Radar Jember - Tumpukan buku nyaris memenuhi setiap sudut ruangan. Di rak-rak kayu hingga lantai, buku hukum, politik, pendidikan, kesehatan, teknik, pertanian, dan berbagai bacaan lama tersusun tanpa banyak jarak.
Di tengah suasana toko yang sederhana itu, Mustakim duduk tenang di kursi yang telah menemaninya selama puluhan tahun. Wajahnya yang dipenuhi keriput, kumis dan janggut putih, serta peci hitam menjadi saksi perjalanan panjangnya menjaga toko buku di Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates.
Usianya kini menginjak 80 tahun. Namun, waktu seolah belum mampu memadamkan semangatnya untuk tetap membuka lembar demi lembar kehidupan lewat buku. Setiap hari, Mustakim masih menunggu pembeli datang ke rumahnya.
Baca Juga: Gelar Karpet Merah, Bupati Fawait Undang Investor Bikin SPBU Baru demi Atasi Krisis BBM di Jember
Ia membuka toko selepas salat Subuh dan mengaji. Bahkan, jika masih ada pembeli yang datang hingga malam, pintunya tetap terbuka. Perjalanan itu dimulai sejak 1963.
Kala itu, Mustakim masih remaja dan lebih dulu berjualan koran sebelum kemudian menekuni buku bekas. Kehidupan yang serba terbatas membuatnya tak pernah mengenyam pendidikan formal.
Ironisnya, orang yang kemudian puluhan tahun menghabiskan hidup di antara ribuan buku itu sempat tidak bisa membaca.
"Saya jualan buku ini tidak bisa baca sebelumnya. Saya berjualan karena memang tidak tahu mau jualan apa, jadi saya memilih jualan buku bekas yang saya beli di pasar-pasar loakan di Surabaya," ujar Mustakim.
Kemampuan membaca justru diperolehnya dari para mahasiswa Universitas Jember (Unej) yang datang membeli buku. Dari situlah perjalanan Mustakim dengan dunia literasi berubah.
Baca Juga: Gelontorkan 952 Kiloliter! Pertamina Pastikan Stok BBM Di Jember Surplus 146 Persen
Ia yang semula hanya melihat buku sebagai barang dagangan, perlahan memahami bahwa di balik tumpukan kertas itu tersimpan pengetahuan yang bisa mengubah cara seseorang memandang kehidupan.
"Saya bisa baca karena ada mahasiswa Unej yang mengajarkan membaca," katanya.
Sejak saat itu, buku bukan lagi sekadar sumber penghasilan. Mustakim mulai memandang membaca sebagai jalan untuk memperluas wawasan. Baginya, kemajuan zaman boleh menghadirkan teknologi dan informasi dalam genggaman, tetapi kebiasaan membaca tetap memiliki tempat tersendiri.
Ia percaya, membaca merupakan jendela dunia yang membuat seseorang mampu melihat lebih luas dari apa yang ada di sekelilingnya. Jatuh bangun berjualan buku pun telah menjadi bagian dari hidupnya.
Pada awalnya, Mustakim berjualan di trotoar kawasan perkotaan Jember. Ketika penertiban membuat aktivitas itu tak lagi memungkinkan, ia sempat berkeliling dari pasar ke pasar.
Baca Juga: Stok Melimpah tapi Gaib! Hilangnya Pertalite di Jember Bikin Warga Curiga
Sampai akhirnya, pada 2000, rumahnya di Jember Kidul menjadi tempat berjualan sekaligus ruang penyimpanan buku yang terus bertambah.
"Dulu jualannya di tahun 1963 di trotoar di kota. Semenjak tidak diperbolehkan karena pembersihan, saya pindah ke rumah ini dari tahun 2000. Sekarang di rumah saja sudah enggak kuat lagi buat jualan keliling. Alhamdulillah atas izin Allah tempat ini bertahan sampai sekarang," tuturnya.
Bukan sekali dua kali ia menghadapi masa sulit. Pada 1984, toko bukunya bahkan pernah sepi pembeli hingga bertahun-tahun. Perubahan kurikulum pendidikan membuat buku yang dijualnya tak lagi banyak dicari.
Mustakim sempat berhenti berjualan dan hanya tinggal di rumah. Namun, kegelisahan karena tak memiliki penghasilan membuatnya kembali ke Surabaya untuk mencari buku loakan. Keputusannya sempat ditentang sang istri karena khawatir kembali mengalami masa sepi.
Tak disangka, seorang dosen datang membeli buku dan menjadi awal kembali ramainya dagangan Mustakim. buku-buku itu masih dijual dengan harga terjangkau, mulai sekitar Rp5 ribu, bergantung pada jenis dan kondisi bukunya.
Baca Juga: Sepekan Lebih Krisis BBM Belum Kelar, Pemkab Jember Pulangkan ASN dan Liburkan Sekolah Tatap Muka
Mayoritas pembelinya mahasiswa Unej dan Universitas Unmuh Jember yang membutuhkan referensi untuk tugas hingga skripsi. Di tengah derasnya informasi digital, kunjungan pembeli memang tak seramai dahulu. Namun, Mustakim memilih tetap bertahan.
Setelah lebih dari enam dekade berjualan, ia meneguhkan diri tak sekadar menjaga sebuah toko buku, tetapi juga merawat lentera dunia yang terarsip rapi melalui lembar-lembar buku. “Buku itu lentera, jendela dunia, tak mungkin hengkang dari perkembangan zaman,” pungkasnya. (dhi/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh