Kisah Inspiratif Peltu Wawan: Pernah Ditolak Paskibraka Karena Postur, Kini 13 Tahun Gembleng Pemuda Jember!

Sidkin • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 06:00 WIB
DEDIKASI: Peltu Wawan Wardoyo, pelatih Paskibraka Jember saat melatih pasukan, kemarin (16/8). (SIDKIN ALI/RADAR JEMBER)
DEDIKASI: Peltu Wawan Wardoyo, pelatih Paskibraka Jember saat melatih pasukan, kemarin (16/8). (SIDKIN ALI/RADAR JEMBER)

Radar Jember - Peltu Wawan Wardoyo tak pernah menyangka, kegagalannya menjadi Paskibraka saat SMA justru membawanya menjadi pelatih pasukan pengibar bendera. Belasan tahun berlalu, amanah itu masih melekat di pundaknya.

Di bawah terik matahari, gerak barisan Paskibraka Jember tetap dalam irama yang sama. Langkah demi langkah, ayunan tangan, hingga gerakan pengibaran dan penurunan bendera terus dimatangkan.

Dari balik barisan itu, Wawan mengawasi dengan teliti. Sesekali ia memberi aba-aba, membetulkan gerakan, atau sekadar mendekat untuk memastikan anak-anak didiknya tetap fokus.

Baca Juga: Bebas Macet 2029! Gus Fawait Temui BBPJN Kejar Proyek Flyover Mangli hingga Penuntasan JLS Jember

Tahun ini menjadi salah satu tantangan tersendiri bagi Wawan. Sejak seleksi dimulai pada Februari, ia ikut mengawal proses pembentukan 73 anggota Paskibraka Jember hingga memasuki pemusatan latihan dan karantina.

Menurutnya, kondisi fisik dan mental peserta tahun ini membuat pola gemblengan harus lebih tegas. “Tahun ini tantangannya lebih berat. Fisik dan mentalnya tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, sehingga harus lebih disiplin dan ketat,” katanya saat ditemui beberapa hari lalu di Alun-Alun Jember.

Namun, menjadi pelatih baginya bukan semata-mata soal ketegasan. Di balik seragam dan sikap disiplin, Wawan memahami bahwa anak-anak tersebut membutuhkan sosok yang mampu mengayomi.

Ia menempatkan diri bukan hanya sebagai pelatih, tetapi juga seperti seorang bapak yang harus mampu merangkul ketika anak didiknya menghadapi tekanan.

Perjalanan Wawan menuju posisi tersebut juga tidak lahir dari jalan yang mudah dan instan. Lahir di Sidoarjo, tahun 1977, ia mengaku dulu menjadi salah satu siswa dengan postur tubuh paling pendek di kelas. Tingginya sekitar 162 sentimeter.

Baca Juga: Bukan Cuma Tindakan Medis! Dosen Unmuh Jember Beberkan Pentingnya Spiritual Care bagi Pasien Kritis

Saat SMA, ia bahkan tidak lolos seleksi Paskibraka. Namun, keterbatasan itu tidak menghentikan langkahnya. Setelah menempuh pendidikan Secaba BK 1996-1997, ia bergabung dengan TNI AD dan mendapat tugas pertama di Yonif 527 Lumajang.

Kariernya kemudian membawanya ke Jember. Sejak 1 Januari 2008, Wawan bertugas di Kodim 0827 Jember dan kini menjadi Pelatih Batiops. Sebelum dipercaya menangani Paskibraka Jember, ia juga pernah melatih pasukan pengibar bendera di Lumajang.

Pengalaman itulah yang kemudian membuatnya dipercaya menjadi bagian dari pembentukan Paskibraka Jember hingga bertahan selama 13 tahun.

Selama bertahun-tahun mendampingi Paskibraka Jember, ada satu momen yang masih lekat dalam ingatannya. Pada 2024, saat proses pengibaran, bendera sempat terselip. Situasi itu bisa saja mengganggu jalannya upacara.

Namun, anggota Paskibraka Jember mampu merespons dengan cepat melalui gerakan tambahan hingga bendera berhasil dibentangkan. “Saat itu memang menegangkan, tetapi mereka bisa cepat mengambil langkah dan pengibaran tetap berhasil,” kenangnya.

Bagi Wawan, momen paling mendebarkan selalu datang ketika bendera mulai ditarik ke atas tiang. Bukan karena gerakan pasukan semata, melainkan karena ada satu titik yang sangat menentukan. Yakni ketika bendera harus benar-benar terbentang dan pengibar menyatakan kesiapan.

“Kalau bendera belum membentang sempurna dan belum terdengar ‘bendera siap’, rasanya deg-degan,” tuturnya.

Baca Juga: Gus Fawait Janji Pertumbuhan Ekonomi Jember Tak Cuma Dinikmati Segelintir Orang, APBD Buat Rakyat!

Perasaan serupa kembali muncul ketika sore tiba dan tugas penurunan bendera dimulai. Ketegangan baru benar-benar reda setelah Sang Merah Putih berhasil diturunkan dan dilipat dengan sempurna.

“Begitu mendengar ‘bendera siap’, langsung plong. Saat penurunan juga begitu, setelah bendera berhasil dilipat, baru rasanya lega,” kata bapak empat anak tersebut.

Kini, setelah proses panjang sejak Februari hingga masa karantina menjelang 17 Agustus, Wawan kembali berdiri di belakang pasukannya. Ia tahu, tugasnya bukan hanya membentuk barisan yang rapi, tetapi juga menanamkan keberanian, tanggung jawab, kekompakan, dan rasa hormat kepada Merah Putih.

Tiga belas tahun bukan waktu yang singkat. Itu adalah perjalanan panjang yang dipenuhi tantangan, kesabaran, dan kedisiplinan. Ia berharap, para pengibar kali ini sungguh-sungguh menjalankan tugasnya.

“Saya berharap mereka bisa menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab dan memberikan yang terbaik untuk Jember,” pungkasnya. (kin/dwi)

Editor : Imron Hidayatullahh
Jember alun-alun Jember Secaba TNI Paskibraka 17 agustus