Radar Jember - Sebagai pengasuh PP Al-Falah Kencong, KH Maimun Thoha punya cara tersendiri menjaga kesehatannya di usia 63 tahun.
Ia menekuni beragam karya seni, dari lukisan hingga kaligrafi, dengan latar perjalanan yang membuat aktivitas berkarya punya makna lebih dari sekadar hobi.
Di hadapan kanvas, KH Maimun Thoha tidak sekadar menuangkan warna. Sapuan kuasnya menjadi bagian dari perjalanan untuk mengasah kembali pikiran setelah melewati masa sulit.
Baca Juga: Semarak HUT ke-81 RI, Sejumlah KA Daop 9 Jember Dapat Diskon 17 Persen, Promo Khusus
Pengasuh PP Al-Falah Kencong, Jember, itu menemukan bahwa melukis bisa menjadi ruang untuk berkarya sekaligus melatih kembali konsentrasi.
Usianya kini 63 tahun, Di tengah aktivitas sebagai pengasuh pesantren dan ayah tujuh anak serta kakek empat cucu, dunia seni tetap memiliki tempat tersendiri.
Kegemarannya melukis sebenarnya sudah muncul sejak masih duduk di bangku SMA. Hanya saja, ketika itu aktivitas tersebut belum dijalani secara serius.
“Kalau melukis tapi tidak begitu serius, artinya tidak dijadikan profesi, itu sudah sejak masih SMA,” kata Maimun.
Sekitar setahun terakhir, intensitasnya mulai berubah. Ada latar belakang yang membuatnya lebih serius menekuni kegiatan tersebut.
Baca Juga: Akselerasikan Ekosistem Halal, KPwBI Jember Gelar RTF SAMARA 2026 dengan Pemkab Situbondo
Maimun sempat mengalami sakit parah akibat diabetes akut dengan HbA1c mencapai 14 persen, alias menunjukkan kondisi diabetes yang sangat tinggi dan tidak terkontrol dalam 2 hingga 3 bulan terakhir.
Kondisi itu kemudian diikuti demensia vaskular yang membuat kemampuan mengingat dan konsentrasinya ikut terganggu. Melukis akhirnya menjadi salah satu cara untuk kembali melatih otak.
Bukan hanya menghasilkan karya, proses di depan kanvas menuntut konsentrasi, ketelitian dan kesabaran. Selain melukis, dia juga menggunakan permainan catur sebagai bagian dari aktivitas untuk menjaga dan melatih kemampuan berpikir.
“Untuk memulihkan kembali, saya melatih otak. Kadang dengan catur, kadang melukis,” ungkapnya.
Dari proses itulah, aktivitas melukis yang semula hanya menjadi kegemaran perlahan berkembang. Karya-karyanya mulai dibawa ke sejumlah pameran, tercatat telah mengikuti pameran di Surabaya, Banyuwangi, Bondowoso, Kencong dan Jember.
Ruang kreativitasnya pun tidak berhenti pada satu jenis karya. Lukisan dengan berbagai aliran dan kaligrafi menjadi bagian dari karyanya. Seni tersebut sekaligus menjadi medium untuk menyampaikan pesan keagamaan.
Menurutnya, dakwah tidak selalu harus disampaikan melalui kata-kata, tetapi juga dapat hadir melalui karya seni yang memiliki pesan.
“Kalau melalui seni, terutama kaligrafi, pesan juga bisa disampaikan. Jadi seni dan dakwah itu bisa berjalan bersama,” ujarnya.
Karya lintas media yang dibuatnya kini bahkan diajukan untuk mendapatkan penghargaan Original Rekor Indonesia (ORI) kategori lintas media.
Selain lukisan dan kaligrafi, karya yang diajukan mencakup novel, buku kesehatan, penciptaan lagu, seni patung hingga craft seperti songkok rajut, tas benang, dompet manik-manik dan kaligrafi strimin.
Pengajuan ke ORI disebut telah disetujui dan tinggal menunggu surat resmi, sedangkan pengajuan ke MURI masih dalam proses. Bagi KH Maimun Thoha, perjalanan berkesenian tersebut bukan semata soal mengejar pengakuan.
Ada proses personal yang jauh lebih penting di balik setiap karya. Kanvas menjadi tempat menuangkan kreativitas sekaligus ruang untuk terus menjaga pikiran tetap aktif. (dhi/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh