Radar Jember - Ada pemandangan yang tidak biasa setiap kali bel akhir jam pelajaran berbunyi di SMPN 2 Mumbulsari, Desa Lengkong, Kecamatan Mumbulsari.
Sebelum melangkahkan kaki keluar gerbang untuk pulang ke rumah, ratusan siswa di sekolah ini wajib melewati satu "ritual" unik: menyetor sejumlah sampah plastik kepada pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) yang berjaga di pintu masuk.
Aturan tidak biasa ini diterapkan demi mewujudkan lingkungan sekolah yang asri sekaligus membentuk karakter peduli lingkungan sejak dini.
Baca Juga: Atasi Macet Ketapang! BPH Migas Alihkan Pasokan BBM Jember Langsung dari Surabaya
Alih-alih langsung berhamburan pulang, para siswa tampak sibuk menenteng kantong kresek, botol air mineral bekas, hingga lembar kertas yang mereka pungut dari sekitar kelas dan halaman sekolah.
Kebijakan tersebut merupakan bagian dari inovasi bertajuk Gerakan Bersih Lingkungan Nyaman (Berlian).
Melalui program ini, sampah plastik dan kertas diposisikan layaknya "password" atau kata sandi fisik yang harus ditunjukkan murid sebelum gerbang sekolah benar-benar terbuka bagi mereka.
Kepala SMPN 2 Mumbulsari, Hermin Agustini, menjelaskan bahwa gerakan sederhana ini memiliki sasaran jangka panjang dalam pembentukan karakter peserta didik.
Menurutnya, pembiasaan kecil di sekolah diharapkan mampu merasuk ke dalam diri anak-anak dan diterapkan saat mereka berada di rumah maupun di tengah masyarakat luas.
Baca Juga: Mati Sejak 1992! Depo BBM Gebang Jember Diwacanakan Buka Lagi demi Cegah Kelangkaan BBM
"Pembiasaan kecil ini diharapkan berdampak besar di rumah dan di lingkungan masyarakat, sehingga nanti bisa membentuk karakter yang peduli lingkungan," kata Hermin, yang juga mantan Kepala SMPN 4 Tanggul.
Ia menambahkan, total ada 194 siswa di sekolah tersebut yang secara bergiliran harus memastikan lingkungan sekitar bersih sebelum mereka beranjak pulang.
Mulai dari sampah organik hingga anorganik, semuanya tak luput dari jangkauan tangan para siswa.
Jika ada murid yang kedapatan lupa atau belum membawa syarat sampah, mereka diwajibkan berputar kembali ke lingkungan sekolah untuk memungutnya terlebih dahulu.
Sementara itu, Fery, guru bagian kesiswaan SMPN 2 Mumbulsari, mengungkapkan bahwa efektivitas program ini sudah mulai dirasakan.
Anak-anak dinilai menjadi jauh lebih peka terhadap kebersihan, tidak sekadar tahu cara membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga tergerak untuk aktif membersihkan lingkungan.
Baca Juga: Genjot PAD, Pemkab Jember Matangkan Skema Parkir Berlangganan Terintegrasi Samsat
"Ketika pulang, siswa harus memungut sampah agar bisa pulang. Kalau ada siswa yang lupa, maka diwajibkan mencari sampah di lingkungan sekolah terlebih dulu," terang Fery.
Dari sisi pemanfaatan, pihak sekolah tidak sembarangan memperlakukan sampah yang terkumpul.
Guru bidang pendidikan, Dini Cholidiah, memaparkan bahwa sampah anorganik seperti botol bekas minuman dipilah secara khusus. Sebagian dikirim ke bank sampah, dan sebagian lainnya diolah menjadi barang yang bernilai guna.
"Sampah anorganik seperti botol bekas minuman yang dikumpulkan siswa bisa dijadikan alas meja kecil dan hiasan kelas. Caranya, sampah-sampah kecil dihancurkan lalu dimasukkan ke dalam botol hingga padat," jelas Dini.
Baca Juga: Pemerataan Gaya Hidup Sehat! KORMI Jember Wacanakan Kampung Olahraga di Desa
Sementara itu, untuk sampah organik berupa kertas dan daun kering, dikumpulkan pada tempat khusus untuk penanganan lebih lanjut.
Langkah pemilahan ini dinilai penting mengingat sampah plastik memerlukan waktu terurai yang sangat lama di dalam tanah.
Melalui Gerakan Berlian, SMPN 2 Mumbulsari membuktikan bahwa edukasi lingkungan tidak harus selalu dimulai dari teori di dalam kelas.
Lewat aksi nyata di gerbang sekolah setiap siang hari, kesadaran menjaga bumi perlahan-lahan ditanamkan menjadi kebiasaan hidup yang melekat pada diri para siswa. (dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh