebut dinilai dapat menjadi alternatif, sebagaimana pola distribusi LPG yang sebelumnya telah diterapkan.
“Kami mengusulkan agar pasokan BBM untuk Jember tidak hanya bergantung pada Pelabuhan Banyuwangi, tetapi juga bisa dipasok dari Surabaya, Malang, atau wilayah lainnya. Jadi, jika terjadi kendala di jalur Banyuwangi–Jember, kejadian seperti ini (krisis BBM) tidak akan terulang,” katanya.
Berulangnya krisis BBM di Jember juga kembali membuka wacana reaktivasi Depo Pertamina di Jember. Gagasan untuk mengaktifkan kembali fasilitas penyimpanan Pertamina Depot Sales Point Jember yang berada di Jalan Kenanga, Jember Kota, sebenarnya bukan merupakan wacana baru.
Gagasan tersebut sempat mengemuka pada 2025 setelah Jember kembali diterjang krisis BBM akibat terganggunya jalur distribusi di kawasan Gumitir, yang menjadi akses utama Jember-Banyuwangi.
Depo BBM Gebang di Jember memiliki akses jalur kereta api yang berpotensi menjadi salah satu alternatif distribusi.
Namun, wacana reaktivasi tersebut kemudian meredup karena menghadapi sejumlah persoalan, salah satunya kondisi lokasi depo yang kini berada di tengah kawasan permukiman padat.
Fasilitas penampungan BBM di Gebang tersebut sebelumnya pernah beroperasi sebagai pusat cadangan energi daerah sebelum akhirnya ditutup Pertamina pada 1992. Bupati Muhammad Fawait menyatakan dukungannya terhadap wacana reaktivasi depo tersebut.
Baca Juga: Kasus Pembuangan Bayi, Dosen UIN KHAS Jember Tekankan Pentingnya Dukungan Psikososial
Menurutnya, keberadaan depo di Jember dapat menjadi salah satu opsi untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu jalur distribusi. “Kami mengusulkan reaktivasi depo di Jember agar suplai tidak bergantung penuh pada Depo Banyuwangi,” tambah dia.
Dengan kombinasi pembangunan SPBU baru, diversifikasi jalur distribusi, serta opsi reaktivasi depo, Pemkab Jember berharap persoalan kelangkaan dan antrean BBM tidak kembali menjadi persoalan yang berulang dan mengganggu aktivitas masyarakat maupun perekonomian daerah. (mau/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh