Masuk Tahun Ke-14! Festival Egrang Tanoker Ledokombo Sukses Pukau Wisatawan Lewat Seni Budaya

M Adhi Surya • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 07:00 WIB
PUKAU PENONTON: Penampilan egrang dan tari-tarian saat Festival Egrang XIII Tanokee, Ledokombo, Jember. (MAULANA/RADAR JEMBER)
PUKAU PENONTON: Penampilan egrang dan tari-tarian saat Festival Egrang XIII Tanokee, Ledokombo, Jember. (MAULANA/RADAR JEMBER)

Radar Jember  - Festival Egrang Tanoker Ledokombo tak sekadar menghidupkan permainan bambu, tetapi juga merawat keberagaman, kreativitas anak, hingga menggerakkan ekonomi warga. Memasuki tahun ke-14, egrang terus dikembangkan sebagai seni pertunjukan sekaligus bagian dari pembelajaran di sekolah.

Tarian bambu menjulang memang bukan pemandangan asing di Ledokombo. Setiap tahun, wajah-wajah baru silih berganti datang, menyaksikan riuhnya pertunjukan egrang.

Ada anak-anak yang berjalan di atas bambu, ada yang menari, ada pula yang beratraksi mengikuti irama. Permainan tradisional yang dulu sederhana itu kini menjelma menjadi pertunjukan budaya yang ikut menarik langkah wisatawan menuju Ledokombo.

Baca Juga: Legislator Teladan Penggerak Aspirasi dan Pembangunan Daerah, M SATIB Raih Radar Jember Awards

Festival Egrang Tanoker menjadi salah satu ruang yang membuat tradisi tersebut terus hidup. Tahun ini, festival itu sudah masuk tahun ke 14 yang dilaksanakan 8 Agustus kemarin.

Sejak pertama digelar pada 2010, event tersebut konsisten menjadi agenda tahunan yang mempertemukan permainan tradisional, seni pertunjukan, sekolah, komunitas, dan masyarakat. Festival sempat vakum selama pandemi Covid-19.

Bagi Tanoker, egrang tidak berhenti pada permainan untuk mengisi waktu luang. Anak-anak justru mengembangkannya menjadi bagian dari tarian.

 Gerakan berjalan di atas bambu dipadukan dengan koreografi dan atraksi. Kreativitas itu kemudian membuat egrang semakin diminati anak-anak sekaligus ikut mengangkat Ledokombo sebagai destinasi wisata permainan tradisional di Jember.

Founder Tanoker Ledokombo, Farha Ciciek, menyebut festival memiliki makna lebih luas daripada sekadar perayaan budaya. “Bagi Tanoker, festival bukan sekadar pesta, ia adalah ajang perjuangan yang bersifat kultural,” katanya.

Nilai yang dibawa dari permainan egrang juga berkaitan dengan keseimbangan, kekompakan, saling membantu, serta kemampuan menghadapi hambatan bersama. Konsep tersebut terlihat dari peserta yang dilibatkan.

Baca Juga: 45 Tokoh Paling Menginspirasi: Peraih Radar Jember Awards 2026 Resmi Diumumkan!

Festival tidak hanya memberi panggung kepada anak sekolah. Barisan lansia menjadi salah satu ciri khas dalam defile. Komunitas, organisasi kepemudaan, kelompok lintas etnis, hingga anak dan kaum muda disabilitas turut mendapat ruang untuk tampil.

“Parade itu menjadi gambaran keberagaman yang ingin dirawat melalui festival,” imbuhnya.

Dari sisi pariwisata, geliat festival juga bersentuhan langsung dengan aktivitas warga. Kelompok kuliner, kerajinan, UMKM, dan pengelola homestay ikut dilibatkan.

Tanoker juga mendampingi kelompok masyarakat dalam paket wisata petualangan Kacong-Genduk yang mencakup tujuh destinasi. 

“Kehadiran festival diharapkan ikut meningkatkan transaksi dan menghidupkan ekonomi masyarakat Ledokombo,” ucapnya.

Festival kemudian tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga arena gelar karya siswa. Sekolah-sekolah yang mengembangkan permainan tradisional egrang mendapat ruang untuk menampilkan hasil kreasi tari mereka.

Baca Juga: Ngerem Mendadak saat Menikung! Truk Tronton Tripleks Nyaris Terguling di Jalan Nasional Silo Jember

“Festival Egrang dibuat untuk mengekspresikan, menampilkan, memperkenalkan, mengapresiasi egrang, tari egrang, kreatifitasnya, antusiasme, filosofi dan nilai-nilainya kepada khalayak,” terang Farha.

Tak hanya festival. Sejak 2024, Tanoker bekerja sama dengan berbagai instansi untuk menjadikan permainan tradisional tersebut sebagai bagian dari modul ajar. Di beberapa sekolah, egrang dikembangkan sebagai kegiatan ekstrakurikuler, kearifan lokal dalam P5, maupun muatan lokal. (dhi/dwi)

 

 

Editor : Imron Hidayatullahh
festival egrang Jember festival budaya Tanoker Ledokombo