Di Balik Anggunnya Pembawa Baki Upacara HUT RI di Jember: Latisya Arnel Ternyata Penggila Fitness Sejak Kelas 9 SMP

Sidkin • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 06:00 WIB
TUGAS MULIA: Latisya Arnel Lita Putri, pelajar asal SMAN 1 Kencong Jember yang menjadi pembawa baki bendera merah putih pada upacara pengibaran HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Alun-Alun Jember, kemarin. (SIDKIN ALI/RADAR JEMBER)
TUGAS MULIA: Latisya Arnel Lita Putri, pelajar asal SMAN 1 Kencong Jember yang menjadi pembawa baki bendera merah putih pada upacara pengibaran HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Alun-Alun Jember, kemarin. (SIDKIN ALI/RADAR JEMBER)

Radar Jember - Sejak SMP, ia sudah menyiapkan langkahnya. Gym dan lari menjadi rutinitas untuk menjaga fisik. Semua itu dijalaninya sedikit demi sedikit hingga akhirnya dipercaya membawa baki bendera Merah Putih.

Langkahnya perlahan, tetapi mantap. Di hadapan ribuan pasang mata yang tertuju pada Sang Saka Merah Putih, Latisya Arnel Lita Putri membawa baki dengan penuh konsentrasi pada upacara pengibaran bendera HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Alun-Alun Jember, kemarin (17/8).

Usianya baru 16 tahun. Siswi kelas XI IPS SMAN 1 Kencong, wilayah Jember selatan yang berjarak cukup jauh dari pusat kabupaten. Namun, kemarin, ia berada di salah satu posisi yang paling mendapat perhatian dalam prosesi pengibaran bendera.

Baca Juga: Petaka Usai Upacara HUT RI, Dua Maba Unej Ditabrak Mobil Dinas Plat Merah di Area Kampus

Menjadi pembawa baki bukan perkara sekadar berjalan membawa bendera. Ada ketenangan, ketepatan langkah, fokus, dan keberanian yang harus dijaga. Sebab, satu gerakan kecil bisa menjadi perhatian banyak orang.

Arnel, sapaan akrabnya sudah memahami itu sejak awal. Bahkan jauh sebelum mengikuti seleksi Paskibraka, ia telah menyiapkan dirinya. Keinginan menjadi bagian dari Paskibraka bukan muncul secara tiba-tiba, melainkan telah menjadi impiannya sejak lama.

Kesempatan itu datang ketika seleksi Paskibraka dibuka Februari lalu. Dara asal Dusun Wunguan, Desa/Kecamatan Kencong itu mengikuti seluruh tahapan dan dinyatakan lolos. Ia bahkan sempat mengikuti proses seleksi untuk tingkat provinsi. Namun, langkahnya terhenti karena persoalan tinggi badan.

Meski demikian, proses seleksi di tingkat kabupaten ia lalui dengan sungguh-sungguh. Dari proses tersebut, ia akhirnya dipercaya menjadi pembawa baki. “Tidak menyangka terpilih jadi pembawa baki pengibar bendera merah putih,” ungkapnya.

Di balik pencapaian itu, ada kebiasaan yang sudah dibangun sejak duduk di bangku SMP. Arnel ternyata telah mengenal gym sejak kelas IX SMPN 1 Kencong. Bukan sekadar untuk mengikuti tren, latihan tersebut malah menjadi bagian dari rutinitasnya menjaga kebugaran.

Baca Juga: Bikin Alun-Alun Jember Meriah! Ratusan Siswa SMP Dan SMA Siap Tampil Di Upacara HUT Ke-81 RI

Latihan yang paling sering dilakukan adalah penguatan kaki atau leg day. Baginya, kekuatan kaki menjadi salah satu modal penting karena Paskibraka menuntut ketahanan fisik sekaligus kemampuan menjaga gerakan tetap presisi. “Kalau ke gym seminggu kadang dua kali, tiga kali. Sudah rutin dilakukan sejak kelas IX SMP,” tuturnya.

Rutinitas itu dilakukan di sela kesibukan sekolah. Biasanya pada sore hingga malam hari, Arnel menghabiskan waktu sekitar satu hingga dua jam untuk berlatih. Pada awalnya, ia sempat didampingi personal trainer (PT). Setelah merasa cukup memahami pola latihan, ia mulai berlatih secara mandiri.

Bukan hanya gym. Ia juga terbiasa berlari. Ketika memiliki waktu luang, terutama saat akhir pekan, ia menyempatkan diri melakukan olahraga lari. Ia bahkan beberapa kali mengikuti kegiatan lari yang digelar di Jember. Kebiasaan itu pun jadi bekal ketika mengikuti pemusatan latihan Paskibraka.

Perjalanan dari Kencong menuju lokasi latihan pun harus ditempuh pulang-pergi dengan sepeda motor. Berangkat sejak pagi dan kembali setelah latihan selesai menjadi rutinitas yang harus dijalani. Jarak yang cukup jauh ternyata tidak membuat semangatnya surut. Justru dari perjalanan itulah kedisiplinan ditempa. Sebab menjadi Paskibraka bukan hanya soal kemampuan fisik, melainkan juga kesanggupan menjaga komitmen ketika tubuh mulai lelah.

Terlebih ketika dipercaya menjadi pembawa baki. Posisi tersebut membuat perhatian semakin besar. Ia sadar bahwa dirinya harus mampu menjaga fokus sejak persiapan hingga prosesi pengibaran selesai.

Putri bungsu pasangan Refli Rampangilai dan Rahmawati itu pun tidak menyiapkan diri hanya dengan latihan fisik. Ada satu hal lain yang menurutnya tidak kalah penting: kepercayaan diri. “Fokus sih yang utama. Terus percaya diri juga penting,” katanya.

Namun, ada hal lain yang ia pelajari selama menjalani gemblengan. Menjadi Paskibraka berarti harus siap menerima koreksi. Setiap gerakan yang belum tepat harus diperbaiki tanpa merasa tersinggung.

Baca Juga: Rayakan HUT RI, Warga Perumahan Milenia Jember Nobar Seni Merayu Tuhan di Bioskop

Baginya, sikap menerima koreksi justru menjadi bagian dari proses untuk menjadi lebih baik. Ia memilih menjalani setiap arahan pelatih dengan sabar dan legawa. “Kalau dikoreksi harus bisa legowo. Tetap dijalani, sabar,” ujar perempuan yang bercita-cita menjadi pramugari tersebut.

Sikap itu pula yang mengantarkannya sampai ke titik yang sebelumnya mungkin hanya ada dalam bayangan. Dari Kencong, ia kini berdiri di tengah Alun-Alun Jember membawa baki dalam upacara kemerdekaan.

Di balik seragam putih yang dikenakannya, ada perjalanan panjang seorang pelajar yang menyiapkan diri sedikit demi sedikit. Gym yang dijalani sejak SMP, kebiasaan berlari, perjalanan pulang-pergi mengikuti latihan, hingga kegagalan di seleksi tingkat provinsi menjadi bagian dari cerita yang membentuknya.

Menjadi pembawa baki pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang berdiri paling depan. Ada proses panjang yang tidak terlihat ketika langkah itu akhirnya sampai di depan tiang bendera. “Sangat bangga bisa menjalani amanah ini. Ini menjadi pengalaman yang paling berkesan,” pungkasnya. (Kin/dwi)

Editor : Imron Hidayatullahh
upacara HUT RI Jember upacara bendera pembawa baki bendera merah putih