Bikin Penonton Merinding! Teater Butah Nol KM Jember Padukan Mitos Tradisi dan Isu Lingkungan

Sidkin • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 08:00 WIB
BAWA PESAN PENTING: Penampilan teater Butah di Omah Winning Cafe Sumbersari, Sabtu malam (22/8). Ini menceritakan raksasa, manusia, tradisi, dan hubungannya dengan ekologi. (DOK TEATER BUTAH)
BAWA PESAN PENTING: Penampilan teater Butah di Omah Winning Cafe Sumbersari, Sabtu malam (22/8). Ini menceritakan raksasa, manusia, tradisi, dan hubungannya dengan ekologi. (DOK TEATER BUTAH)

RADAR JEMBER - DI Omah Winning Cafe, Kecamatan Sumbersari, Jember, kisah itu dimainkan lewat pertunjukan Butah Ecodramatik Nol KM.

Sejumlah pegiat seni bersama elemen masyarakat mengangkat cerita yang bersumber dari tradisi Jember, tetapi membawanya ke persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan hari ini

Dalam cerita, Butah digambarkan sebagai sosok raksasa. Wujudnya diperankan dua pemain yang bergerak membawa bambu, dengan topeng menyerupai raksasa di bagian atasnya.

Baca Juga: COMING SOON! Turnamen Mini Soccer di Jember dengan Hadiah Ratusan Juta, Cek Jadwalnya

Sosok tersebut menjadi bagian penting dalam cerita, bukan sebagai raksasa yang datang untuk menghancurkan, tetapi sebagai pengingat bagi manusia.

Ketika alam terus diabaikan dan dieksploitasi, dampaknya pada akhirnya akan kembali dirasakan manusia sendiri.

“Butah berasal dari bahasa Madura yang artinya raksasa. Di situ menceritakan raksasa bukan untuk menghancurkan, tetapi mengingatkan manusia kembali menjaga alam,” kata Ferick Sahid Persi, Sutradara Butah.

Pesan itu menjadi benang merah dalam pertunjukan. Butah tidak hanya ditempatkan sebagai bagian dari tradisi, tetapi juga sebagai simbol untuk melihat kembali bagaimana manusia memperlakukan alam.

Baca Juga: Bupati Jember Gus Fawait ke Mahasiswa: Lulus Dulu, Nikah Kemudian!

Karena itulah, di teater itu juga bercerita masyarakat yang terdampak akibat alam yang rusak. Mereka digambarkan bingung dan kesakitan. Maka, cerita yang dibawa tidak berpusat pada masa lampau, tetapi mencoba berbicara tentang persoalan yang masih berlangsung sampai sekarang.

Gagasan tersebut berangkat dari kegelisahan terhadap krisis ekologi yang dalam beberapa dekade terakhir semakin sering menjadi perhatian.

Modernisasi dan pembangunan terus berjalan, sementara alam kerap menjadi bagian yang dikorbankan demi mengejar pertumbuhan dan keuntungan.

Dari keresahan itu, lahirkan Butah Ecodramatik Nol KM. Gagasan tersebut kemudian dikembangkan dan diterjemahkan bersama The Royal Actor Experimental Theatre Indonesia.

Di dalam naskahnya, Butah juga mencoba melihat kembali bagaimana mitos dan ritual pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Keduanya pernah menjadi ruang bersama untuk mencari solusi dan menjaga keseimbangan kehidupan.

Namun, ketika kepentingan kekuasaan dan kapital masuk, mitos dan ritual juga bisa dibelokkan untuk kepentingan tertentu.

“Butah hadir sebagai mitos yang menjanjikan harapan hidup bagi umat manusia. Namun, dalam proses dekonstruksi naskah ini, kami melihat bahwa ritual dan mitos kerap dibelokkan oleh pemegang kekuasaan,” jelas Ferick.

Baca Juga: Verval Desil 2 Sentuh 85 Persen, Pemkab Jember Puji Kinerja KKN Kolaboratif 2026

Bagi penonton, cerita tersebut tidak hanya disampaikan lewat dialog. Gerakan para pemain, musik, mimik dan suasana pertunjukan membuat penonton berada lebih dekat dengan cerita.

Tidak seperti menonton melalui layar, penonton dan pemain berada dalam ruang yang sama dan saling merasakan suasana pertunjukan. Ana, salah seorang penonton, mengaku ikut terbawa ke dalam cerita tentang dewa, rakyat dan kerusakan lingkungan.

“Langsung merasakan suasana teaternya, benar seperti masuk ke dimensi lain, terbawa ke alur cerita menakjubkan yang menceritakan dewa dan para rakyat yang menderita karena kerusakan lingkungan,” ungkapnya.

Di tengah zaman yang semakin akrab dengan gawai dan media sosial, Butah mencoba memberi ruang bagi tradisi untuk tetap hidup dengan cara yang lebih dekat dengan generasi sekarang.

Baca Juga: BPJS Ketenagakerjaan Jember Raih Penghargaan di Radar Jember Award 2026

Cerita lama tidak sekadar dipentaskan kembali, tetapi diberi persoalan baru yang masih bisa dirasakan hari ini.

Dari sosok raksasa yang dimainkan di atas panggung, penonton diajak mengingat bahwa alam bukan sekadar latar tempat manusia hidup.

Ia bagian dari kehidupan yang harus dirawat. Dan melalui Butah, pesan itu kembali disampaikan dengan cara yang sederhana: menjaga tradisi sekaligus menjaga alam. (dwi)

 

 

Editor : Imron Hidayatullahh
kritik sosial Jember teater Lingkungan