Radar Jember – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember mencatat tujuh kecamatan terdampak bencana kekeringan.
Dengan sekitar 564 kepala keluarga (KK) mengalami kesulitan mendapatkan air bersih akibat menurunnya debit sumber air.
Sebaran wilayah terdampak mencakup kawasan utara, timur, selatan, hingga wilayah perkotaan.
Wilayah terdampak antara lain Dusun Bunder, Desa Sumberpinang, Kecamatan Pakusari, dengan 125 KK; Desa Sumberjeruk, Kecamatan Kalisat, sebanyak 77 KK; Dusun Baban Timur, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, 85 KK; serta Dusun Dukuh, Desa Banjarsari, Kecamatan Bangsalsari, 75 KK.
Kekeringan juga melanda Dusun Sumbertengah, Desa Panduman, Kecamatan Jelbuk, yang berdampak pada sekitar 102 KK, serta Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari, dengan 50 KK terdampak.
Selain itu, di Desa Kaliwining, Kecamatan Rambipuji terdapat 50 KK.
Penanganan kekeringan telah dilakukan sejak kondisi mulai muncul pada awal Juli.
Di Sumberpinang, misalnya, BPBD tercatat telah 20 kali menyalurkan bantuan air bersih kepada warga. Distribusi juga dilakukan secara berkala di Sumberjeruk, Mulyorejo, Banjarsari, Panduman, dan Antirogo dengan menyesuaikan perkembangan kondisi di masing-masing wilayah.
Namun, meluasnya laporan baru menunjukkan ancaman kekeringan masih berpotensi bertambah. Terbaru, laporan datang dari Desa Kaliwining, Kecamatan Rambipuji.
Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD yang melakukan asesmen menemukan debit sumur warga mulai menyusut. Kualitas air juga menurun, ditandai dengan kondisi air yang keruh, berwarna kuning, dan berbau.
“Hari ini (Rabu, Red), kami mendapatkan laporan bahwa di Desa Kaliwining juga mengalami kekeringan. Kami tugaskan TRC untuk mengasesmen dan terbukti memang di lapangan bahwa sumur-sumur warga sudah debit airnya kecil, kuning, dan bau,” kata Edy Budi Susilo, Kepala BPBD Jember, Rabu (12/8).
Untuk mengantisipasi kondisi memburuk di Kaliwining, BPBD menyiapkan dua tandon air yang akan diisi secara berkala setiap dua hari. Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan bertambahnya wilayah yang mengalami krisis air bersih.
BPBD juga terus memantau daerah-daerah yang menunjukkan tanda penurunan ketersediaan air. Personel, tandon, serta armada pendukung disiapkan untuk mempercepat respons apabila kembali muncul laporan dari masyarakat.
Potensi kekeringan yang berlangsung lebih lama menjadi perhatian karena puncak musim kemarau belum sepenuhnya terlewati. Edy menyebut, berdasarkan prakiraan BMKG, Agustus diperkirakan menjadi periode puncak musim kemarau, sementara dampaknya masih berpotensi terasa hingga September.
“Kami siap siaga. Kami siapkan sumber-sumber air yang sudah diasesmen. Kemudian tandon, tangki, dan tentu saja petugas-petugas kami siap untuk terus memasok air sampai nanti tidak dibutuhkan lagi,” pungkasnya.
Baca Juga: Usai Apel Langsung Digeledah! Sipropam Mendadak Periksa HP Anggota Polres Jember, Ada Apa?
Upaya pemenuhan kebutuhan air bersih di Jember juga melibatkan sejumlah pihak lain. Selain BPBD, distribusi bantuan dilakukan oleh Palang Merah Indonesia (PMI), Perumda Tirta Pandalungan atau PDAM Jember, serta Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (DPRKPLH) Jember. (kin/dwi)
KEKERINGAN JEMBER BELUM USA
Musim kemarau memasuki periode puncak. Krisis air bersih berpotensi meluas jika hujan belum kembali merata.
802 KK TERDAMPAK
7 kecamatan di Jember tercatat mengalami kesulitan air bersih hingga
12 Agustus 2026.
• Pakusari — 125 KK
• Kalisat — 77 KK
• Silo — 85 KK
• Bangsalsari — 75 KK
• Jelbuk — 102 KK
• Sumbersari — 50 KK
• Rambipuji — 50 KK