Radar Jember – Gelombang tinggi di perairan Puger membuat aktivitas nelayan semakin berisiko. Meski kondisi ombak cukup besar, sebagian nelayan tetap nekat berangkat melaut karena tuntutan ekonomi.
Salah satunya berujung insiden jukung jenis speed terbalik setelah dihantam ombak di plawangan Pancer Puger, Senin (10/8).
Jukung speed bertuliskan “Mama Gemoy” yang dinakhodai Rofiudin, 44, warga Dusun Mandaran, Desa Puger Wetan, Kecamatan Puger, dihantam ombak sekitar pukul 15.00.
Saat kejadian, Rofiudin bersama seorang anak buah kapal ABK, Ahmad Taufiq, 22, juga warga Desa Puger Wetan, baru berangkat melaut dari dermaga TPI Puger.
Sesampainya di kawasan plawangan Pancer Puger, Desa Puger Kulon, keduanya mendapati ombak besar datang dari arah depan. Rofiudin kemudian berusaha mengubah arah jukung untuk menghindari hantaman gelombang.
Namun, saat berbalik arah, jukung justru dihantam ombak dari belakang. Gelombang besar membuat jukung kehilangan keseimbangan hingga akhirnya terbalik.
Beruntung, Rofiudin dan Ahmad Taufiq berhasil menyelamatkan diri dengan berenang. Keduanya kemudian mendapat bantuan dari nelayan lain yang berada di sekitar lokasi. Jukung yang terbalik juga berhasil diselamatkan dengan bantuan nelayan.
“Dua korban nelayan yang selamat langsung dibawa pulang ke rumahnya,” kata Aiptu Agus Rianto, Ps KBO Satpolair Polres Jember di Puger.
Agus menjelaskan, kondisi gelombang di perairan Puger memang cukup besar dalam beberapa hari terakhir. Saat jukung Mama Gemoy mengalami kecelakaan, ketinggian ombak diperkirakan mencapai sekitar tiga meter.
Akibat kejadian tersebut, jukung mengalami kerusakan pada bagian katir. Meski demikian, tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.
Pihak Satpolair mengimbau nelayan agar lebih berhati-hati dan mempertimbangkan kondisi cuaca sebelum berangkat melaut.
Nelayan yang tetap beraktivitas di tengah gelombang tinggi juga diminta menggunakan alat keselamatan, terutama pelampung.
“Karena kondisi ombak masih cukup besar, kami mengimbau nelayan yang tetap berangkat melaut untuk menggunakan pelampung,” imbau Agus.
Di tengah kondisi tersebut, tidak semua nelayan memilih melaut. Sutrisno, 55, nelayan asal Dusun Gedung Guci, Desa Puger Wetan, memilih mengurungkan niatnya untuk berangkat.
Baca Juga: Karnaval Budaya Bergeser Jadi Adu Sound Horeg, DPRD Jember Siapkan Perda Ketertiban Umum
Padahal, menurutnya, ikan mulai bermunculan. “Kalau ikan memang mulai muncul, tetapi saya memilih tidak berangkat karena ketinggian ombak cukup besar,” katanya.
Pantauan Jawa Pos Radar Jember, gelombang di perairan Puger masih cukup besar. Meski demikian, sebagian nelayan tetap berangkat melaut. (jum/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh