Radar Jember – Kekeringan di Jember makin meluas. Sedikitnya lima kecamatan terdampak sejak awal Juli hingga awal Agustus 2026. Hal ini membuat ratusan keluarga kesulitan mendapatkan pasokan air bersih.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember mencatat, 125 keluarga di Dusun Bunder, Desa Sumberpinang, Kecamatan Pakusari, terdampak kekeringan.
Di Kecamatan Kalisat, sebanyak 325 keluarga di Dusun Kidul dan Dusun Karangpring, Desa Sumberjeruk, mengalami kondisi serupa. Sementara di Silo, 85 keluarga di Dusun Baban Timur, Desa Mulyorejo, juga kesulitan memperoleh air bersih.
Dampak kekeringan juga merambah wilayah barat dan utara Jember. Sebanyak 75 keluarga di Dusun Dukuh, Desa Banjarsari, Kecamatan Bangsalsari, mengalami kesulitan air. Sedangkan di Dusun Sumbertengah, Desa Panduman, Kecamatan Jelbuk, tercatat 102 keluarga terdampak.
Namun, BPBD masih mendalami apakah persoalan tersebut dipicu mengeringnya sumber air atau kerusakan jaringan pipa.
“Sementara ini tercatat 102 kepala keluarga, tapi masih kami perdalam apakah persoalannya murni karena sumber air di sumur dan sungai yang mulai kering, atau jaringan pipanisasi air minumnya yang rusak,” kata Edi Budi Susilo, Kepala BPBD Jember, belum lama ini.
Gangguan air bersih tidak seluruhnya disebabkan kekeringan. Di Desa Plerean, Kecamatan Sumberjambe, misalnya, sumur warga masih memiliki debit air yang bagus. Namun, kebocoran jaringan distribusi membuat pasokan tidak merata.
“Warga mengadu kekurangan air. Ternyata sumur warga debit airnya masih bagus. Tapi pipanisasinya kurang bagus, sehingga muncul kebocoran dan distribusi air tak merata,” ujar Edi.
Baca Juga: Karnaval Budaya Bergeser Jadi Adu Sound Horeg, DPRD Jember Siapkan Perda Ketertiban Umum
Dari 31 kecamatan di Jember, lima wilayah masuk kategori zona merah kekeringan, yakni Pakusari, Kalisat, Tempurejo, Sumbersari, dan Patrang. Bahkan di kawasan perkotaan seperti Gebang dan Bintoro, terdapat sejumlah wilayah yang dikenal rawan mengalami kekeringan berulang.
“Ada kelurahan dan lingkungan yang selalu kering, seperti di Gebang dan Bintoro,” ungkapnya.
Sementara Bangsalsari dan Jelbuk masuk zona hijau, tetapi sebagian warga tetap terdampak akibat gangguan jaringan pipa.
Rambipuji yang sebelumnya zona merah kini relatif aman setelah Perumdam Tirta Pandalungan memasang jaringan baru. Kendati demikian, BPBD tetap bersiaga karena BMKG memprediksi puncak musim kemarau berlangsung pada Agustus.
“Kami tetap bersiaga untuk membantu warga. Sekiranya sampai Agustus dan September masih ada kekeringan, kami akan bantu warga,” pungkas Edi. (c2/kin)
Editor : Imron Hidayatullahh