Radar Jember – Suasana Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Alun-Alun Jember, Senin (17/8), berlangsung berbeda dari biasanya. Upacara digelar sederhana, namun tetap khidmat dan penuh makna.
Tak terlihat deretan kursi maupun tenda yang biasanya disiapkan untuk peserta dan undangan VIP.
Jajaran Forkopimda plus, pejabat instansi, pengusaha, hingga ratusan pelajar berdiri bersama di bawah terik matahari pagi.
Panitia hanya menyediakan empat tenda. Namun, fasilitas tersebut diperuntukkan bagi para veteran dan undangan perempuan.
Sementara pejabat laki-laki, termasuk mereka yang masuk dalam jajaran undangan VIP, berdiri berbaris hingga seluruh rangkaian upacara selesai.
Pemandangan tersebut seolah menghapus sekat antara pejabat dan masyarakat. Panas matahari dan lelah berdiri dirasakan bersama.
Kesederhanaan tata tempat itu sekaligus menghadirkan pesan tentang kesetaraan, kebersamaan, dan keadilan dalam mengisi kemerdekaan.
Ketua Komisi A DPRD Jember Budi Wicaksono mengapresiasi pelaksanaan upacara dengan konsep tersebut.
Baca Juga: Petaka Usai Upacara HUT RI, Dua Maba Unej Ditabrak Mobil Dinas Plat Merah di Area Kampus
Menurutnya, keputusan pejabat untuk berdiri bersama peserta upacara membuat suasana terasa lebih dekat dan egaliter.
“Sudah tidak ada jarak antara pejabat dengan masyarakat. Sama-sama kepanasan, sama-sama berdiri. Ini sangat baik,” katanya seusai upacara, Senin (17/8).
Bagi Budi, suasana tersebut juga menjadi pengalaman berbeda secara personal.
Sejak menjadi anggota DPRD Jember pada 2014, baru kali ini dia mengikuti upacara HUT Kemerdekaan dengan berdiri lebih dari satu jam.
“Sejak jadi anggota dewan, ini baru pertama kali saya ikut upacara tapi berdiri dan berpanas-panasan,” ungkapnya.
Menurut Budi, keberadaan tenda bagi para veteran justru menjadi bentuk penghormatan yang tepat.
Mereka yang telah lebih dahulu berjuang merebut kemerdekaan layak mendapatkan tempat untuk beristirahat.
Sementara pejabat dan masyarakat bersama-sama merasakan panas dan lelah selama upacara berlangsung.
“Ke depannya perlu dilanjut tradisi ini. Semua sama-sama merasakan panas dan capeknya,” pungkasnya. (kin/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh