Radar Jember - Dunia olahraga prestasi menghadapi tantangan baru. Bukan sekadar mencari lawan di arena, tetapi juga berebut perhatian anak muda di tengah padatnya aktivitas sekolah, media sosial, hingga game online.
Kondisi itu membuat Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jember harus mencari cara agar olahraga tetap menjadi pilihan menarik bagi generasi muda sekaligus membuka jalan lebih lebar bagi lahirnya atlet-atlet berprestasi.
Sekretaris Umum KONI Jember Panca Hidhayad menjelaskan, penyusutan atlet muda paling terasa ketika memasuki jenjang SMA.
Baca Juga: BGN Bekukan 46 Dapur MBG di Jember setelah Sekian Lama Nunggak Izin Tapi Beroperasi
Beban akademis yang meningkat, persiapan masuk perguruan tinggi, serta perubahan lingkungan pergaulan membuat sebagian pelajar mulai mengurangi porsi latihan. “Banyak orang tua dan siswa yang akhirnya memilih fokus pada nilai rapor dan bimbingan belajar, sehingga waktu untuk latihan intensif tersita,” jelasnya.
Kondisi itu diperparah atlet yang sejak SD mendapat latihan berat sehingga rentan jenuh ketika memasuki usia SMA jika pembinaan tidak dibarengi aspek rekreatif.
Karena itu, KONI Jember memilih tidak berhadap-hadapan dengan perubahan zaman, termasuk keberadaan game online.
Melalui Pengurus Cabang (Pengcab) E-Sports Indonesia (ESI) Jember, kegemaran bermain gim justru diarahkan menjadi jalur olahraga prestasi yang lebih terstruktur.
“KONI Jember tidak memosisikan game online sebagai musuh, melainkan sebagai peluang,” ujar Panca.
Baca Juga: Film ODUA Antar UIN KHAS Jember ke Podium PORSI Jawara II
Upaya mengenalkan olahraga juga diperluas ke ruang yang paling dekat dengan remaja, yakni media sosial dan sekolah.
KONI mendorong atlet serta pengurus cabang olahraga aktif membuat konten di medsos, mulai dari suasana latihan, behind the scenes, hingga kiat kebugaran.
Di lapangan, sejumlah cabor seperti gateball dan bridge mulai melakukan pengenalan langsung ke sekolah melalui demonstrasi. Sementara cabor seperti catur dan domino ikut didorong menyasar siswa melalui pendekatan olahraga berbasis permainan otak.
Prestasi atlet dancesport, panahan, karate, sepeda, dan wushu juga diharapkan menjadi contoh bahwa olahraga prestasi punya ruang aktualisasi bagi generasi muda.
Masifikasi ke sekolah menjadi bagian penting dari strategi pembinaan. KONI mendorong Pengcab, terutama cabor bela diri seperti pencak silat, taekwondo, dan karate serta olahraga beregu seperti futsal dan basket, untuk mengirim pelatih berlisensi mendampingi ekstrakurikuler di SMA/SMK.
Baca Juga: Intip Dapur Radar Jember! 56 Siswa SMAN Umbulsari Belajar Olah Berita Jadi Tulisan dan Video
Guru olahraga juga dilibatkan karena dinilai paling mengenal karakter dan potensi siswa.
“Anak-anak yang memiliki bakat fisik menonjol tetapi kurang terarah bisa disalurkan energinya ke cabor yang menguras fisik, seperti atletik, renang, atau bela diri,” terang Panca.
Jalur prestasi juga diperkuat dengan memberikan orientasi masa depan kepada atlet pelajar. Pemerintah Kabupaten Jember bersama KONI berkomitmen memberikan beasiswa pendidikan dan piagam penghargaan bagi atlet pelajar yang mampu meraih medali dalam kejuaraan resmi.
Prestasi tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai catatan di papan skor, tetapi bisa menjadi modal bagi siswa untuk melanjutkan pendidikan, termasuk membuka peluang masuk perguruan tinggi melalui jalur prestasi.
Momentum Hari Olahraga Nasional (Haornas) tahun ini pun diarahkan sebagai titik awal pembinaan yang lebih terukur.
Baca Juga: Gandeng RSUD Koesnadi! Unmuh Jember Kebut Pembukaan Fakultas Kedokteran Sebelum Moratorium
KONI Jember ingin memetakan potensi fisik dan minat olahraga pelajar SMP hingga SMA/SMK untuk membangun talent pool jangka panjang, sekaligus menyaring bibit dari Kejuaraan Kabupaten (Kejurkab) untuk menghadapi agenda multi-event regional maupun Porprov Jatim 2027.
“Haornas kami jadikan kick-off untuk memastikan kompetisi rutin berjalan di tingkat akar rumput. Panggung kompetisi yang aktif menjadi cara konkret agar semakin banyak anak muda menyentuh olahraga prestasi,” pungkas Panca. (dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh