Kasus Pembuangan Bayi, Dosen UIN KHAS Jember Tekankan Pentingnya Dukungan Psikososial

M Adhi Surya • Dipublikasikan Sabtu, 19 September 2026 | 09:00 WIB
“Dari sudut pandang psikologi, perilaku pembuangan bayi tidak dapat dipahami hanya sebagai tindakan kriminal semata. Ada tekanan psikologis yang perlu dilihat, termasuk bagaimana seseorang menghadapi masalah dan mengambil keputusan.” Dr SURYADI, Dosen Bimbingan Konseling Islam UIN KHAS Jember. (UIN KHAS JEMBER)
“Dari sudut pandang psikologi, perilaku pembuangan bayi tidak dapat dipahami hanya sebagai tindakan kriminal semata. Ada tekanan psikologis yang perlu dilihat, termasuk bagaimana seseorang menghadapi masalah dan mengambil keputusan.” Dr SURYADI, Dosen Bimbingan Konseling Islam UIN KHAS Jember. (UIN KHAS JEMBER)

Radar Jember - Kasus pembuangan bayi tidak selalu bisa dilihat sebatas persoalan hukum. Di baliknya, bisa terdapat tekanan psikologis, rasa takut, hingga stigma sosial.

Hal itulah yang membuat seseorang merasa tidak memiliki jalan keluar ketika menghadapi kehamilan yang tidak diinginkan.

Dosen Bimbingan Konseling Islam Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember Dr Suryadi mengatakan, kasus tersebut merupakan fenomena sosial yang kompleks.

Menurutnya, keputusan membuang bayi dapat menjadi puncak dari tekanan psikologis berat ketika seseorang tidak mampu mengelola persoalan yang sedang dihadapi.

Baca Juga: Bikin Kaget! Pakar Psikologi Jember Sebut Remaja Pakai Makeup Itu Wajar, tapi Bisa Berbahaya Jika Begini

“Dari sudut pandang psikologi, perilaku pembuangan bayi tidak dapat dipahami hanya sebagai tindakan kriminal semata. Ada tekanan psikologis yang perlu dilihat, termasuk bagaimana seseorang menghadapi masalah dan mengambil keputusan,” ujarnya.

Suryadi menjelaskan, kehamilan yang tidak diinginkan, terutama di luar ikatan pernikahan, dapat memunculkan rasa takut, malu, cemas, dan bersalah.

Kondisi tersebut bisa semakin berat ketika individu menghadapi kekhawatiran akan penolakan keluarga maupun stigma dari lingkungan sekitar.

Tekanan yang menumpuk, lanjut dia, dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam berpikir dan mengambil keputusan.

Baca Juga: Benarkah Perempuan Lebih Perasa? Psikolog Menilai Ada Pengaruh Pola Asuh dan Lingkungan, Bukan Sekadar Kodrat

Dalam kondisi tertentu, seseorang bisa mencari jalan keluar yang dianggap paling cepat tanpa mempertimbangkan dampak yang lebih luas dari keputusan tersebut.

Karena itu, Suryadi menilai keberadaan sistem dukungan psikososial menjadi penting.

Individu yang menghadapi persoalan berat membutuhkan ruang aman untuk bercerita dan mendapatkan pendampingan, baik dari keluarga, lingkungan maupun tenaga profesional. 

“Dalam konseling, yang penting adalah membantu individu mengenali masalah, menerima kondisi dirinya, mengelola emosi, kemudian menemukan alternatif penyelesaian yang lebih adaptif dan manusiawi,” jelasnya.

Menurut Suryadi, upaya pencegahan juga perlu dilakukan melalui konseling individual, pendampingan keluarga, edukasi kesehatan reproduksi, penguatan karakter, serta pendekatan berbasis nilai agama.

Baca Juga: Banyak Ditinggal ke Luar Negeri, DPRD Jember Desak Pendampingan Psikologis dan Edukasi Pola Asuh Bagi Anak PMI

Langkah tersebut dibutuhkan agar seseorang yang menghadapi persoalan serupa tidak merasa sendirian dan memilih jalan yang justru membahayakan diri sendiri maupun orang lain. (dhi/dwi)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
Kesehatan Mental Jember Pembuangan Bayi UIN KHAS Jember Psikologi