Cegah Karhutla Meluas! Perhutani KPH Jember Andalkan Satelit dan Terjunkan Mobil Patroli Khusus

Imron Hidayatullahh • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 06:00 WIB
"Kami memberikan pemahaman bahwa membuka atau membersihkan lahan dengan cara dibakar risikonya sangat besar." EKO TEGUH PRASETYO, Administratur Perhutani KPH Jember. (SIDKIN ALI/RADAR JEMBER)
"Kami memberikan pemahaman bahwa membuka atau membersihkan lahan dengan cara dibakar risikonya sangat besar." EKO TEGUH PRASETYO, Administratur Perhutani KPH Jember. (SIDKIN ALI/RADAR JEMBER)

Radar Jember – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi perhatian serius Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Jember.

Dengan luas kawasan hutan mencapai 71.784,99 hektare atau sekitar 21,7 persen dari total wilayah Jember, berbagai langkah pencegahan terus diperkuat agar kebakaran tidak meluas saat musim kemarau.

Pendekatan yang dilakukan tidak hanya mengandalkan pemadaman ketika api muncul, tetapi juga memperkuat upaya pencegahan sejak dini melalui patroli, edukasi masyarakat, hingga pemanfaatan teknologi.

Baca Juga: Dosen Unmuh Sebut Karhutla di Kalimantan Api Tak Sekadar Soal Kemarau

Administratur Perhutani KPH Jember Eko Teguh Prasetyo mengatakan, langkah pertama yang dilakukan adalah membangun koordinasi dengan seluruh pihak terkait.

Mulai BPBD, Satpol PP yang membawahi Damkar, TNI, Polri, hingga pemerintah desa terus dilibatkan agar penanganan kebakaran dapat dilakukan lebih cepat ketika terjadi keadaan darurat.

Pola koordinasi tersebut juga diterapkan hingga tingkat lapangan melalui para asisten Perhutani (Asper), mandor, Polsek, Koramil, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), serta masyarakat sekitar kawasan hutan.

"Kami memastikan komunikasi dengan seluruh pihak berjalan baik sehingga ketika membutuhkan bantuan pemadaman tidak mengalami kendala," ujarnya.

Selain memperkuat koordinasi, Perhutani meningkatkan intensitas patroli di kawasan hutan yang rawan terbakar. Patroli dilakukan bersama LMDH dan masyarakat pada jam-jam yang dinilai paling rawan, terutama siang hingga sore hari, bahkan dilakukan bergantian pada malam hari.

Baca Juga: Bertahun-tahun Merasa Dianaktirikan, Gus Fawait Janjikan Madrasah di Jember Dapat Porsi Khusus APBD

Kawasan yang menjadi perhatian bukan hanya hutan produksi, tetapi juga lahan masyarakat dan perkebunan yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya preventif agar potensi kebakaran dapat diketahui lebih awal sebelum api meluas.

Perhutani juga terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat, khususnya petani penggarap yang memanfaatkan lahan di kawasan hutan. Edukasi itu berupa papan informasi dan larangan membuka lahan dengan cara dibakar maupun edukasi lisan secara langsung.

Mereka juga diingatkan agar tidak membersihkan lahan dengan cara membakar karena berisiko memicu kebakaran yang sulit dikendalikan saat musim kemarau.

Jika ditemukan praktik tersebut, petugas lebih mengedepankan pendekatan persuasif melalui edukasi dibanding langsung memberikan sanksi. "Kami memberikan pemahaman bahwa membuka atau membersihkan lahan dengan cara dibakar risikonya sangat besar. Karena itu kami lebih memilih mengedukasi agar masyarakat sadar dan tidak mengulanginya," kata Eko.

Di sisi lain, pemanfaatan teknologi juga menjadi andalan Perhutani dalam mendeteksi potensi kebakaran.

Seluruh petugas lapangan kini diwajibkan menggunakan aplikasi Sipongi, sistem pemantauan titik panas milik Kementerian Kehutanan yang terhubung dengan citra satelit sehingga mampu mendeteksi hotspot secara real time.

Melalui aplikasi tersebut, petugas dapat langsung mengetahui lokasi munculnya titik panas dan segera melakukan pengecekan ke lapangan.

Baca Juga: Komposisi Kabinet Kembali Dipugar, Bupati Jember Rotasi Puluhan Pejabat Utama hingga Camat

"Begitu ada hotspot, langsung terlihat di aplikasi. Informasinya bisa kami pantau bersama mulai tingkat lapangan, KPH, hingga tingkat regional sehingga penanganan bisa lebih cepat," jelasnya.

Untuk mendukung penanganan di lapangan, Perhutani juga menyiapkan berbagai peralatan pemadam kebakaran yang disesuaikan dengan kondisi medan.

Selain alat pemukul api, tangki semprot gendong, dan pompa air, Perhutani juga memodifikasi kendaraan penggerak empat roda (4x4) dengan toren air dan mesin pompa agar mampu menjangkau lokasi yang sulit dilalui mobil pemadam biasa.

Menurut Eko, kawasan hutan lindung di wilayah selatan Jember, seperti Tempurejo, Ambulu, hingga Puger, menjadi daerah yang paling sering mengalami kebakaran karena didominasi semak belukar saat musim kemarau. Meski demikian, potensi serupa juga tetap diwaspadai di kawasan hutan lindung lereng Raung yang memiliki vegetasi pinus dan rimba campuran.

"Memang paling sering kebakaran di daerah selatan. Namun, kami terus meningkatkan patroli untuk mencegah terjadinya kebakaran," pungkasnya. (kin/dwi)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
Jember kebakaran lahan karhutla perhutani kebakaran hutan