Radar Jember - Kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jember sejak beberapa pekan terakhir tercatat cukup signifikan.
Hingga Senin (14/9) kemarin, telah tercatat 67 kejadian Karhutla sepanjang tahun ini, terdiri dari 10 kejadian kebakaran hutan dan 57 kejadian kebakaran lahan.
Merespons masih tingginya ancaman Karhutla tersebut, pemerintah daerah sempat mengemukakan strategi penanganan jitu.
Salah satu langkah krusial yang disiapkan adalah memanfaatkan fasilitas pesawat pengebom air (water bomber) dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk menjangkau titik api di medan ekstrem.
Baca Juga: Bongkar Potensi Bahaya Jalur Gumitir Jember: Pohon Tua Tumbang Dan Ancaman Tanah Longsor!
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember, Edy Budi Susilo, mengungkapkan bahwa opsi pemadaman lewat udara ini terbuka lebar jika skala kebakaran tergolong masif dan sulit ditempuh jalur darat.
BPBD Jember, menurut dia, dapat mengajukan bantuan armada udara yang saat ini disiagakan di Bandara Juanda, Sidoarjo.
"Kami memang sempat ditawari temen-temen BNPB, jika kondisi mendesak dan wilayahnya luas tak terjangkau darat, kami tinggal berkoordinasi dengan BNPB. Armada pesawat khusus dari Juanda bisa digeser ke (Bandara) Jember," kata Edy, belum lama ini, (1/9).
Menurut Edy, medan geografis seperti kawasan TNBTS maupun perbukitan kerap menjadi kendala utama personel darat. Akses yang terbatas dan memakan waktu berjam-jam membuat pemadaman manual sering kalah cepat dengan pergerakan api.
Baca Juga: Helm Bukan Pajangan! Satlantas Polres Jember Beberkan 29 Kasus Kecelakaan Sepeda Motor Sepekan
Kehadiran water bomber diyakini menjadi solusi efektif untuk menjatuhkan muatan air langsung di titik sentral kebakaran.
Meski demikian, BPBD Jember tetap memprioritaskan penanganan awal di tingkat tapak melalui sinergi dengan UTP. Pemadam Kebakaran dan BPBD Provinsi.
Ia menambahkan, bantuan pesawat water bomber akan diaktifkan sesuai prosedur Operasi Standar (SOP) sebagai dukungan taktis (backup) ketika eskalasi karhutla meningkat.
"Jadi kalau memang dipandang penting, mendesak, dan perlu, saya diminta kontak, kemudian mereka (BNPB) yang akan mendatangkannya ke Jember," imbuh Edy Budi.
Soal armada ini, Ketua Baret Rescue Jember, David Handoko Seto, mendesak pemerintah daerah untuk mencari sumber-sumber pendanaan alternatif untuk menopang operasional BPBD.
Mengingat, potensi kebencanaan di Jember bukan sekadar soal Karhutla, tapi juga angin putih beliung, longsor, hingga banjir, khususnya saat memasuki akhir dan awal tahun.
Baca Juga: Wanti-Wanti Anggaran Tumpang Tindih! DPRD Jember Resmi Ketok P-APBD 2026 Senilai Rp5,19 Triliun
"Anggaran di BPBD itu pas-pasan, karena itu kami mendorong Pemkab segera mengesahkan Perda Kebencanaan, yang itu salah satunya mengatur penggunaan sumber anggaran lain yang dar, dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan-perusahaan, yang selama ini belum terkelola dengan baik," kata pria yang juga sekretaris Komisi C DPRD Jember itu. (mau/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh