Radar Jember – Antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU di Jember masih terjadi.
Bahkan, sejumlah pedagang eceran BBM masih terlihat datang lebih awal dan ikut mengantre untuk mendapatkan Pertalite maupun Pertamax. Mereka bahkan rela datang sejak dini hari agar mendapatkan BBM.
Kondisi tersebut terlihat di SPBU Jenggawah, Dusun Bringilawang, Desa Wonojati, Kecamatan Jenggawah, Selasa (8/9) pagi. Sejumlah kendaraan roda dua dan roda empat sudah terlihat mengantre sebelum SPBU dibuka.
Baca Juga: Panic Buying Bikin Konsumsi BBM Naik 25 Persen, Hiswana Migas Bongkar Penyebab Antrean SPBU Jember
Seorang pengendara asal Kertonegoro, Abdul Gofur 34 mengatakan, sejumlah pengendara sepeda motor yang datang sejak subuh diduga merupakan pedagang eceran. Mereka disebut sudah menjadi pelanggan yang berulang kali mengantre untuk mendapatkan BBM.
“Sejak subuh sudah banyak yang datang, terutama pengendara sepeda motor. Yang datang itu-itu saja. Warga umum yang membeli untuk bekerja atau mengantar anak sekolah justru hanya beberapa,” katanya.
Warga lainnya mengaku datang sekitar pukul 03.30 untuk mengisi BBM. Dia sengaja datang lebih awal karena harus mengantar anak sekolah ke SMKN 5 Jember sekaligus berangkat bekerja.
Namun, karena antrean sudah panjang dan SPBU belum dibuka, dia memilih meninggalkan lokasi karena khawatir terlambat mengantar anak.
Menurutnya, kondisi tersebut cukup merugikan warga yang hanya membutuhkan BBM untuk keperluan sehari-hari. Apalagi, antrean pedagang eceran terlihat mendominasi sejak pagi.
Baca Juga: Bongkar Penyebab Antrean BBM di Jember: Gus Fawait Desak Pertamina Buka Jalur Pengiriman Baru
“Seharusnya pagi hari petugas lebih dulu melayani warga umum. Bukan malah pedagang eceran yang antre sampai panjang,” ujarnya.
Sebelumnya, pihak SPBU telah menerapkan pembatasan pembelian bagi pedagang eceran. Untuk motor dibatasi maksimal Rp 30 ribu, sedangkan kendaraan roda empat maksimal Rp 150 ribu.
Namun, di lapangan masih ditemukan pengendara yang diduga pedagang eceran kembali mengantre setelah selesai mengisi BBM. Mereka kemudian masuk kembali ke barisan antrean di belakang pengendara lainnya.
“Percuma dibatasi kalau setelah selesai mengisi mereka kembali antre. Kalau memang ada aturan, petugas harus mengetahui kendaraan dan orang yang sama agar tidak berulang kali mengantre,” katanya.
Dia berharap ada pengawasan lebih ketat untuk mencegah antrean berulang. Jika diperlukan, petugas kepolisian dari Polsek terdekat dapat ikut melakukan pengawasan agar antrean tidak semakin panjang dan stok BBM tidak cepat habis.
Baca Juga: Bikin Pekerja dan Siswa Terlambat! Antrean BBM SPBU Jubung Jember Picu Kemacetan Panjang
Kondisi tersebut juga menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat. Sebab, meskipun banyak pedagang eceran terlihat mengantre di SPBU, BBM justru masih sulit ditemukan di lapak-lapak eceran.
“Jangan mengambil keuntungan ketika banyak orang sedang membutuhkan. Banyak pedagang eceran yang antreannya memenuhi SPBU, tetapi BBM masih sulit didapat di pedagang eceran. Kondisi seperti ini membuat warga semakin panik,” pungkasnya.
Pantauan Jawa Pos Radar Jember di SPBU Jenggawah, sejumlah sepeda motor yang diduga digunakan pedagang eceran, seperti Honda Megapro, hingga Yamaha Vixion. Sementara, pasukan thunder tidak terlihat, karena sebelumnya mereka telah dilarang.
Antrean panjang juga terjadi di SPBU Ambulu, Desa Tegalsari, Kecamatan Ambulu. Kendaraan roda dua mengantre hingga mendekati depan Yon Armed 8 Ambulu.
Sementara antrean kendaraan roda empat dari arah timur juga memanjang hingga kawasan tersebut. Bahkan, antrean roda empat terlihat sampai melewati tugu perbatasan Desa Tegalsari dan Desa Kesilir.
Baca Juga: Solar Membawa Petaka! Tumpahan BBM Sepanjang 500 Meter Buat Pengendara Kencong Berjatuha
Sementara itu, antrean kendaraan roda dua juga terjadi di SPBU Sabtuan, Jalan Basuki Rahmat, Kelurahan Tegalbesar, Kecamatan Kaliwates.
Antrean sepeda motor mengular hingga sisi selatan SPBU. Kendaraan roda empat yang hendak mengisi BBM juga harus masuk melalui sisi selatan dan berputar ke belakang. (jum/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh