Radar Jember - Sebuah bengkel sederhana di daerah Gumitir, sekelompok pemuda seolah ingin membuktikan satu hal. Keterbatasan ijazah bukan penghalang untuk melahirkan karya berkelas global. Lantas bagaimana mereka jatuh-bangun merintis itu semua.
Tak ada yang istimewa dari sudut bengkel berukuran 7 x 17 meter di tepi jalan nasional arah Gunung Gumitir, Desa Garahan, Kecamatan Silo, Jember, tersebut.
Selain bau khas logam panas berpadu dengan debu dempul yang beterbangan, selebihnya ada tawa dan canda para pekerja yang digawangi oleh mayoritas anak-anak muda.
Di dalam bengkel sederhana itu, puluhan pasang tangan cekatan tampak sibuk memotong pelat baja, membengkokkan stainless, hingga menghaluskan lekukan spakbor/fender dan bumper mobil niaga.
Sekilas, pemandangan ini tampak seperti bengkel las biasa di jalur lintas Jember–Banyuwangi. Namun, siapa sangka, karya estetis pelindung bodi pikap Mitsubishi L300, Isuzu Traga, Daihatsu Gran Max, hingga Suzuki Carry dan Futura yang diproduksi di sini telah melanglang buana menembus pasar luar pulau hingga mancanegara, seperti Batam, Sumatera, Maluku, Malaysia, Brunei Darussalam, hingga Singapura.
Lebih mengagumkan lagi, di balik produk yang memiliki presisi tinggi itu. Ada sebagian besar tenaga kerjanya adalah anak-anak muda lokal yang tidak sempat melanjutkan pendidikan dan hanya mengantongi ijazah SMP.
Sosok di balik geliat industri kreatif desa ini adalah Alifi Septiawan, 36. Pria ramah dengan empat orang anak ini membagi bengkelnya menjadi dua lokasi.
Di bengkel yang berlokasi di pinggir jalan nasional itu, diperuntukkan bagi anak-anak muda energik yang fokus pada perakitan variasi bodi dan pengelasan, sementara di bengkel keduanya, di bawah, dihuni para pekerja dewasa yang mematangkan proses dempul serta finishing.
"Total sekarang ada 21 karyawan. Mayoritas anak-anak muda sekitar sini, rata-rata lulusan SMPN 3 Silo yang tidak lanjut sekolah. Alhamdulillah, setidaknya bisa sedikit membantu menekan angka pengangguran di desa," tutur Alifi sembari tersenyum ramah, kepada Jawa Pos Radar Jember, belum lama ini.
Kesuksesan Alifi memberdayakan para pemuda putus sekolah bukanlah cerita instan. Lulusan SMPN 3 Silo ini paham betul getirnya hidup tanpa modal ijazah tinggi.
Darah mekanik sejatinya mengalir dari sang ayah, Muhammad Saleh, 60, yang dulunya berprofesi sebagai sopir trayek Jember–Genteng sekaligus perantara jual beli mobil bekas. Namun, Alifi memilih meniti jalannya sendiri dari bawah. Medio 2008–2009, ia sempat bekerja banting tulang sebagai buruh tebang tebu selama tiga tahun.
Tak berhenti di situ, pada 2010 ia bahkan sempat menyambung hidup dengan menjadi pencari barang rongsokan selama setahun penuh dengan merantau ke Pulau Dewata, Bali. "Saya dulu ikut jadi montir. Terus sempat beli mobil butut Suzuki Carry, saya modifikasi dan las sendiri di rumah," kenang Alifi.
Keahlian otodidak itulah yang menjadi titik balik. Pada 2014, ia memberanikan diri membuka bengkel las kecil di rumah bawah. Berkat ketekunan dan hasil pekerjaannya yang rapi, pesanan mulai mengalir deras. Hingga pada 2016, Alifi mampu memperluas usahanya dengan mendirikan bengkel baru di pinggir jalan raya nasional.
Salah satu kunci sukses bengkel Alifi menembus pasar lintas batas adalah inovasi produksinya. Alifi merancang dan membuat mal serta alat cetakan sendiri untuk berbagai tipe kendaraan niaga.
Artinya, para pemilik armada atau sopir tidak perlu repot membawa kendaraan mereka berhari-hari ke Garahan.
Mobil niaga mereka (para pelanggan) tetap bisa beroperasi mengangkut muatan di jalanan tanpa kehilangan pemasukan harian, sementara aksesori bumper pesanannya dikerjakan presisi di bengkel Alifi.
"Sistemnya full set untuk semua jenis mobil barang. Kalau pelanggan sudah bayar uang muka (DP), kami langsung belanja bahan dan kerjakan. Pengerjaan biasanya memakan waktu 3 hari sampai 2 minggu tergantung tingkat kerumitan, setelah jadi tinggal kami kirim ke alamat pemesan via ekspedisi," kata ayah empat anak itu.
Pemasaran daring pun menjadi pintu gerbang bengkel Alifi dikenal luas. Meski begitu, berbisnis via dunia maya tentu memiliki suka duka tersendiri. "Namanya usaha, pernah juga ada yang pesan tapi tiba-tiba cancel (batal)," imbuh Alifi, disusul tawa lepas mengenang dinamika menghadapi berbagai macam karakter pembeli. (dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh