Radar Jember – Memasuki musim kemarau, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di wilayah Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan.
Kali ini, kebakaran melanda kawasan hutan milik Perum Perhutani KPH Jember di petak 9B-1, Rabu (16/9) malam.
Diketahui, kebakaran terjadi di kawasan hutan tanaman jati yang ditanam pada tahun 2009. Kobaran api pertama kali diketahui petugas Perhutani saat melakukan patroli rutin di wilayah RPH Puger, BKPH Wuluhan.
Baca Juga: Kasus Karhutla di Jember Tembus 67 Kejadian, BPBD Perkuat Penanganan Lintas Instansi
Mengetahui adanya kebakaran, petugas Perhutani langsung berkoordinasi dengan Pemerintah Desa (Pemdes) Lojejer dan melaporkan kejadian tersebut ke Polsek setempat.
Selanjutnya, petugas Perhutani bersama Kepala Desa Lojejer M. Soleh dan sejumlah perangkat desa menuju lokasi untuk melakukan pemadaman.
Api yang mulai merembet dan meluas dipadamkan secara manual menggunakan peralatan seadanya.
"Karena mobil tidak bisa masuk ke lokasi, pemadaman dilakukan secara manual. Kami menggunakan ranting pohon, gepyok, garuk, dan sabit," kata Kades Lojejer M. Soleh.
Pemadaman juga melibatkan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan. Mereka bersama-sama berupaya menghentikan kobaran api agar tidak semakin meluas.
Baca Juga: Kukuhkan Empat Profesor Baru, UIN KHAS Jember Dorong Percepatan Guru Besar PTKI
Menurut Soleh, kondisi kawasan hutan yang dipenuhi daun jati kering membuat api cepat merembet. Diperkirakan sekitar 1,5 hektare lahan hutan milik Perhutani di wilayah Desa Lojejer terdampak kebakaran.
"Kebakaran ini cukup cepat meluas karena banyak daun jati yang kering. Api dengan cepat membakar hingga area yang cukup luas," ujarnya.
Soleh menyebut kebakaran hutan di kawasan Perhutani tersebut bukan kali pertama terjadi. Beberapa kejadian serupa sebelumnya juga pernah terjadi, terutama saat memasuki musim kemarau.
Ia menduga kebakaran tersebut disebabkan ulah orang yang tidak bertanggung jawab, seperti membakar sampah sembarangan atau membuang puntung rokok di kawasan hutan.
"Musim kemarau membuat daun jati kering dan mudah terbakar. Karena itu, kami mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran, termasuk membakar sampah sembarangan dan membuang puntung rokok di kawasan hutan," pungkasnya. (jum/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh