Radar Jember - Riyanti Elminingtyas, perawat Rumah Sakit Bina Sehat (RSBS) Jember yang menjadi korban kecelakaan rombongan tenaga kesehatan (nakes) sepulang dari Bromo, Kabupaten Probolinggo, 14 September 2025 silam? Nama itu kini kembali disebut.
Bukan lagi karena duka, melainkan karena kabar bahagia yang datang tepat di tanggal yang sama 14 September. Seolah waktu sengaja mengulang dirinya untuk menulis akhir yang berbeda.
Tepat satu tahun setelah kecelakaan itu, pada Minggu, 14 September 2026, Riyanti kembali harus menjalani tindakan medis.
Bukan karena musibah, tetapi perdarahan yang tiba-tiba muncul saat usia kandungannya belum mencapai perkiraan persalinan. Dokter memutuskan mengambil langkah cepat. Operasi Caesar.
Anak ketiga Riyanti lahir, lebih cepat dari jadwal yang semula diperkirakan awal Oktober 2026. Setahun sebelumnya, pada 14 September 2025, Riyanti berada di dalam rombongan RSBS Jember yang mengalami kecelakaan dalam perjalanan pulang dari Bromo.
Tubuhnya terluka, dan ia harus terbaring di ruang ICU selama beberapa hari untuk pulih. Namun luka fisik itu bukan yang paling berat ia tanggung.
Di tengah masa pemulihannya, Riyanti harus menerima kenyataan yang jauh lebih pedih. Putri pertamanya, Nasha Azkia Nayyara, yang baru berusia 14 tahun, telah pergi untuk selamanya akibat kecelakaan tersebut.
Luka di tubuh, cepat atau lambat, akan sembuh, tetapi kehilangan seorang anak meninggalkan ruang tersendiri di hati seorang ibu, ruang yang tidak akan pernah benar-benar terisi oleh apa pun.
Baca Juga: Tol Prosiwangi Makin Dekat, Akankah Manfaat Ekonominya Sampai ke Warga Jember?
Roda kehidupan terus berputar. Setelah melewati masa-masa sulit itu, Riyanti kembali menjalani kehidupannya sebagai perawat, hingga kemudian ia mengandung anak ketiganya.
Jalan menuju kelahiran itu pun tidak mudah. Sekitar dua bulan terakhir sebelum persalinan, Riyanti harus mengambil cuti dari pekerjaannya karena kembali mengalami perdarahan yang berulang.
Hingga akhirnya pada tanggal yang persis sama dengan tragedi setahun silam, perdarahan itu datang lagi dan mengantarkannya ke ruang operasi.
Di sanalah, dua kisah besar dalam hidup Riyanti seolah bertemu di satu titik. Tangis bayi perempuan terdengar pada tanggal yang dulu pernah menjadi hari paling gelap dalam hidupnya, kini berubah menjadi hari ia kembali menerima amanah kehidupan.
Ada yang menyebutnya kebetulan. Tetapi bagi keluarga Riyanti, perubahan jadwal persalinan dari semula diperkirakan awal Oktober jadi lebih cepat terasa seperti sebuah isyarat, bahwa di balik rencana manusia, selalu ada kuasa yang jauh lebih besar yang menentukan.
Owner RS Bina Sehat Grup, dr Faida, mengatakan perjalanan Riyanti memperlihatkan bahwa manusia hanya bisa merencanakan dan berikhtiar. Sedangkan waktu sebuah peristiwa tetap berada di luar kendali manusia.
“Rencana persalinan yang semula diperkirakan 1 Oktober berubah menjadi 14 September. Manusia merencanakan, berikhtiar, dan berharap. Namun pada akhirnya, Allah yang menentukan kapan sebuah peristiwa terjadi,” katanya.
Baca Juga: Antisipasi Karhutla di Medan Ekstrem, BPBD Jember Siapkan Pesawat Water Bomber
Menurut Faida, kelahiran anak ketiga tidak menghapus kenangan terhadap putri pertama Riyanti. “Putri pertama yang telah berpulang tetap memiliki tempat yang tidak tergantikan dalam hati keluarganya. Sementara putri ketiganya hadir sebagai amanah baru, membawa harapan dan kebahagiaan yang baru pula,” ujarnya.
Bagi keluarga Riyanti, dua peristiwa yang terjadi pada tanggal yang sama itu menjadi bagian dari perjalanan hidup yang tidak mudah dilupakan.
Ada kehilangan yang tetap dikenang, tetapi ada pula kehidupan baru yang harus disambut dan dijaga. Keduanya berjalan beriringan tanpa harus saling menggantikan.
Faida pun melihat tanggal yang sama itu sebagai pengingat bahwa makna sebuah peristiwa terkadang baru terasa setelah waktu berjalan.
“Dua peristiwa pada tanggal yang sama, yang mengingatkan bahwa di balik setiap ketetapan Allah SWT, selalu ada hikmah dan kasih sayang-Nya yang mungkin baru dapat dipahami seiring berjalannya waktu,” tutupnya. (kin/dwi)
Top of Form
Bottom of Form
Editor : Imron Hidayatullahh