Cetak Sejarah Baru! Prof Hamdanah Resmi Dikukuhkan Jadi Guru Besar Pertama UIJ, Bawa Isu AI Dan Gender

M Adhi Surya • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 06:00 WIB
GURU BESAR: Foto bersama usai penyematan selendang pengukuhan guru besar UIJ, Prof Hamdanah Utsman (tengah) bersama Ketua YPNU Jember, KH Abdullah Syamsul Arifin (kanan) beserta Rektor UIJ Dr Ahmad Halid. (M. ADHI SURYA/RADAR JEMBER)
GURU BESAR: Foto bersama usai penyematan selendang pengukuhan guru besar UIJ, Prof Hamdanah Utsman (tengah) bersama Ketua YPNU Jember, KH Abdullah Syamsul Arifin (kanan) beserta Rektor UIJ Dr Ahmad Halid. (M. ADHI SURYA/RADAR JEMBER)

Radar Jember - Ruang akademik Universitas Islam Jember (UIJ) mencatat momentum penting, kemarin (12/8). Untuk kali pertama, kampus tersebut mengukuhkan guru besar. Adalah Prof Dr Hj Hamdanah Utsman yang resmi menyandang jabatan profesor di bidang Manajemen Pendidikan Islam.

Pengukuhan yang berlangsung di Hall Convention New Sari Utama Jember itu bukan sekadar seremoni akademik.

Di hadapan civitas academica dan tamu undangan, Hamdanah membawa isu yang dekat dengan denyut pendidikan hari ini: masa depan pesantren, keadilan gender, hingga kecerdasan artifisial (AI).

Baca Juga: Bikin Mewek! Bupati Jember Temukan Lansia Sebatang Kara Berjuang Sendiri Saat Tinjau Layanan Homecare

Dalam orasi ilmiahnya, Hamdanah menyoroti bagaimana pendidikan Islam menghadapi perubahan zaman yang bergerak semakin cepat. Teknologi berkembang, kebijakan berganti, sementara ekspektasi masyarakat terhadap lembaga pendidikan juga terus berubah.

Pendidikan Islam, menurut dia, tidak bisa berhenti pada pola yang sudah ada. Rekonstruksi kelembagaan menjadi keniscayaan agar pendidikan tetap mampu melahirkan generasi yang berkarakter, tetapi pada saat yang sama tidak gagap menghadapi perubahan.

“Pendidikan memiliki arti yang sangat penting bagi masa depan. Pendidikan bisa berfungsi sebagai sarana adaptasi dan mengantarkan manusia menjadi orang-orang yang berkarakter sesuai dengan Al-Qur’an dan hadis,” ujarnya.

Namun, rekonstruksi tersebut bukan berarti menyeragamkan semua lembaga pendidikan Islam. Pesantren, madrasah, dan sekolah umum memiliki akar sejarah, karakter, kurikulum, serta orientasi yang berbeda.

Baca Juga: Bikin Bangga Jember! Atlet PTM Anugerah Kencong Sukses Bawa Pulang 7 Medali Kejurprov Tenis Meja Jatim

Karena itu, pola pengelolaan yang berhasil di sebuah pesantren belum tentu cocok ketika diterapkan mentah-mentah di lembaga pendidikan lainnya. Setiap lembaga membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan masing-masing.

Di tengah pembahasan mengenai rekonstruksi pendidikan Islam, Hamdanah juga memberi ruang cukup besar pada isu keadilan gender.

Menurut dia, kesempatan untuk berprestasi dan berkhidmat di lembaga pendidikan Islam semestinya tidak ditentukan berdasarkan jenis kelamin. Kapasitas, ilmu, ketakwaan, dan kemampuan seseorang harus menjadi ukuran utama.

Perempuan di lingkungan pesantren, lanjut Hamdanah, memiliki posisi strategis. Bukan hanya sebagai pendamping, tetapi juga dapat mengambil peran sebagai edukator, penggerak peradaban, fasilitator, hingga konsultan psikologis.

Gagasan tersebut menjadi penting karena wajah pendidikan Islam ke depan membutuhkan kolaborasi seluruh sumber daya manusia, baik laki-laki maupun perempuan.

Penggunaan AI Harus Berpijak pada Nilai Islam

Tantangan lain muncul dari perkembangan AI. Teknologi ini menawarkan banyak kemudahan. Mulai membantu proses pembelajaran, mengelola informasi, hingga mendukung evaluasi pendidikan.

Tetapi bagi Hamdanah, kemudahan tersebut tidak boleh membuat lembaga pendidikan Islam kehilangan pijakan.

Baca Juga: DPRD Jember Pastikan APBD 2027 Pro-Rakyat! Rencana Utang 786 Miliar Masih Dikaji dan Bakal Dibahas Terbuka

Ada persoalan yang harus diperhatikan secara bersamaan, mulai dari kesenjangan akses teknologi hingga kesiapan sumber daya manusia. Lembaga pendidikan yang tidak menyiapkan diri berisiko tertinggal. Sebaliknya, penerapan AI tanpa fondasi nilai juga dapat membawa persoalan baru.

“Penggunaan AI tidak seharusnya hanya dinilai dari aspek efisiensi dalam pembelajaran dan pengelolaan informasi, tetapi harus terhubung dengan nilai-nilai profetik yang mendasari pendidikan Islam, yaitu iman, ilmu, moralitas, dan hikmah,” tegasnya.

Bagi Hamdanah, teknologi hanyalah alat. Tujuan pendidikan tetap berada di tangan manusia. Karena itu, kolaborasi manusia dan mesin harus dipandu nilai-nilai Islam agar kecanggihan teknologi tidak justru menggeser tujuan utama pendidikan.

Pengukuhan tersebut sekaligus menjadi penanda baru bagi UIJ. Kampus yang berada di Jember itu kini memiliki guru besar di bidang Manajemen Pendidikan Islam. Dari momentum tersebut, Hamdanah membawa pesan bahwa pendidikan Islam harus berani berubah, tetapi tidak boleh kehilangan akar nilai yang menjadi fondasinya. (dhi/dwi)

 

 

Editor : Imron Hidayatullahh
Jember UIJ guru besar Universitas Islam Jember